Monthly Archives: September 2013

INFLUENCE pt II

Okey karena beberapa masukan (pengingat) dari teman saya, Herald Reynaldo dan Teguh Wicaksono tentang siapakah gitaris yang meng-influence saya dalam bermain gitar saya jadi berpikir ulang bahwa ternyata nggak cuma 3 orang aja. Masih ada 3 lagi. Siapakah orang orang ini? Baiklah langsung kita menuju kesana.

Dan Auerbach

5

Dengan segala hal yang menyelimuti The Black Keys, tentu gemuruh gitar Dan Auerbach tidak bisa dipungkiri adalah tulang punggung warna musik band ini. Saya pertama kali mendengar riff I Got Mine adalah dari salah satu video Pro Guitar Shop. Yah, seperti diketahui banyak orang saya adalah gadget freak untuk dunia gitar khususnya effect pedal. Jadi bisa dipastikan saya pasti menonton minimal 1 video effect pedal setiap hari.

Demo pedal itu adalah Zvex Mastotron, sebuah efek fuzz yang gahar (salah satu favorit saya) dengan kadar low yang bergemuruh. Si Andy dari Pro Guitar Shop saat itu membuka video dengan riff I Got Mine yang langsung menyerbu otak kanan saya. Telinga seperti disengat tawon hitam, saya jatuh hati. Singkat cerita saya mencari siapakah The Black Keys ini, mendengarkan album albumnya, lalu mempelajari lagu lagunya. Sampai tidak sadar bahwa saya memang tergila gila dengan The Black Keys sampai hari ini. Permainan gitar Dan Auerbach sarat dengan blues kuno yang dikemas dengan paket yang sederhana, hanya drum, gitar dan vokal. Sound fuzz yang membahana disertai paraunya vokal Dan menjadi identitas yang ingin sekali saya miliki namun tidak bisa. Saya bukan Dan. Namun pendekatan bermusiknya dan sound yang dihasilkan menginspirasi saya dengan kuat hingga saat ini. Dari garasi hingga stadion yang penuh terisi, The Black Keys menyemangati saya tentang bagaimana menghidupi mimpi.

Jack White

3

Sejujurnya saya tidak terlalu menggilai Jack White sebagai gitaris, tapi saya mengaguminya sebagai musisi dan pengusaha. Dari The Whitestripes hingga The Dead Weather, Jack selalu dipenuhi pesona pesona aneh yang galak dalam musiknya. Jika saya harus memilih Jack yang mana, saya akan memilih Jack sebagai drummer The Dead Weather. Band ini seperti penyempurnaan band band Mr White sebelumnya. Riff teknis yang keji dipadu dengan aransemen yang intens seperti memacu tekanan darah tiap kali saya mendengarnya. Musik seperti ini yang saya ingin buat, bukan semata mata ingin seperti The Dead Weather tapi bagaimana menciptakan dampak yang serupa. Musiknya seperti magma yang menunggu dimuncratkan untuk membinasakan apapun di sekitarnya. Ya, seperti itulah kekaguman saya terhadap instinct Jack White dalam membuat aransemen.

Ia juga membuat Third Man Records dan memproduseri beberapa artis dengan hasil yang baik. Ini juga yang saya ingin lakukan. Bahwa musisi sepertinya saja tidak berhenti untuk membuat sesuatu, selalu mencoba hal baru sesuai dengan idealismenya. Ia adalah seorang enterpreneur yang visioner. Visi berkaryanya jelas. Ini juga yang selalu saya tanamkan dalam diri saya, visinya harus jelas. Tidak jarang saya terpaksa keluar masuk band, kantor, badan usaha karena menurut saya visinya tidak jelas. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk membuat semua itu sendiri. Sesuai dengan visi yang saya inginkan. Dan ini semua juga adalah pembelajaran dari sosok Mr White. Mungkin saat ini saya belum seperti dia, namun di waktu waktu ke depan siapa yang tahu?

