Raket Nyamuk

Berhubung baru beli raket nyamuk, semalem jadi semangat banget berburu nyamuk.

Pletak! Pletek! bunyi nyamuk mati kena setrum. Puas banget dengernya.

Sampai kemudian saya mendengar bunyi yang serupa di rumah depan. Saya melihat ada seorang bapak2 dengan kaos singlet melakukan hal yang sama.

Seketika itu saya berhenti dan berusaha menerima kenyataan.

I am father father.

Advertisements

Menuju California

Dulu bertaun2 lalu saya mungkin salah satu orang yang cuma bisa melongo, heboh sendiri, menghayal ada disana dan menyimpan mimpi untuk bisa dateng ke NAMM Show di California.

“Ah, Amerika jek. Tiket mahal, visa susah” batin saya tiap ngeliat post soap NAMM Show tiap tahun.

Saya simpan harapan itu dalam2 sambil terus berdoa di sudut hati yang paling dalam, suatu hari mungkin saya akan kesana.

***

Saya seorang gear addict. Nggak ada hari yang saya lewati tanpa melihat info terbaru soal gitar, effects pedals dan segala hal yang berhubungan soal itu. Lewat kecintaan itu akhirnya saya membuat blog, kemudian website dan terakhir Youtube channel soal gear dan review alat musik dengan dibantu oleh Davian dan Adam.

Waktu demi waktu berlalu, Alhamdulillah Youtube channel saya yang namanya Rig Rig Rig mendapat respons positif baik dari negeri sendiri maupun negeri seberang. Dengan motivasi positif saya jalanin aja ini semua tanpa beban dan ekspektasi yang tinggi2. Selama bermanfaat, terusin aja. Sederhana.

Lalu tiba2.

Saya ingat hari itu tanggal 11 Maret 2016, saya  lagi nyetir di Antasari. Saat itu siang hari saya dapet kabar via Whatsapp yang bertuliskan

“Mas, kalo taun depan ikut ke NAMM mau nggak?”

Saya shocked, melipir dan tarik nafas. Berangkat nih?

Saya telfon istri saya dan minta restu lalu ngabarin ke Barasuara. Gila sih, ke NAMM. Kesampean.

Hidup nggak pernah bisa ditebak. Yang namanya berkah, rejeki itu bisa dateng dari segala penjuru lewat sosok yang nggak kita sangka. Kali ini sosok itu bernama Henry Wijaya, founder dan CEO dari GFI System. Sebuah produk alat musik dari Indonesia. I can’t thank you enough mas Henry. God bless you.

Besok subuh kami semua berangkat ke Anaheim, California untuk hadir sebagai exhibitor di NAMM di bawah bendera GFI System. Di sana kami akan membuka booth untuk mendemonstrasikan effects pedals GFI System. Kami nggak tau apa yang akan terjadi di sana, so let’s rock n roll.

Dalam trip ini kami juga didukung oleh teman2 yang luar biasa dari BOXX Case, Radix Guitars dan FM Pedals. Tenkyu banget untuk semua kebaikan kalian.

Oiya, kami juga nggak sendiri. Dari Jakarta ada teman2 yang berangkat ke NAMM juga. Ada Rama Nidji, Mas Gooswyn, Mas Djuned dan Pak Arifin. Di sana kami akan disambut dengan bunga2 dan tarian dari selir2 Mas EkoFunke hahaha.

It’ll be an awesome trip! ūüėÄ

Tapi. Akan kangen istri dan anak banget sih, huft. Untungnya keluarga mendukung dan ikut sibuk ngebantuin saya packing. Mereka juga merestui trip saya, jadi Insya Allah bermanfaat.

See u soon California!

Video tentang persiapan saya

Belajar Dari Klakson

‚ÄčKemarin melewati tol JORR dan ngeliat beberapa rombongan ‘telolet’ heboh di oinggir jalan. Seneng liat mereka seneng dengan kehendak yang sederhana, bersama2. Sementara kita masih sering memaksakan apa yg benar lewat standar pribadi atau kolektif.

Mungkin kita bisa belajar dari mereka, bahwa kebersamaan dan kebahagiaan nggak harus selalu didasari oleh kepercayaan, pandangan politik dan suku bangsa. Namun lewat klakson bis salah satunya.

Baik.

‚ÄčKadang karma baik dan berkah itu datang dan terjadi tanpa kita sadari atau bahkan alpa untuk disyukuri. Hari ini banyak sekali kejadian baik yang saya alami dan ketika dianalisa, wah kok bisa begini ya. Ajaib.

