Monthly Archives: August 2012

The good old days.Someday we will be bigger and stronger than ever. But now, let us be happy on our own.

Until the day we meet again. 

Respon Orang Orang

Jadi beberapa hari lalu saya akhirnya telah merekam beberapa lagu. Dari 3 ada 1 yang udah jadi liriknya. Dan untuk melanjutkan project ini saya tentunya membutuhkan bantuan orang lain juga. Saya butuh engineer untuk rekaman, additional player untuk mengisi instrumen, produser, dan manager. Singkat kata, akhirnya saya bertemu dengan mereka. Berbekal nekat dan pasang muka tembok saya nyamperin mereka satu satu dalam satu hari. Untungnya pada hari itu mereka ada di satu tempat semua, jadi saya bisa menghemat waktu dan bensin.

Pertemuan itu terjadi di sebuah mall.

HA HA.

Jadi mereka baru saja selesai manggung. Sekedar info, orang orang ini adalah tim pendukung untuk salah seorang biduanita muda yang sedang naik daun. Namanya? Rahasia dong. Tebak aja. Setelah selesai manggung lalu saya nyamperin mereka dan memutuskan untuk duduk santai di sebuah restoran. Saya membawa ransel merah kesayangan yang berisi laptop, headphone, soundcard, dan kabel roll. Lumayan berat juga ternyata keliling mall bawa gituan. Kami ngobrol santai sambil makan sampai kemudian tibalah saatnya untuk saya memperdengarkan hasil rekaman tersebut ke mereka.

Sungguh saya deg degan. Saya khawatir mereka nggak suka lagunya lalu menolak untuk bekerja sama dengan saya. Jika sampai itu kejadian… Jangan sampe deh.

Setelah saya set up laptop dengan soundcard plus headphone (sebuah pemandangan janggal di restoran) akhirnya saya perdengarkan rekaman tersebut ke sang audio engineer sebagai orang pertama.

Dia pasang headphone, lalu saya menekan tombol play. Grafik di Cubase (software rekaman) pun berjalan. Detik demi detik melaju. Mata saya memastikan bahwa semua berjalan baik. Jangan sampai ada kesalahan. Saya bahkan tidak melirik ke arah sang engineer. Saya terlalu takut kalau kalau raut mukanya berkerut menunjukkan rasa tidak suka. Di sudut mata saya hanya bisa melihat sekilas dia manggut manggut. Namun tetap tak berani untuk melihat.

Akhirnya lagu tersebut selesai dan saya menekan space bar untuk menghentikannya.

Respon yang saya khawatirkan, semua kereaguan, dan pemikiran buruk lainnya…

Inilah saatnya. Pikir saya.

Lalu saya menoleh ke arahnya.

Lalu terucaplah sebuah kata yang membuat saya tercekat selama 1 detik.

“GILA ini nyet..!” katanya sambil tersenyum lebar dan menepuk pundak saya,

“Ini harus lo jadiin. Ini gila! endingnya sangar!” lanjutnya bersemangat.

Saya seperti kehabisan respon dan cuma bisa bilang terima kasih berkali kali.

Ya Tuhan. Terimakasih.

Ekspektasi saya saat itu adalah mungkin mereka hanya sekedar bilang ‘oke nih’ atau ‘bagus kok, yuk gue bantuin’. Tapi ternyata Tuhan dengan kuasanya memberikan saya lebih dari yang saya harapkan.

Lalu proses memperdengarkan lagu ini berlanjut ke seorang engineer lagi.

Dia memasang headphone lalu saya menekan tombol play. Sekali lagi grafik itu berjalan.

Lagi lagi saya masih tidak berani untuk melihat ke arahnya karena masih ada rasa khawatir walau tidak sebesar yang pertama. Saya melihat grafik di Cubase yang kini mencapai akhir durasi. Lagu selesai, dan sang engineer kedua meletakkan headphone nya.

“Gantung diri ini gan! gila ini!” serunya dengan logat Sunda yang kental sambil menyeringai dan menggelengkan kepala.

Saya sejujurnya agak bingung dengan kalimat yang dia ucapkan, tapi dilihat dari gesture kayanya ini adalah respon positif jadi saya juga seneng luar biasa. Lalu dia nyerocos memuji lagu tersebut. Sekali lagi saya hanya bisa mengatakan terima kasih berkali kali.

