INFLUENCE

Sering saya ditanya ketika interview “Siapa gitaris yang meng-influence anda?”

Dan saya kerap kali bingung memutar otak siapa orangnya. Siapakah gitaris yang menginspirasi saya lewat permainannya? Jimi Hendrix? Tidak juga. Dan terlalu klise nampaknya kalo saya jawab itu namun di beberapa interview saya memang menyebut dia walau tidak dalam keyakinan yang penuh.

Sampai pada beberapa hari lalu saya kembali mendengarkan lagu lagu Jepang kesukaan saya, Tokyo Jihen dan L’arc en Ciel. Dan saat itu saya tersentak lalu tersadar, siapakah sebetulnya sosok yang mempengaruhi saya dalam bermain gitar. Mereka adalah Ken Kitamura dan Ryosuke Nagaoka (Ukigumo). Ya, permainan mereka dan sound yang begitu unik lah yang mempengaruhi cara pandang saya dalam bermain gitar. Ken dan Ukigumo memiliki approach yang sangat ‘nekat’ dan tak terpikirkan pada umumnya. Mungkin bagi sebagian besar orang permainan gitar mereka terlalu aneh dan mengganggu namun tidak bagi saya. Ini adalah sebuah karya yang brilian. Mari kita lihat lebih dalam tentang mereka.

Ken Kitamura

2

Perkenalan saya dengan L’arc en Ciel dimulai dari lagu 4th Avenue Cafe. Sejak itu saya jatuh cinta sama band tersebut, pecahnya ketika saya melihat video klip Stay Away. Saat itu saya duduk di kelas 2 SMA dan tengah malam saya lihat video klip itu di MTV. Betapa lagu dan aransemen serta video yang begitu keren bisa dilihat dalam satu paket tontonan. Itu belum sampai ke part dimana saya tercengang. Part solo gitar. Sebuah alunan notasi mendadak yang aneh dan meliuk liuk seperti hendak fals namun tidak. Sangat berantakan dan keluar dari pakem. Ini nggak masuk akal! Belum pernah saya denger solo gitar seperti ini di musik seperti ini. Otak saya seperti diperkosa ketika memikirkan dan mempelajari solo gitar tersebut. Setelah ini mulailah kekaguman saya terhadap Ken menjadi jadi. Saya mempelajari berbagai lagu milik L’arc en Ciel sambil terus memperhatikan permainan gitar Ken yang sangat unik. Dan saya juga baru sadar kenapa gitar Fender Stratocaster saya berwarna merah, itu karena di video klip Stay Away Ken memakai gitar berwana sama. Dan pilihan sound saya juga sama persis dengan Ken. Overdrive renyah dengan kombinasi pickup bridge+middle yang menyalak garing. Ken juga memiliki pilihan scale yang unik dan terdengar sangat dia. Membuat saya ingin melakukan hal yang sama.

Ryosuke Nagaoka (Ukigumo)

1

Nah kalo dia beda lagi nih. Pertama kali denger itu pas kuliah awal, judul lagunya Sounan. Saya suka karena memang lagunya keren banget! Efeknya sama dengan ketika saya dengar lagu Stay Away. Kayaknya saya emang punya hubungan khusus dengan lagu lagu Jepang. Berawal dari lagu Sounan itu saya kemudian mendengarkan lagu lagu Tokyo Jihen yang lain. Lagunya keren dan aransemennya bagus dan unik. Kalo L’arc en Ciel itu rock, Tokyo Jihen lebih kental nuansa jazz-nya. Walaupun begitu tapi menurut saya mereka tetap bukan band jazz, nafasnya saja terasa tapi secara keseluruhan mereka memadukan berbagai unsur yang tidak tertebak dalam musiknya. Permainan gitar Ukigumo banyak menggunakan sound clean dan pilihan nada yang lucu dan menggelitik. Terkesan seperti mengganggu dan ceriwis namun membentuk warna yang signifikan di tiap tiap lagunya. Saya suka sekali permainan gitar Ukigumo di lagu Killer Tune, Ia mencuri banyak perhatian dari nada nada aneh yang Ia mainkan. Selain itu Ukigumo memiliki pilihan gitar yang unik seperti salah satunya Vox Phantom yang Ia modifikasi konfigurasinya menjadi Telecaster. Sebuah ide yang nyeleneh dan keren! Ukigumo juga bukan pemain gitar yang rapih dan necis namun itu bukan berarti Ia tidak bisa bermain dengan baik. Justru semua kekacauan yang dibuatnya itu memiliki dasar teori yang jelas. Bukan asal tabrak lari. Terdengar jelas bahwa nada pilihannya adalah nada yang tepat namun dibungkus dengan kekacauan yang cermat.

OOPS!

Ternyata ada satu orang lagi! Wah wah wah, saya sampai lupa. Maafkan saya Albert Hammond Jr. Saya baru inget kalo album Is This It adalah sebuah album yang saya cari dengan susah payah dari Bekasi sampai Jakarta hanya untuk mendengarkan Last Nite. Dan memang ternyata usaha itu nggak sia sia, album itu juga mencerahkan arah bermusik saya. Menjadi sebuah warna baru untuk kanvas yang saya lukis.

Albert Hammond Jr

3

Ia bukan pemain gitar spesial yang menunjukkan banyak keahlian dalam permainannya, namun justru karena kesederhanaan itu saya jatuh hati padanya. Lagu Last Nite milik The Strokes memiliki harmonisasi chord yang simple dipadukan dengan bass line yang bermain konstan di nada dasar dipandu oleh drum ala Motown yang menghentak. Albert mengisi sangat seperlunya tanpa mengorbankan satu apapun, semua terdengar pas pada porsinya. Namun tunggu sampai bagian solo gitar itu datang menghardik anda. Saya mengernyitkan dahi pertama kali mendengarnya, serangan blitzkrieg pentatonik blues minor yang tidak disangka sangka seperti mencegat telinga saya lalu kemudian pergi begitu saja. Ini adalah “What the fuck was that!?” moment buat saya. Duet antara Albert Hammond dengan Nick Valensi itu ibarat gado gado dengan bumbu kacang, nggak bisa enggak. Part mereka berdua saling mengunci satu sama lain menghasilkan sound yang signifikan pada musik The Strokes. 2 lagu favorit saya yang bisa menggambarkan permainan Albert Hammond Jr dengan tepat adalah Reptilia dan Hard to Explain. Saya melakukan hal yang sama dengan Albert di lagu Hard To Explain ketika merekam bagian akhir Derau dan Kesalahan bersama The Trees and The Wild. Menahan chord di satu nada dan menimpa chord tersebut dengan ritme yang sama di notasi yang berbeda. Jika kalian mendengarkan Hard to Explain di bagian “I missed the last bus, I’ll take the next train” anda akan tau apa yang saya maksud. Albert juga menggunakan Fender Stratocaster dengan pedalboard yang sangat sederhana. Ia tidak menggantungkan permainannya pada gear, namun pada ide yang dimilikinya.

Terimakasih sudah mau membaca tulisan ini. Merekalah yang berjasa dalam membentuk cara bermain gitar saya sekarang. Tentu saya bukan mereka dan mereka juga sebaliknya. Influence bukan berarti permainannya sama,tapi ide dan approach mereka yang saya tiru. Bukan semata mata skill.

Sampai jumpa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s