Mungkin kita hanya perlu mengingat lebih dalam dan melihat lewat sudut yang paling rindang. Karena dalam tekanan keseharian, kita sering lupa untuk ‘merasa’ dan lalai untuk berbahagia. Rutinitas pulang, ganti baju, cek HP, tidur sering membuat kita terlena. Mungkin bukan terlena juga, apa ya? Pasrah? Bisa jadi.

Yang jelas, berbuat baik akan memberikan karma baik. Nggak susah kok, jangan liat besar kecilnya. Toh kita nggak pernah tau jugam Karena kebaikan itu cuma akan berarti ketika dimulai dan dilakukan bukan hanya dipendam dalam pikiran.

Apakah Saya Seorang Gitaris?

Saat menulis ini saya sedang iseng berpikir. Tentang musik, musikalitas dan sosok musisi di dalam diri saya. Satu hal yang saya sangat syukuri adalah pencapaian Barasuara saat ini.

This is all I ever wanted.

Berjuang bersama lewat musik menuju sesuatu yang kami impikan.

Di setiap panggung saat kami berenam menghajar tata suara, dalam setiap perjalanan menuju ke berbagai kota, bertemu dengan pendengar kami tercinta. Ini adalah sebuah barokah yang sangat layak untuk disyukuri.

IMG_7408

Ok, cukup soal Barasuara.

Sekarang, apa sih yang membuat saya ingin bermain gitar? Pertanyaan dengan jawaban kilas balik yang merepotkan. Hmm.. Apa ya?

Base Jam?

Bon Jovi?

Nirvana?

Java Jive?

Guns n Roses?

Bukan juga.

Saya ingat ketika pertama kali belajar gitar, saya sedang menggandrungi musik Ska. Dan satu hal yang masih lekat dalam memori adalah percakapan saya dengan seorang tetangga bernama Handri yang kemudian menjadi guru gitar saya saat itu. Saya masih SMP kelas 2.

“Ndri, kalo gitar senarnya 6 ya? Yang senar 4-5-6 itu bisa diganti sama senar 1-2-3 ngga?”

“Loh nanti nadanya gimana Ga?”

“Nggak tau, tapi kayaknya gw akan main Ska seumur hidup dan Ska kebanyakan cuma pake 3 senar awal kan. Jadi gw pengennya urutan senar gitar gw 1-2-3 dan 1-2-3. Biar enteng gw mainnya.”

Ujung-ujungnya sih tetep pake senar ukuran normal. Karena eksperimen tersebut berujung gagal maning gitarnya jadi nggak bisa distem hahaha.

Tapi yang lucu dan jadi point penting adalah, pemikiran ini muncul bahkan saat saya belum bisa main gitar.

Baiklah, saat ini saya sudah menemukan jawabannya. Tentang kenapa saya bermain gitar. Ternyata semua ini bermuara ke satu hal : The Sense of Adventure.

Bukan sosok dan bukan musik. Tapi intuisi saya saat itu membuat saya melihat bahwa dengan gitar saya bisa melakukan banyak hal. Bisa membuat berbagai macam percobaan. Bisa mendapat beragam pengalaman. Dan sebuah karunia juga bahwa saat itu saya memang anak kecil yang sangat menyukai musik. Namun motivasi utama saya mengangkat gitar saat itu adalah untuk bertualang dan mencoba hal yang tidak terpikirkan sebelumnya.

Proses belajar gitar adalah hal yang membosankan. Beberapa kali saya frustrasi dan tidak cukup sabar untuk melakukan apa yang saya mau. Idenya ada namun tangan berkata lain. Dengan skill yang jauh dari baik saya berusaha melakukan hal yang muluk-muluk. Karena itu saya sempat kesal sekali dengan gitar. Namun dengan kesabaran guru serta tetangga saya yang lain akhirnya perlahan mulai bisa main gitar dengan cukup baik untuk ukuran anak SMP saat itu. Tolak ukurnya : udah bisa Sweet Child O Mine.

Saya ingat ketika dibelikan efek gitar Digitech Rp50 oleh ayah saya. Ternyata suara gitar bisa berubah menjadi seperti ini! Gila. Saya mengenal delay, distortion, overdrive, dll lewat benda mungil itu. Dan saya kesal sekali ketika tau bahwa Flanger dan Tremolo tidak bisa digabung. Dulu ketika jaman tape deck, saya pernah merekam berbagai sound efek dalam sebuah kaset. Salah satunya saya kasih judul :

Yang suaranya mirip T Rex.