Josh Homme

7

Jika saya punya kesempatan untuk membuat band bersama salah satu personel Led Zeppelin tentu saya akan mati dengan tenang. Namun Josh Homme adalah keparat yang tidak pernah puas dengan hasil buruannya. Them Crooked Vultures adalah sebuah tahta yang suci, yang sudah layak menjadi puncak karier seorang Josh Homme. Namun alih alih terbuai, Ia justru membuat Like Clockwork bersama bandnya Queens of The Stone Age. Salah satu album terbaik yang saya dengar tahun ini. Kegilaan yang seperti tidak ada habisnya ini membuat saya berpikir bahwa orang orang dalam strata seperti Jack White, Dan Auerbach dan Josh Homme saja tidak berhenti membuat sesuatu yang baru. Apalagi saya? Harus usaha lebih keras dari yang pernah saya lakukan.

Permainan gitar Homme yang memukau saya ada di album QOTSA – Era Vulgaris. Disitu Ia bermain sangat kasar dan signifikan. Pilihat notasi yang aneh dibalut kemarahan dan sound yang menyalak bagai anjing besar berpenyakit. Suara yang menginsiprasi saya. Track favorit saya di album ini adalah Sick, Sick, Sick. Yang menurut saya adalah cikal bakal dari lagu All My Life milik Foo Fighters (Josh dan Grohl berteman dekat). Sebuah riff sederhana yang intens dan gelap. Gitar yang meraung bagai mesin diesel dengan vokal yang melantun kaku, lalu ketika reffrain masuk ada perpindahan notasi yang manis namun mengerikan.

Banyak sekali hal yang saya dapat dari Homme sebagia gitaris dan produser. Ia bisa memberikan warna tersendiri dalam tiap tiap karya yang Ia buat baik untuk bandnya sendiri atau ketika bekerja dengan orang lain. Adalah cita cita saya untuk bisa menjadi orang seperti itu. Josh Homme memiliki gaya notasi yang unik dan berani, sangat terdengar Josh Homme. Ini adalah kekuatan yang Ia miliki sebagai musisi, sebuah identitas yang mahal harganya. Karena menurut saya karya yang paling agung adalah yang berdasarkan dari identitas dan imajinasi, bukan skill semata. Josh sudah melakukannya.

INFLUENCE

Sering saya ditanya ketika interview “Siapa gitaris yang meng-influence anda?”

Dan saya kerap kali bingung memutar otak siapa orangnya. Siapakah gitaris yang menginspirasi saya lewat permainannya? Jimi Hendrix? Tidak juga. Dan terlalu klise nampaknya kalo saya jawab itu namun di beberapa interview saya memang menyebut dia walau tidak dalam keyakinan yang penuh.

Sampai pada beberapa hari lalu saya kembali mendengarkan lagu lagu Jepang kesukaan saya, Tokyo Jihen dan L’arc en Ciel. Dan saat itu saya tersentak lalu tersadar, siapakah sebetulnya sosok yang mempengaruhi saya dalam bermain gitar. Mereka adalah Ken Kitamura dan Ryosuke Nagaoka (Ukigumo). Ya, permainan mereka dan sound yang begitu unik lah yang mempengaruhi cara pandang saya dalam bermain gitar. Ken dan Ukigumo memiliki approach yang sangat ‘nekat’ dan tak terpikirkan pada umumnya. Mungkin bagi sebagian besar orang permainan gitar mereka terlalu aneh dan mengganggu namun tidak bagi saya. Ini adalah sebuah karya yang brilian. Mari kita lihat lebih dalam tentang mereka.

