Author Archives: igamassardi

About igamassardi

Catatan random bapak muda.

ULASAN ALASAN Vol.1 : COCO

COCO film yang bagus. Saya lumayan nahan air mata di beberapa adegan terakhir. Banyak pesan soal keluarga yang sederhana namun sangat dalam dan bermakna. Bagaimana mengenang orang tua dan bagaimana mereka ingin dikenang.

Dulu guru saya pernah cerita bahwa orang yang sudah meninggal akan diliputi kegelapan ketika Ia tidak lagi didoakan oleh keluarganya. Doa anak, doa orang tua, doa kerabat dan sanak saudara adalah pelita untuk mereka yang sedang berjalan di alam sana.

COCO membungkus ranah spiritual ini dengan cara yang dramatis tanpa menabur kalimat-kalimat klise yang mudah ditebak seperti yang disajikan film pendek pembukanya. Sudah lama, membosankan, corny pula.

Konflik umum yang kerap terjadi antara anak yang mendobrak tradisi keluarga, orang tua kolot yang memaksakan kehendaknya hingga kekecewaan serta pergelutan batin sarat dalam film ini. Yang saya salut, penyampaiannya begitu sederhana dan mengena. Dialog-dialognya tepat guna.

Mengenai gambar, tak perlu komentar panjang soal Pixar. Detail, warna, movement dan ekspresi tokoh semua top notch 5 bintang dari 3.

Overall film ini akan sangat berdampak untuk pribadi yang menempatkan keluarga sebagai tonggak utama. Sangat layak untuk ditonton.

Selamat menyaksikan.

Advertisements

SESUAI TAKDIR

Semalem saya ketemuan sama temen-temen nongkrong saya di Bekasi. Ada Jaki, Yai, Jamtong dan Bu Le (istrinya Jamtong) kami sudah berteman sejak SMP. Jadi memang temen dari bocah semua. Dari jaman nongkrong dan mabuk di warung sampai hari ini udah pada jadi bapak-bapak.

Kami emang suka ketemuan di sekitar Bekasi, selain karena hometown juga karena deket dari rumah. Semalam kami makan di Soto Betawi Haji Mamat. Obrolan yang terjadi seputar membahas kelucuan sesama spesies Bekasi yaitu teman kami yang lain, politik tiang listrik sampai rumah tempat hunian. Proses ngobrolnya, ada aja yang diobrolin. Faktor kenal sejak dini merupakan penentuan penting tentang basi atau tidaknya sebuah pertemuan. Dan untungnya seperti biasa, acara kumpul kami selalu penuh gelak tawa dan caci maki. Yah, sekarang pilihan katanya udah agak alusan sih dibanding jaman dulu.

Satu hal yang seru dibahas semalem adalah tentang proses gimana kami sebagai laki-laki mengeksekusi hal-hal macho seperti : maku tembok, masang ambalan, ngebor dinding sampe benerin kunci dan masang selang mesin cuci. Saya dan Jaki kebetulan membeli bor elektrik. Kayaknya udah macho banget sampe di situ. OK, selanjutnya kami bercerita tentang proses pasang memasang. Dari ngegantung cermin sampe maku tembok tetangga.

Ga ada yang salah sih sebenernya, tapi ada yang gak tepat aja. Saya pada awalnya seneng banget ngebor tembok untuk masang ambalan, Jaki juga. Tapi kemudian kami menyadari satu hal penting. Gini, ketika kami masang apapun itu paling enggak makan waktu 20-30 menit plus marah-marah dan kesel entah karena hasilnya gagal atau berhasil namun berantakan.

Kalo saya kebetulan ada asisten rumah tangga yang pulang pergi yang kebetulan suaminya adalah seorang tukang bangunan. Nah, ketika saya udah marah-marah karena gagal masang sesuatu biasanya saya kontak Mas Siam to the rescue. Hasilnya? Kalo saya masang selang mesin cuci makan waktu 30 menit plus mencak-mencak, Mas Siam dengan tenang dan penuh dengan aura Zen menyelesaikan itu semua dalam 20 menit sekali jalan tanpa banyak cingcong.

GOKIL.