Dan saat itu juga entah bagaimana saya menemukan ide multi track/overdub recording via tape deck. Jadi saya rekam sebuah part di satu kaset lalu kaset yang sudah terekam itu saya playback bersama dengan kaset kosong baru yang akan diisi part gitar berikutnya. Maksimal sampai 3 track karena setelah itu kualitas soundnya jadi jelek dan menurun.

The Sense of Adventure

Lagu yang direkam saat itu adalah part interlude Life is Free dari Arkarna. Ini jauh sebelum mereka pindah ke Indonesia dan menyanyikan Gebyar-Gebyar. Andaikan hasil rekaman itu masih ada. Sial! Hilang entah kemana.

Di proses ini saya mencoba banyak hal seperti memulai sebuah band dan jadi vokalis karena main gitarnya masih jelek dan banyak teman yang lebih jago, lalu melihat proses rekaman dan manggung di pensi sekolah (tetep jadi vokalis karena belom jago) bawain Limp Bizkit, Rancid, Kid Rock dan Blink 182.

Fast forward ke hari ini.

Gitar adalah teman terbaik saya. Lewat gitar saya bisa berkarya dan melakukan banyak sekali hal. Bisa dibilang hidup saya saat ini ya memang karena modal bermain gitar. Namun ketika ditanya apakah saya seorang gitaris, saya jadi berpikir. Di kepala saya gitaris itu sosoknya seperti Joe Satriani, Eric Johnson, Slash, SRV, dll. Buat saya, lebih menarik melihat orang seperti Jack White, Jonny Greenwood, Josh Homme, Omar Rodriguez dan Dan Auerbach. Karena mereka di mata saya adalah seorang composer yang kebetulan membuat komposisi musik lewat gitar. Nama-nama di atas memiliki karya yang sangat luas. Banyak dari mereka membuat karya dengan eksplorasi musik yang sangat berlawanan dari apa yang sudah mereka buat. Mereka tidak tinggal diam di zona nyaman.

Jack White berangkat dari delta blues garage rock menuju ke country/americana sambil mendirikan label raksasa bernama Third Man Records, Josh Homme dari Kyuss menuju ke QOTSA dan TCV, Dan Auerbach dari delta blues kotor menuju ke hip hop dan yang paling gila adalah apa yang Jonny Greenwood lakukan dalam setiap karyanya, salah satu yang mencengangkan adalah The Rajasthan Express bersama Shye Ben Tzur dimana Ia membuat komposisi musik India, psychedelic dan progresif.

Dan hal yang paling menggelitik dari Omar Rodriguez adalah ketika Ia membuat statement bahwa betapa Ia membenci gitar namun terpaksa untuk memainkannya karena itu adalah satu satunya instrumen dimana Ia bisa menyalurkan seluruh idenya. Maka dari itu dalam tiap album yang Ia buat Omar berusaha membuat gitar tidak terdengar seperti gitar.

Di pikiran saya, mereka semua memiliki satu hal yang sama : The Sense of Adventure.

Ketika bermain gitar saya tidak berpikir untuk menjadi mini John Mayer, mini SRV atau mini Jack White. Tidak menarik buat saya mengulang apa yang sudah mereka lakukan. Jelas bahwa banyak sekali elemen dalam tiap karya mereka yang bisa saya ambil dan pelajari. Namun untuk menjadi mini Radiohead atau mini Arctic Monkeys for instance, itu bukan alasan kenapa saya membuat musik.

Saya ingin terdengar seperti diri saya sendiri.

Lalu pertanyaan dari judul tulisan ini : Apakah saya seorang gitaris?

Mungkin bilang saja begini, saya adalah musisi. Gitar adalah perkakas saya untuk berkarya. Begitu juga dengan drum, bass, synthesizers, flute, dsb. Ketika besok saya bisa memainkan semua alat itu tidak lantas saya disebut sebagai drummer, bassist atau keyboardist. Alat hanyalah perkakas untuk berkarya. Yang paling penting adalah karya yang dihasilkan lewat perkakas tersebut.

Sampai jumpa di petualangan berikutnya.

I.M

 

 

Sarapan?

“Mana sempat, keburu telat!”

Sebuah jargon iklan minuman gandum berenergen eh berenergi yang kerap kali kita saksikan di televisi pada era 90an.

