Legenda Menuju Ajal

Mengenai Gibson yang menuju bangkrut.

Menurut saya ini fenomena yang menarik banget. Satu dari dua buah brand gitar terbesar menuju akhir hayatnya. Banyak artikel yang melihat dari sisi bisnis dan menyorot sang CEO Henry Juzskiewicz. Tapi kalo dari kacamata sederhana saya, Gibson terjebak di zamannya.

Sebagai pembanding, kita lihat Fender atau Ibanez. Saya kaget melihat Nick Reinhart (Tera Melos) dan Mac DeMarco dalam video seri terbaru Fender, American Professional. Perusahaan sebesar ini aware terhadap para emerging artist yang sedang panas namun berada di bawah radar, the so called ‘indie artist’ yang kiprahnya relevan terhadap generasi sekarang. Fender mengikuti zaman tanpa kehilangan identitasnya.

Ibanez, menggaet Omar Rodriguez (The Mars Volta) sejak 2008. Seorang roster yang sangat mencolok di antara Herman Li, Paul Gilbert, Joe Satriani, dll. Sebuah manuver yang peka terhadap zaman dan segar untuk citra Ibanez. Pelebaran produk dari gitar virtuoso, menjadi sesuatu yang cutting edge. Terlebih sekarang mereka baru aja mengajak Tom Quayle (Youtube demo guy) sebagai salah satu endorsee dan dibuatkan signature series.

Sekali lagi, manuver yang relevan.

Kembali ke Gibson. Slash adalah orang pertama yang terlintas di kepala saya ketika menyebut Les Paul. Gitaris keren, jago, luar biasa di masanya dan masa sekarang. Tapi let’s face it. Slash adalah ikon legenda 90an. Tidak ada yang salah dengan itu. Yang salah adalah kita nggak melihat Gibson dipake oleh musisi-musisi era sekarang yang di-support langsung oleh perusahaan ini. Saya ingat betul di salah satu edisi Guitar World dalam artikel Avenged Sevenfold, sang gitaris Synester Gates berkata “They’re a bit late in the game” ketika membahas soal endorsement deal. Akhirnya Ia bekerja sama dengan Shecter dan hasilnya sukses besar. Gibson tidak menyadari hal ini.

Apakah poin saya sudah cukup jelas?

Gibson adalah salah satu gitar terbaik sepanjang masa. Nggak perlu diperdebatkan. Yang saya bahas adalah brand image, kalo kualitas produk itu cerita lain.

Inti dari tulisan ini adalah gimana sebuah brand survive dari masa ke masa. Bagaimana mereka beradaptasi dan menjadi tetap relevan di tiap generasi. Legacy tentu harus dijaga sebagai integritas produknya, tapi penting untuk disadari bahwa mengikuti trend adalah manuver yang krusial untuk kelangsungan hidup sebuah perusahaan.

Ngerti ora Son?

– I.M

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s