Ken Kitamura

2

Perkenalan saya dengan L’arc en Ciel dimulai dari lagu 4th Avenue Cafe. Sejak itu saya jatuh cinta sama band tersebut, pecahnya ketika saya melihat video klip Stay Away. Saat itu saya duduk di kelas 2 SMA dan tengah malam saya lihat video klip itu di MTV. Betapa lagu dan aransemen serta video yang begitu keren bisa dilihat dalam satu paket tontonan. Itu belum sampai ke part dimana saya tercengang. Part solo gitar. Sebuah alunan notasi mendadak yang aneh dan meliuk liuk seperti hendak fals namun tidak. Sangat berantakan dan keluar dari pakem. Ini nggak masuk akal! Belum pernah saya denger solo gitar seperti ini di musik seperti ini. Otak saya seperti diperkosa ketika memikirkan dan mempelajari solo gitar tersebut. Setelah ini mulailah kekaguman saya terhadap Ken menjadi jadi. Saya mempelajari berbagai lagu milik L’arc en Ciel sambil terus memperhatikan permainan gitar Ken yang sangat unik. Dan saya juga baru sadar kenapa gitar Fender Stratocaster saya berwarna merah, itu karena di video klip Stay Away Ken memakai gitar berwana sama. Dan pilihan sound saya juga sama persis dengan Ken. Overdrive renyah dengan kombinasi pickup bridge+middle yang menyalak garing. Ken juga memiliki pilihan scale yang unik dan terdengar sangat dia. Membuat saya ingin melakukan hal yang sama.

Ryosuke Nagaoka (Ukigumo)

1

Nah kalo dia beda lagi nih. Pertama kali denger itu pas kuliah awal, judul lagunya Sounan. Saya suka karena memang lagunya keren banget! Efeknya sama dengan ketika saya dengar lagu Stay Away. Kayaknya saya emang punya hubungan khusus dengan lagu lagu Jepang. Berawal dari lagu Sounan itu saya kemudian mendengarkan lagu lagu Tokyo Jihen yang lain. Lagunya keren dan aransemennya bagus dan unik. Kalo L’arc en Ciel itu rock, Tokyo Jihen lebih kental nuansa jazz-nya. Walaupun begitu tapi menurut saya mereka tetap bukan band jazz, nafasnya saja terasa tapi secara keseluruhan mereka memadukan berbagai unsur yang tidak tertebak dalam musiknya. Permainan gitar Ukigumo banyak menggunakan sound clean dan pilihan nada yang lucu dan menggelitik. Terkesan seperti mengganggu dan ceriwis namun membentuk warna yang signifikan di tiap tiap lagunya. Saya suka sekali permainan gitar Ukigumo di lagu Killer Tune, Ia mencuri banyak perhatian dari nada nada aneh yang Ia mainkan. Selain itu Ukigumo memiliki pilihan gitar yang unik seperti salah satunya Vox Phantom yang Ia modifikasi konfigurasinya menjadi Telecaster. Sebuah ide yang nyeleneh dan keren! Ukigumo juga bukan pemain gitar yang rapih dan necis namun itu bukan berarti Ia tidak bisa bermain dengan baik. Justru semua kekacauan yang dibuatnya itu memiliki dasar teori yang jelas. Bukan asal tabrak lari. Terdengar jelas bahwa nada pilihannya adalah nada yang tepat namun dibungkus dengan kekacauan yang cermat.

OOPS!

Ternyata ada satu orang lagi! Wah wah wah, saya sampai lupa. Maafkan saya Albert Hammond Jr. Saya baru inget kalo album Is This It adalah sebuah album yang saya cari dengan susah payah dari Bekasi sampai Jakarta hanya untuk mendengarkan Last Nite. Dan memang ternyata usaha itu nggak sia sia, album itu juga mencerahkan arah bermusik saya. Menjadi sebuah warna baru untuk kanvas yang saya lukis.