Yah akhirnya saya menyadari satu hal lagi di dalam kehidupan ini. Memang sebagai kepala rumah tangga kita dituntut untuk bisa mengerjakan banyak hal menyangkut apa yang terjadi di rumah. Tapi ternyata gak semua orang diberkahi bakat dan kesabaran untuk melakukan itu semua. Kalo saya menyadari point pertama ini dan sisanya sih sebenernya bisa2 aja harusnya yaaaaaa cumaaaaaannnnnn maaaaagerrrrrrr.

Contoh ; saya punya temen namanya Dono, dia bisa benerin bemper mobil, MCB listrik sampe bikin pager rumah. Daan kalian tau pekerjaan utamanya apa? Pemain saxophone. Brengsek kan? Ada aja manusia titisan McGyver begini. Kebetulan saya diberi berkah bisa main gitar sambil nyanyi, kayaknya mau fokus di situ aja.

ALAAAASAAAAAANNNNNNNNNNNN.

Ya intinya sih gitu ya, kalo saya prefer untuk yaudah nih saya manggil orang yang emang sesuai dengan keahliannya untuk mengerjakan sesuatu. Memang kita akan ngeluarin biaya tapi hasilnya akan bagus dan sesuai ekspektasi. Dibanding saya mengeluarkan tenaga dan emosi namun hasilnya berantakan. Tapi ini kan saya yah, kalo anda tipikal yang bisa kayak si Dono wah mantep banget sih. Syukuri apa yang ada hidup adalah anugrah banget broh.

BTW saya nulis begini bukan berarti 100% anti perkakas ya. Karena selain hobi mengoleksi gitar saya juga hobi ngumpulin obeng dan bor. Yah, untuk sekedar ngerakit lemari dan meja sih bisa. Baru kemaren dipalak istri beli meja kerja sama rak, masang berdua si Kafka (adik saya) 3 jam jadi. MEMBANGGAKAN BUKAN?

Harapannya sih ya, semoga saya dikaruniai banyak kesabaran untuk belajar AH PANGGIL MAS SIAM AJA KALI YE.

BYE!

Eagles of Death Metal – Nos Amis

Nonton Eagles of Death Metal – Nos Amis. Dokumenter tentang penembakan di konser mereka di Bataclan, Paris tahun 2015 dimana 89 orang meninggal akibat serbuan teroris.
 
Cerita tentang perjuangan mental Jesse Hughes sang frontman melawan trauma pasca kejadian tersebut dan keputusan mereka berani kembali ke Paris dalam waktu 3 minggu setelahnya untuk bermain di konser U2 lalu melanjutkan menggelar konser tunggal di Paris setelahnya.
 
Jesse cerita gimana melihat penggemarnya ditembak di kepala tepat di depan matanya. Dan deskripsi pandangan mata personel band yang lain yang tak kalah mengerikan. Ini adalah pembantaian massal di gedung konser.
 
Gw gak akan bisa membayangkan betapa menyeramkannya kejadian itu. Dan apa yang sebenarnya berkecamuk di kepala mereka masing-masing setelah Bataclan. Namun Eagles of Death metal kembali dengan berani. Pembuktian yang luar biasa. Sangat luar biasa.
 
Film ini juga menceritakan tentang hangatnya persahabatan antara Jesse Hughes dan Josh Homme, sang co-creator Eagles of Death Metal yang juga teman kecil Jesse. Besarnya arti persahabatan mereka di kala terpuruk, kemudian kembali berdiri bersama.
 
Para penggemar yang selamat dari tragedi ini juga turut menuturkan kronologi di Bataclan dari sudut pandang yang beragam. Bagaimana itu mempengaruhi hidup mereka pasca trauma dan betapa besar cinta mereka terhadap Eagles of Death Metal dan begitu berartinya dukungan mereka untuk Jesse dkk yang juga sangat mencintai penggemarnya.
 
Dokumenter sarat pesan kemanusiaan ini sangat berarti untuk ditonton semua orang. Sosok-sosok yang bercerita di dalamnya tidak diposisikan sebagai musisi, rockstar atau selebriti. Tapi sebagai manusia yang ketakutan, trauma, kemudian bangkit melanjutkan hidupnya.

Kiara

Kiara : ayah ini baju gambar apa?

Sambil nunjuk t shirt gambar Sia

Gw : ini gambar penyanyi

Kiara : penyanyi apa?

Gw : penyanyi pop

Diam sejenak. Lalu sambil menyeringai..

Kiara : penyanyi e’ek!

Gw : hoooy! penyanyi pop! bukan penyanyi pup!