Monthly Archives: April 2016

Apakah Saya Seorang Gitaris?

Saat menulis ini saya sedang iseng berpikir. Tentang musik, musikalitas dan sosok musisi di dalam diri saya. Satu hal yang saya sangat syukuri adalah pencapaian Barasuara saat ini.

This is all I ever wanted.

Berjuang bersama lewat musik menuju sesuatu yang kami impikan.

Di setiap panggung saat kami berenam menghajar tata suara, dalam setiap perjalanan menuju ke berbagai kota, bertemu dengan pendengar kami tercinta. Ini adalah sebuah barokah yang sangat layak untuk disyukuri.

IMG_7408

Ok, cukup soal Barasuara.

Sekarang, apa sih yang membuat saya ingin bermain gitar? Pertanyaan dengan jawaban kilas balik yang merepotkan. Hmm.. Apa ya?

Base Jam?

Bon Jovi?

Nirvana?

Java Jive?

Guns n Roses?

Bukan juga.

Saya ingat ketika pertama kali belajar gitar, saya sedang menggandrungi musik Ska. Dan satu hal yang masih lekat dalam memori adalah percakapan saya dengan seorang tetangga bernama Handri yang kemudian menjadi guru gitar saya saat itu. Saya masih SMP kelas 2.

“Ndri, kalo gitar senarnya 6 ya? Yang senar 4-5-6 itu bisa diganti sama senar 1-2-3 ngga?”

“Loh nanti nadanya gimana Ga?”

“Nggak tau, tapi kayaknya gw akan main Ska seumur hidup dan Ska kebanyakan cuma pake 3 senar awal kan. Jadi gw pengennya urutan senar gitar gw 1-2-3 dan 1-2-3. Biar enteng gw mainnya.”

Ujung-ujungnya sih tetep pake senar ukuran normal. Karena eksperimen tersebut berujung gagal maning gitarnya jadi nggak bisa distem hahaha.

Tapi yang lucu dan jadi point penting adalah, pemikiran ini muncul bahkan saat saya belum bisa main gitar.

Baiklah, saat ini saya sudah menemukan jawabannya. Tentang kenapa saya bermain gitar. Ternyata semua ini bermuara ke satu hal : The Sense of Adventure.

Bukan sosok dan bukan musik. Tapi intuisi saya saat itu membuat saya melihat bahwa dengan gitar saya bisa melakukan banyak hal. Bisa membuat berbagai macam percobaan. Bisa mendapat beragam pengalaman. Dan sebuah karunia juga bahwa saat itu saya memang anak kecil yang sangat menyukai musik. Namun motivasi utama saya mengangkat gitar saat itu adalah untuk bertualang dan mencoba hal yang tidak terpikirkan sebelumnya.

Proses belajar gitar adalah hal yang membosankan. Beberapa kali saya frustrasi dan tidak cukup sabar untuk melakukan apa yang saya mau. Idenya ada namun tangan berkata lain. Dengan skill yang jauh dari baik saya berusaha melakukan hal yang muluk-muluk. Karena itu saya sempat kesal sekali dengan gitar. Namun dengan kesabaran guru serta tetangga saya yang lain akhirnya perlahan mulai bisa main gitar dengan cukup baik untuk ukuran anak SMP saat itu. Tolak ukurnya : udah bisa Sweet Child O Mine.

Saya ingat ketika dibelikan efek gitar Digitech Rp50 oleh ayah saya. Ternyata suara gitar bisa berubah menjadi seperti ini! Gila. Saya mengenal delay, distortion, overdrive, dll lewat benda mungil itu. Dan saya kesal sekali ketika tau bahwa Flanger dan Tremolo tidak bisa digabung. Dulu ketika jaman tape deck, saya pernah merekam berbagai sound efek dalam sebuah kaset. Salah satunya saya kasih judul :

Yang suaranya mirip T Rex.