Albert Hammond Jr

3

Ia bukan pemain gitar spesial yang menunjukkan banyak keahlian dalam permainannya, namun justru karena kesederhanaan itu saya jatuh hati padanya. Lagu Last Nite milik The Strokes memiliki harmonisasi chord yang simple dipadukan dengan bass line yang bermain konstan di nada dasar dipandu oleh drum ala Motown yang menghentak. Albert mengisi sangat seperlunya tanpa mengorbankan satu apapun, semua terdengar pas pada porsinya. Namun tunggu sampai bagian solo gitar itu datang menghardik anda. Saya mengernyitkan dahi pertama kali mendengarnya, serangan blitzkrieg pentatonik blues minor yang tidak disangka sangka seperti mencegat telinga saya lalu kemudian pergi begitu saja. Ini adalah “What the fuck was that!?” moment buat saya. Duet antara Albert Hammond dengan Nick Valensi itu ibarat gado gado dengan bumbu kacang, nggak bisa enggak. Part mereka berdua saling mengunci satu sama lain menghasilkan sound yang signifikan pada musik The Strokes. 2 lagu favorit saya yang bisa menggambarkan permainan Albert Hammond Jr dengan tepat adalah Reptilia dan Hard to Explain. Saya melakukan hal yang sama dengan Albert di lagu Hard To Explain ketika merekam bagian akhir Derau dan Kesalahan bersama The Trees and The Wild. Menahan chord di satu nada dan menimpa chord tersebut dengan ritme yang sama di notasi yang berbeda. Jika kalian mendengarkan Hard to Explain di bagian “I missed the last bus, I’ll take the next train” anda akan tau apa yang saya maksud. Albert juga menggunakan Fender Stratocaster dengan pedalboard yang sangat sederhana. Ia tidak menggantungkan permainannya pada gear, namun pada ide yang dimilikinya.

Terimakasih sudah mau membaca tulisan ini. Merekalah yang berjasa dalam membentuk cara bermain gitar saya sekarang. Tentu saya bukan mereka dan mereka juga sebaliknya. Influence bukan berarti permainannya sama,tapi ide dan approach mereka yang saya tiru. Bukan semata mata skill.

Sampai jumpa.

ORIGINAL

Sudah lama banget sejak gw terakhir nulis disini. Kutuklah Path sebagai sarana micro blogging yang akhirnya menyedot perhatian saya dibanding wordpress. Tapi ternyata kangen juga hahaha. 

Original.

Apa sih maksud sebenernya? Asli? Nomer satu? Pionir? Penemu? Atau pilihan lain selain crispy? Sejujurnya saya juga nggak terlalu paham tentang konsep orisinalitas. Terutama dalam karya. Adakah yang benar benar baru? Atau itu hanya proses daur ulang menjadi bentuk yang relevan bagi suatu zaman? Duileh berat bener bahasanye. 

Menurut gw pribadi yang masuk kategori original itu orang yang nemu Rawon. Mennnnn coba lo bayangin, kuah item dari kluwek terus dicampur bumbu bumbu laen plus daging yang ujung ujungnya bisa dimakan dan rasanya enak! Gw juga gak tau pasti asal usul Rawon itu dari mana. Tapi yang jelas sepengetahuan gw jaman itu ketika Rawon ditemukan kaga ada internet dan buku buku kuliner. Cetek ya? Ember. Tapi lo ngerti maksudnya kan? Kalo ada yang mau debat soal ini silahkan.

Sana ngomong sama pantat bedug.

Intinya begini bro en sis, hari gini kagak usah lah gembar gembor siapa yang duluan bikin apa. Elo bikin ini itu hareee geneee juga dapet referensi dari orang lain. Gausah belaga bener, akuin aje ye gak? Biar fair gitu. There’s nothing new under the sun kata pepatah. Yang kita ciptakan setiap hari adalah proses daur ulang dari apa yang kita pelajari secara sadar atau tidak. Ketika sadar maka kita akan tau darimana asalnya inspirasi itu, kalo nggak sadar? Paling enak sih bilang asalnya dari Tuhan. Lebih humble aja gitu daripada bilang “Gue orang pertama yang punya ide ini” ketika lo emang lupa darimana ide itu berasal dan lo males mikir soal itu. Atau lo emang udah tau tapi terlalu malu untuk mengakui bahwa beat lagu lo itu asalnya dari lagu Jessica Simpsons yang kemudia lo reka ulang jadi lagu indie rock.

Gak ada sesuatu yang lahir begitu aja. Semua pasti ada hubungan dengan peristiwa masa lalu yang kita alami dan pelajari. Jadi jangan malu soal itu. 

