INFLUENCE pt II

Okey karena beberapa masukan (pengingat) dari teman saya, Herald Reynaldo dan Teguh Wicaksono tentang siapakah gitaris yang meng-influence saya dalam bermain gitar saya jadi berpikir ulang bahwa ternyata nggak cuma 3 orang aja. Masih ada 3 lagi. Siapakah orang orang ini? Baiklah langsung kita menuju kesana.

Dan Auerbach

5

Dengan segala hal yang menyelimuti The Black Keys, tentu gemuruh gitar Dan Auerbach tidak bisa dipungkiri adalah tulang punggung warna musik band ini. Saya pertama kali mendengar riff I Got Mine adalah dari salah satu video Pro Guitar Shop. Yah, seperti diketahui banyak orang saya adalah gadget freak untuk dunia gitar khususnya effect pedal. Jadi bisa dipastikan saya pasti menonton minimal 1 video effect pedal setiap hari.

Demo pedal itu adalah Zvex Mastotron, sebuah efek fuzz yang gahar (salah satu favorit saya) dengan kadar low yang bergemuruh. Si Andy dari Pro Guitar Shop saat itu membuka video dengan riff I Got Mine yang langsung menyerbu otak kanan saya. Telinga seperti disengat tawon hitam, saya jatuh hati. Singkat cerita saya mencari siapakah The Black Keys ini, mendengarkan album albumnya, lalu mempelajari lagu lagunya. Sampai tidak sadar bahwa saya memang tergila gila dengan The Black Keys sampai hari ini. Permainan gitar Dan Auerbach sarat dengan blues kuno yang dikemas dengan paket yang sederhana, hanya drum, gitar dan vokal. Sound fuzz yang membahana disertai paraunya vokal Dan menjadi identitas yang ingin sekali saya miliki namun tidak bisa. Saya bukan Dan. Namun pendekatan bermusiknya dan sound yang dihasilkan menginspirasi saya dengan kuat hingga saat ini. Dari garasi hingga stadion yang penuh terisi, The Black Keys menyemangati saya tentang bagaimana menghidupi mimpi.

Jack White

3

Sejujurnya saya tidak terlalu menggilai Jack White sebagai gitaris, tapi saya mengaguminya sebagai musisi dan pengusaha. Dari The Whitestripes hingga The Dead Weather, Jack selalu dipenuhi pesona pesona aneh yang galak dalam musiknya. Jika saya harus memilih Jack yang mana, saya akan memilih Jack sebagai drummer The Dead Weather. Band ini seperti penyempurnaan band band Mr White sebelumnya. Riff teknis yang keji dipadu dengan aransemen yang intens seperti memacu tekanan darah tiap kali saya mendengarnya. Musik seperti ini yang saya ingin buat, bukan semata mata ingin seperti The Dead Weather tapi bagaimana menciptakan dampak yang serupa. Musiknya seperti magma yang menunggu dimuncratkan untuk membinasakan apapun di sekitarnya. Ya, seperti itulah kekaguman saya terhadap instinct Jack White dalam membuat aransemen.

Ia juga membuat Third Man Records dan memproduseri beberapa artis dengan hasil yang baik. Ini juga yang saya ingin lakukan. Bahwa musisi sepertinya saja tidak berhenti untuk membuat sesuatu, selalu mencoba hal baru sesuai dengan idealismenya. Ia adalah seorang enterpreneur yang visioner. Visi berkaryanya jelas. Ini juga yang selalu saya tanamkan dalam diri saya, visinya harus jelas. Tidak jarang saya terpaksa keluar masuk band, kantor, badan usaha karena menurut saya visinya tidak jelas. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk membuat semua itu sendiri. Sesuai dengan visi yang saya inginkan. Dan ini semua juga adalah pembelajaran dari sosok Mr White. Mungkin saat ini saya belum seperti dia, namun di waktu waktu ke depan siapa yang tahu?

Josh Homme

7

Jika saya punya kesempatan untuk membuat band bersama salah satu personel Led Zeppelin tentu saya akan mati dengan tenang. Namun Josh Homme adalah keparat yang tidak pernah puas dengan hasil buruannya. Them Crooked Vultures adalah sebuah tahta yang suci, yang sudah layak menjadi puncak karier seorang Josh Homme. Namun alih alih terbuai, Ia justru membuat Like Clockwork bersama bandnya Queens of The Stone Age. Salah satu album terbaik yang saya dengar tahun ini. Kegilaan yang seperti tidak ada habisnya ini membuat saya berpikir bahwa orang orang dalam strata seperti Jack White, Dan Auerbach dan Josh Homme saja tidak berhenti membuat sesuatu yang baru. Apalagi saya? Harus usaha lebih keras dari yang pernah saya lakukan.

Permainan gitar Homme yang memukau saya ada di album QOTSA – Era Vulgaris. Disitu Ia bermain sangat kasar dan signifikan. Pilihat notasi yang aneh dibalut kemarahan dan sound yang menyalak bagai anjing besar berpenyakit. Suara yang menginsiprasi saya. Track favorit saya di album ini adalah Sick, Sick, Sick. Yang menurut saya adalah cikal bakal dari lagu All My Life milik Foo Fighters (Josh dan Grohl berteman dekat). Sebuah riff sederhana yang intens dan gelap. Gitar yang meraung bagai mesin diesel dengan vokal yang melantun kaku, lalu ketika reffrain masuk ada perpindahan notasi yang manis namun mengerikan.

Banyak sekali hal yang saya dapat dari Homme sebagia gitaris dan produser. Ia bisa memberikan warna tersendiri dalam tiap tiap karya yang Ia buat baik untuk bandnya sendiri atau ketika bekerja dengan orang lain. Adalah cita cita saya untuk bisa menjadi orang seperti itu. Josh Homme memiliki gaya notasi yang unik dan berani, sangat terdengar Josh Homme. Ini adalah kekuatan yang Ia miliki sebagai musisi, sebuah identitas yang mahal harganya. Karena menurut saya karya yang paling agung adalah yang berdasarkan dari identitas dan imajinasi, bukan skill semata. Josh sudah melakukannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s