Prosesi ini juga berlanjut ke salah seorang teman saya yang juga seorang gitaris dimana saya sungguh jatuh hati dengan permainannya. Seorang pemuda bertutur kata santun yang santai dan juga jenaka. Ia memasang headphone lalu menenggelamkan diri ke lagu yang saya putar.

Bisa saya lihat Ia tersenyum dan sesekali menggelengkan kepala sambil menoleh ke arah saya. Saya sudah hafal sekali dengan respon dia yang ini. Selesai lagu diputar, Ia hanya menghela nafas sambil mengutarakan opini yang membuat saya bersyukur bahwa saya dikelilingi oleh teman teman yang luar biasa suportif dan baik hati.

Orang keempat adalah sang drummer yang akan membantu saya dalam proses rekaman. Saya paling deg degan ketika harus memperdengarkan lagu ini ke dia. Karena jika Ia tidak suka dengan lagunya maka saya harus mencari drummer lagi dan itu bukanlah hal yang mudah. Saya juga punya alasan khusus kenapa saya memilih orang ini sebagai drummer. Saya sangat sangat suka permainannya. Jadi bisa dibilang dia adalah salah satu tonggak utama dalam aransemen yang akan saya buat.

Lalu proses itu berulang. Bisa saya lihat di sudut mata bahwa sang drummer memiliki respon yang berbeda. Dia tidak mengangguk. Hanya menatap lurus ke monitor. Jantung saya berdegup kencang. Apakah dia nggak suka sama lagunya? lagi lagi pemikiran buruk itu muncul walau kadarnya kini sudah terkikis.

Lagu selesai, kemudian berhenti.

Responnya dia adalah..

Saya lupa responnya.

HA HA HA

Mungkin karena saya terlalu tegang jadi saya nggak bisa mengingat dengan jelas, namun satu yang pasti ketika saya menanyakan “Are you in?” dia dengan lantang menjawab “IN banget nyet!! Ini anjing banget endingnya!”

“Tengkyu banget lo udah mau bantuin” kata saya

“Gw lah yang tengkyu udah diajak ngerjain lagu kayak gini!” sahutnya bersemangat

Oh Tuhan. Kamu baik sekali malam ini.

Lalu kami mengobrol santai sambil mengatur perencanaan kecil perihal rekaman. Selesai itu kami berpamitan pulang. Sungguh malam yang membahagiakan buat saya.

Di jalan pulang saya tak henti tersenyum. Semua pemikiran yang membuat saya nggak yakin, nggak percaya diri, takut, khawatir, kini perlahan melebur ke udara. Meninggalkan bara yang menyala.

Baiklah, mari kita selesaikan ini semua!

Mengerjakan yang ada di pikiran

Banyak sekali ide saya dalam berkegiatan. Salah satu yang paling besar tentunya dateng dari musik. Banyak yang sengaja ditunda karena berbagai alasan. Alasan utama adalah waktu. Walau sebenernya bisa disempatkan. Niat saja yang masih timbul tenggelam.

Di tahun ini saya ingin menyelesaikan lagu lagu yang saya buat sendiri. Begitu banyak yang menumpuk menunggu untuk diselesaikan. Saya nggak pengen menunda lagi, saya harus selesaikan ini. Beruntung setelah akhirnya kemaren ngobrol dan curhat sama Risa Kumalasita dan Barlian Yoga akhirnya saya diberikan keyakinan untuk berani melakukan dan menyelesaikan apa yang saya inginkan.

Jika saya lihat file dari recorder portable saya ada sekitar 200 lebih patahan patahan lagu yang menunggu untuk diselesaikan. Berarti memang sudah terlalu banyak untuk diabaikan. Dan mungkin memang ini yang saya butuhkan? Saya sungguh tulus berharap bahwa ini bisa jadi kenyataan.

Dan memang keberanian yang saya butuhkan.

Semoga di akhir tahun lagu lagu saya sudah bisa dinikmati.

Wish me luck.

🙂

CAST

Barlian Yoga

 

Risa Kumalasita