Lalu gimana kalo karya elo digembar gemborkan sama media sebagai karya yang original? Ya biarin aja, emang media kan tugasnya begitu. Kalo gw sih ngerasa rada aneh untuk memproklamirkan diri sendiri sebagai pionir A B C D ketika gw bikin karya. Lah wong gw aja ‘nyolong’ dari orang lain. Apalagi yang suka memperdebatkan orisinalitas karya orang lain lalu membandingkan dengan karya yang dia punya sebagia tolak ukur benar dan salah. Well, fuck you prick 😀

Ada bedanya nyontek plek plekan sama mendaur ulang hasil curian. 

Soal percaya diri.

Jadi gini, tentunya kita sebagai orang akan selalu setiap hari menemukan kompetisi. Ya bagusnya sih gitu ya, lingkungan yang kompetitif itu baik untuk kita berkembang. Kalo lingkunan elo santai santai adem ayem aja malah justru patut diwaspadai. Karena kalo terjebak disitu jadinya ya gitu gitu aja. Kayak katak dalam tempurung.

Berkompetisi itu bukan selamanya untuk jadi yang terbaik. Karena apa? Karena nggak ada yang terbaik di dunia ini. Semua berlomba lomba untuk mencapai kesana namun lo tau apa? Seberapa tinggi gunung yang perlu kita daki? Seberapa jauh jalan yang perlu kita tempuh? Realistis aja bro en sis. Jadi yang terbaik yang kita bisa. Berkompetisi untuk menjadi diri sendiri terkadang adalah sebuah pemikiran yang nyaris radikal di saat seperti sekarang. Saat dimana ketika semua orang ingin menjadi seperti semua orang. Identitas kita seperti digerus dari dalam.

Mau jadi kayak apa sih? Mau jadi kayak siapa?

Mungkin itu pertanyaan yang perlu kita jawab dalam hati. 

“Tapi kalo gw jadi diri sendiri, itu bakalan aneh dan nggak semua orang bisa nerima”

Lantas kalo lo jadi sebaik baiknya orang lain, apa ada jaminan lo akan disukai semua orang juga? Nggak. Semua itu kemungkinannya 50-50. Jadi pertaruhannya sama. Lo mending dikenal jadi orang lain atau diri sendiri? Itu keputusan pribadi. 

Emang sekilas kayaknya lebih gampang untuk ngikutin pola sosial yang udah tercetak. Sepertinya lebih aman. Tapi bayangin nggak kalo semua jadi seragam? Semua musik jadi pop cinta manis, semua orang olahraganya jadi lari, semua makanan jadi rainbow shape, semua orang joget shuffle. Menjijikan.

Dalam susunan kartu selalu ada joker. Sebuah kartu lepas. Sama juga dalam sebuah tatanan sosial, selalu ada joker joker dalam setiap masanya. Sebagian orang memang bisa menjadi apapun yang mereka mau. Pekerja, penemu, peniru, pencuri, pelayan dan pemberontak. Semua harus ambil bagian. Nggak bisa semua orang menjadi semuanya. Namun di antara itu, selalu ada satu jenis yang selalu sulit terdefinisi, selalu sulit ditaro di dalam kotak, terlalu absurd untuk diklasifikasikan. Mereka mereka ini adalah sebuah anomali, seorang yang secara naluri bekerja di luar sistem. Mereka adalah orang orang seperti Da Vinci. Sebuah bola liar, peluru nyasar, sebuah erupsi vulkanik. 

Tentu kita tidak akan menjadi seperti Da Vinci, namun konsep itu pernah ada dan selalu ada. Jangan pernah takut atau tunduk oleh stigma masyarakat tentang mana yang baik dan mana yang buruk. Karena stigma mereka adalah konvensi dari pemikiran pemikiran pribadi sementara kita memiliki pemikiran sendiri untuk menentukan nasib yang menurut kita baik. 

“Were you born to resist or be abused?”

Sekian.

*Sebuah tulisan yang ditulis di sebuah zaman ketika menjadi diri sendiri sama sulitnya dengan menjadi orang lain.