Dan saat itu juga entah bagaimana saya menemukan ide multi track/overdub recording via tape deck. Jadi saya rekam sebuah part di satu kaset lalu kaset yang sudah terekam itu saya playback bersama dengan kaset kosong baru yang akan diisi part gitar berikutnya. Maksimal sampai 3 track karena setelah itu kualitas soundnya jadi jelek dan menurun.

The Sense of Adventure

Lagu yang direkam saat itu adalah part interlude Life is Free dari Arkarna. Ini jauh sebelum mereka pindah ke Indonesia dan menyanyikan Gebyar-Gebyar. Andaikan hasil rekaman itu masih ada. Sial! Hilang entah kemana.

Di proses ini saya mencoba banyak hal seperti memulai sebuah band dan jadi vokalis karena main gitarnya masih jelek dan banyak teman yang lebih jago, lalu melihat proses rekaman dan manggung di pensi sekolah (tetep jadi vokalis karena belom jago) bawain Limp Bizkit, Rancid, Kid Rock dan Blink 182.

Fast forward ke hari ini.

Gitar adalah teman terbaik saya. Lewat gitar saya bisa berkarya dan melakukan banyak sekali hal. Bisa dibilang hidup saya saat ini ya memang karena modal bermain gitar. Namun ketika ditanya apakah saya seorang gitaris, saya jadi berpikir. Di kepala saya gitaris itu sosoknya seperti Joe Satriani, Eric Johnson, Slash, SRV, dll. Buat saya, lebih menarik melihat orang seperti Jack White, Jonny Greenwood, Josh Homme, Omar Rodriguez dan Dan Auerbach. Karena mereka di mata saya adalah seorang composer yang kebetulan membuat komposisi musik lewat gitar. Nama-nama di atas memiliki karya yang sangat luas. Banyak dari mereka membuat karya dengan eksplorasi musik yang sangat berlawanan dari apa yang sudah mereka buat. Mereka tidak tinggal diam di zona nyaman.

Jack White berangkat dari delta blues garage rock menuju ke country/americana sambil mendirikan label raksasa bernama Third Man Records, Josh Homme dari Kyuss menuju ke QOTSA dan TCV, Dan Auerbach dari delta blues kotor menuju ke hip hop dan yang paling gila adalah apa yang Jonny Greenwood lakukan dalam setiap karyanya, salah satu yang mencengangkan adalah The Rajasthan Express bersama Shye Ben Tzur dimana Ia membuat komposisi musik India, psychedelic dan progresif.

Dan hal yang paling menggelitik dari Omar Rodriguez adalah ketika Ia membuat statement bahwa betapa Ia membenci gitar namun terpaksa untuk memainkannya karena itu adalah satu satunya instrumen dimana Ia bisa menyalurkan seluruh idenya. Maka dari itu dalam tiap album yang Ia buat Omar berusaha membuat gitar tidak terdengar seperti gitar.

Di pikiran saya, mereka semua memiliki satu hal yang sama : The Sense of Adventure.

Ketika bermain gitar saya tidak berpikir untuk menjadi mini John Mayer, mini SRV atau mini Jack White. Tidak menarik buat saya mengulang apa yang sudah mereka lakukan. Jelas bahwa banyak sekali elemen dalam tiap karya mereka yang bisa saya ambil dan pelajari. Namun untuk menjadi mini Radiohead atau mini Arctic Monkeys for instance, itu bukan alasan kenapa saya membuat musik.

Saya ingin terdengar seperti diri saya sendiri.

Lalu pertanyaan dari judul tulisan ini : Apakah saya seorang gitaris?

Mungkin bilang saja begini, saya adalah musisi. Gitar adalah perkakas saya untuk berkarya. Begitu juga dengan drum, bass, synthesizers, flute, dsb. Ketika besok saya bisa memainkan semua alat itu tidak lantas saya disebut sebagai drummer, bassist atau keyboardist. Alat hanyalah perkakas untuk berkarya. Yang paling penting adalah karya yang dihasilkan lewat perkakas tersebut.

Sampai jumpa di petualangan berikutnya.

I.M

 

 

Advertisements