Seberapa sering sih kita sarapan? Coba tanyakan pada diri sendiri. Bersyukurlah jika anda termasuk yang sering dan rutin melakukan sarapan sebelum beraktifitas. Bahkan ada keluarga yang cukup ekstrim soal sarapan, salah seorang teman saya dilarang keluar rumah sebelum Ia makan. Namanya Lala Karmela. Beruntunglah Lala, karena itu artinya makanan sudah siap tersaji di meja makan siap untuk disantap sebelum berangkat.

Namun, beberapa diantara kita (termasuk saya) terkadang dihadapkan pada kondisi yang kurang mendukung. Misalkan menu sarapan yang tidak tentu atau bahkan sering absen. Terlebih jika kita tinggal di luar rumah entah ngekost atau merantau. Kalau sudah begini, sarapan di luar sering menjadi pilihan atau bahkan sarapan digabung menjadi makan siang. Yang terakhir bisa menjadi kesalahan fatal. Karena dengan tidak sarapan kita akan kurang fokus, kurang energi dan bisa menjadi emosional di jalanan. Terlebih ketika ketemu motor lawan arah. Para spesies imbisil brengsek. Sebaiknya mereka segera dimusnahkan atau segera punah.

Menu sarapan juga kalo bisa yang memiliki nutrisi cukup. Roti, gandum, sayur, daging atau buah bisa jadi pilihan yang seru. Beberapa yang harus dihindari adalah santan dan sambel. Karena untuk sebagian orang keduanya bisa mengakibatkan mencrets dan perut melilit di perjalanan. Karena kebelet boker di jalan tol bukanlah ide yang bagus.

Hindari menu instan seperti Ind*mie atau nugget dan fast food. Karena walau mengenyangkan, menu ini tidak memiliki gizi yang baik. Jadi nggak terlalu menghasilkan energi dan nutrisi yang dibutuhkan.

Saran saya sih, kalo bisa sarapan. Karena pikiran yang fokus dan energi yang cukup adalah modal baik untuk memulai hari. Selamat sarapan!

Penulis adalah suami yang hidup dalam represi istri yang melarangnya makan Indomie, sering terjebak di drive thru Mcd dan penggemar sop kambing serta soto betawi. Tulisan ini dibuat untuk dirinya sendiri dan orang lain yang ingin hidup lebih sehat dan lebih hemat. Sarapan fast food mahal broh!

 

dq-menu-food_double_cheeseburger_02.png

FAKYU.

 

Musisi Harus Bangun Pagi

Tak usah pakai prolog karena saat menulis ini saya sedang duduk di dalam bilik toilet salah satu stasiun TV swasta. Jadi lebih cepat lebih baik. Eh ini prolog ya?

Kita mulai sekarang. Saya berangkat jam 1 pagi dari rumah saya di Bekasi untuk menuju studio Barasuara di Fatmawati. Pagi ini Barasuara akan melakukan live show di Indonesia Morning Show yang akan dimulai jam 6 pagi.

Pada prakteknya kami akan bermain pukul 07:30 namun persiapannya memang dimulai sejak dini hari. Kami mulai soundcheck jam 4. Kru kami sudah mulai bersiap sejak pukul 02:30. Sebuah gambaran jam kerja yang mungkin tidak manusiawi untuk sebagian orang.

image

Tak perlu saya bercerita tentang lelah dan rasa kantuk. Karena saya tidak boleh menempatkan ini sebagai keluhan atau alasan untuk performa yang cacat. Semuanya adalah bagian dari pekerjaan sebagai musisi.

Hari-hari kami sebagai musisi diwarnai oleh kehidupan dari panggung ke panggung yang sangat seru dan menyenangkan. Banyak sekali berkah yang luar biasa yang kami dapat. Namun semua hal gemerlap bukan terjadi dalam sekejap.

Ada perjalanan darat dan udara yang melelahkan, tempat singgah yang kurang berkenan, tata suara panggung yang tidak baik, panitia yang kurang kompeten, instrumen yang seketika rusak dan masih banyak lagi.

Di atas semua itu, kami harus tampil maksimal seakan hal buruk tidak pernah terjadi. Itu adalah tuntutan dan harus kami tuntaskan.

Apa yang saya dapat hari ini adalah buah perjalanan selama hampir separuh hidup saya. 15 tahun menekuni musik. Jadi memang bukan hal yang mudah untuk hidup menjadi musisi namun bukan hal yang mustahil. Semua bisa sukses jika kita cintai subjeknya.

Intinya memang tidak boleh manja dan harus tahan banting.

Sekarang saya harus segera bersiap, terimakasih sudah membaca.