ORIGINAL

Sudah lama banget sejak gw terakhir nulis disini. Kutuklah Path sebagai sarana micro blogging yang akhirnya menyedot perhatian saya dibanding wordpress. Tapi ternyata kangen juga hahaha. 

Original.

Apa sih maksud sebenernya? Asli? Nomer satu? Pionir? Penemu? Atau pilihan lain selain crispy? Sejujurnya saya juga nggak terlalu paham tentang konsep orisinalitas. Terutama dalam karya. Adakah yang benar benar baru? Atau itu hanya proses daur ulang menjadi bentuk yang relevan bagi suatu zaman? Duileh berat bener bahasanye. 

Menurut gw pribadi yang masuk kategori original itu orang yang nemu Rawon. Mennnnn coba lo bayangin, kuah item dari kluwek terus dicampur bumbu bumbu laen plus daging yang ujung ujungnya bisa dimakan dan rasanya enak! Gw juga gak tau pasti asal usul Rawon itu dari mana. Tapi yang jelas sepengetahuan gw jaman itu ketika Rawon ditemukan kaga ada internet dan buku buku kuliner. Cetek ya? Ember. Tapi lo ngerti maksudnya kan? Kalo ada yang mau debat soal ini silahkan.

Sana ngomong sama pantat bedug.

Intinya begini bro en sis, hari gini kagak usah lah gembar gembor siapa yang duluan bikin apa. Elo bikin ini itu hareee geneee juga dapet referensi dari orang lain. Gausah belaga bener, akuin aje ye gak? Biar fair gitu. There’s nothing new under the sun kata pepatah. Yang kita ciptakan setiap hari adalah proses daur ulang dari apa yang kita pelajari secara sadar atau tidak. Ketika sadar maka kita akan tau darimana asalnya inspirasi itu, kalo nggak sadar? Paling enak sih bilang asalnya dari Tuhan. Lebih humble aja gitu daripada bilang “Gue orang pertama yang punya ide ini” ketika lo emang lupa darimana ide itu berasal dan lo males mikir soal itu. Atau lo emang udah tau tapi terlalu malu untuk mengakui bahwa beat lagu lo itu asalnya dari lagu Jessica Simpsons yang kemudia lo reka ulang jadi lagu indie rock.

Gak ada sesuatu yang lahir begitu aja. Semua pasti ada hubungan dengan peristiwa masa lalu yang kita alami dan pelajari. Jadi jangan malu soal itu. 

Lalu gimana kalo karya elo digembar gemborkan sama media sebagai karya yang original? Ya biarin aja, emang media kan tugasnya begitu. Kalo gw sih ngerasa rada aneh untuk memproklamirkan diri sendiri sebagai pionir A B C D ketika gw bikin karya. Lah wong gw aja ‘nyolong’ dari orang lain. Apalagi yang suka memperdebatkan orisinalitas karya orang lain lalu membandingkan dengan karya yang dia punya sebagia tolak ukur benar dan salah. Well, fuck you prick 😀

Ada bedanya nyontek plek plekan sama mendaur ulang hasil curian. 

Soal percaya diri.

Jadi gini, tentunya kita sebagai orang akan selalu setiap hari menemukan kompetisi. Ya bagusnya sih gitu ya, lingkungan yang kompetitif itu baik untuk kita berkembang. Kalo lingkunan elo santai santai adem ayem aja malah justru patut diwaspadai. Karena kalo terjebak disitu jadinya ya gitu gitu aja. Kayak katak dalam tempurung.

Berkompetisi itu bukan selamanya untuk jadi yang terbaik. Karena apa? Karena nggak ada yang terbaik di dunia ini. Semua berlomba lomba untuk mencapai kesana namun lo tau apa? Seberapa tinggi gunung yang perlu kita daki? Seberapa jauh jalan yang perlu kita tempuh? Realistis aja bro en sis. Jadi yang terbaik yang kita bisa. Berkompetisi untuk menjadi diri sendiri terkadang adalah sebuah pemikiran yang nyaris radikal di saat seperti sekarang. Saat dimana ketika semua orang ingin menjadi seperti semua orang. Identitas kita seperti digerus dari dalam.

Mau jadi kayak apa sih? Mau jadi kayak siapa?

Mungkin itu pertanyaan yang perlu kita jawab dalam hati. 

“Tapi kalo gw jadi diri sendiri, itu bakalan aneh dan nggak semua orang bisa nerima”

Lantas kalo lo jadi sebaik baiknya orang lain, apa ada jaminan lo akan disukai semua orang juga? Nggak. Semua itu kemungkinannya 50-50. Jadi pertaruhannya sama. Lo mending dikenal jadi orang lain atau diri sendiri? Itu keputusan pribadi. 

Emang sekilas kayaknya lebih gampang untuk ngikutin pola sosial yang udah tercetak. Sepertinya lebih aman. Tapi bayangin nggak kalo semua jadi seragam? Semua musik jadi pop cinta manis, semua orang olahraganya jadi lari, semua makanan jadi rainbow shape, semua orang joget shuffle. Menjijikan.

Dalam susunan kartu selalu ada joker. Sebuah kartu lepas. Sama juga dalam sebuah tatanan sosial, selalu ada joker joker dalam setiap masanya. Sebagian orang memang bisa menjadi apapun yang mereka mau. Pekerja, penemu, peniru, pencuri, pelayan dan pemberontak. Semua harus ambil bagian. Nggak bisa semua orang menjadi semuanya. Namun di antara itu, selalu ada satu jenis yang selalu sulit terdefinisi, selalu sulit ditaro di dalam kotak, terlalu absurd untuk diklasifikasikan. Mereka mereka ini adalah sebuah anomali, seorang yang secara naluri bekerja di luar sistem. Mereka adalah orang orang seperti Da Vinci. Sebuah bola liar, peluru nyasar, sebuah erupsi vulkanik. 

Tentu kita tidak akan menjadi seperti Da Vinci, namun konsep itu pernah ada dan selalu ada. Jangan pernah takut atau tunduk oleh stigma masyarakat tentang mana yang baik dan mana yang buruk. Karena stigma mereka adalah konvensi dari pemikiran pemikiran pribadi sementara kita memiliki pemikiran sendiri untuk menentukan nasib yang menurut kita baik. 

“Were you born to resist or be abused?”

Sekian.

*Sebuah tulisan yang ditulis di sebuah zaman ketika menjadi diri sendiri sama sulitnya dengan menjadi orang lain.

 

Advertisements

2 thoughts on “ORIGINAL

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s