Twat Twit Twat Twit

“Bro, tolong RT tweet gw sehari sekali dong! Udah 3 tahun main Twitter followers gw nggak lebih dari 1000 bro!”

Itu adalah kalimat  memuakkan yang dikirim ke smartphone saya beberapa hari lalu. Saya ketawa lantang baca kalimat itu. Ada kesan menyedihkan dan ngarep untuk populer. Beruntung yang ngirim kawan baik saya yang emang orangnya lucu. Tipikal yang sering menertawakan kepedihan hidupnya sendiri dengan cara yang absurd. Saya hanya membalas dengan..

“LOL. Bego lo”

Hari gini social media jadi dua kata berisi jutaan informasi yang saya yakin lebih sering kita baca dibanding kitab suci. Sudahlah akui saja. Banyak dari kita yang baru bangun tidur bukannya berdoa malah ngecek smartphone walau dengan mata belekan dan masih kriyep kriyep. Berharap ada sekedar pesan entah dari siapa. Apa artinya ini?

Artinya adalah..

Semua platform social media baik Twitter, Facebook, Tumblr,dll sudah jadi kebutuhan primer bagi banyak orang. Nggak percaya? Saya pernah mengalami kejadian begini :

Alkisah suatu malam saya dan Dimas Wisnu lagi candle light dinner (ini beneran..) dan setelah kami ngobrol lalu masing masing dari kami sejenak tenggelam ke layar smartphone. Saya sadar duluan, Dimas masih tenggelem. Lalu saya melihat seluruh orang di tempat makan tersebut sedang tenggelam juga di layar smartphone. Dan banyak dari mereka nggak dateng sendiri, tapi berdua atau lebih. Namun mereka tidak saling cakap. Sebuah pemandangan yang janggal namun umum kita temui. Saya lalu manggil Dimas “Mas, coba kamu liat deh tu orang orang. Semua lagi ngeliat layar smartphone mereka..” lalu aku meraih tangan Dimas yang masih belepetan sambel..

Nah itu pengalaman saya waktu pertama kali megang tangan Dimas.

Tae..

Kagak, maksud saya itu pengalaman saya ketika melihat betapa fenomenalnya social media. Ia bisa menyedot kehidupan individu untuk menjadi semakin individualis. Namun ironisnya di lain sisi kehidupan individualis ini adalah tentang melihat kehidupan sosial orang lain!

Nangkep maksud saya?

Ini seperti mau kenyang tapi gak mau makan, mau pergi tapi nggak mau jalan, mau boker tapi nggak mau cebok, mau renang tapi nggak mau basah, dan mau punya anak tapi nggak mau hamil,. Namun menurut saya penggambaran yang paling tepat dari semua ini adalah, mau liat tapi nggak mau ketemu.

Sebagian dari diri kita adalah suka menguntit. Seberapa besar kadarnya tiap orang bisa berbeda, tapi yang jelas rasa itu ada di dalam diri setiap manusia. Bahasa gaulnya ‘stalking’. And yes, we are all stalkers.

Dan kenapa baru sekarang? Karena dulu kita tidak punya kesempatan dan instrumen untuk melakukan hal ini. Sekarang? Silahkan pilih, ada puluhan bahkan ratusan cara untuk menelusuri kehidupan orang lain. Bukan hanya selebritis, namun orang biasa yang kita kenal. Justru ini kan yang lebih seru? Melihat kayak apa sih baju yang dia pake, kemana tempat dia pergi, siapa aja sih temennya, apa sih hobinya, pekerjaannya, musik favoritnya, siapa pacarnya, cantik nggak? ganteng nggak? bermasalah nggak? mungkin nggak gw bisa temenan sama temennya? and the list goes on..

It brings out the devil in us.

Yaaaa tapi kaaaannnn….

Gak semua yang ada di social media itu buruk.

Banyak yang menggunakannya sebagai saran promosi dan motivasi. Banyak juga yang berbagi informasi. Sebenernya ini tergantung gimana kita menyikapinya (KLISEEEEEEE…)

Di masa masa seperti sekarang banyak sekali hal yang bisa dilakukan oleh orang orang brengsek yang tidak bertanggung jawab seputar kehidupan social media. Seperti berbagi informasi bohong (hoax), menyebar fitnah, menguntit orang lain, menebar terror, menganiaya orang lain, sampai melakukan tindak kriminal ke dunia nyata.

Dunia kita sudah berbeda sekarang, kita harus sadari itu. Beradaptasilah semampunya. Karena batas antara realita dan dunia fana kini tidak lagi jauh berseberangan. Tetaplah berpijak ke realita. Tetaplah bertatap muka dan menyapa secara nyata. Karena cara lama terkadang adalah cara yang paling benar.

Akhir kata, saya tuliskan sebuah kalimat dari seorang teman saya. Seorang biduanita bernama Mian Tiara yang sangat mendeskripsikan secara tepat apa yang terjadi di sekitar kita sekarang.

“Senyata dunia maya, semaya dunia nyata”

***

CAST

Mian Tiara

Dimas Wisnu

Advertisements

9 thoughts on “Twat Twit Twat Twit

  1. Luthfi

    “Bro, tolong RT tweet gw sehari sekali dong! Udah 3 tahun main Twitter followers gw nggak lebih dari 1000 bro!”

    nih pasti si FARTCHEWING nih bro! hahaha..

    Reply
  2. oi

    wah topiknya nyaris mirip ama diskusi sama dosen. topik ini pernah masuk jurnal gitu tapi dari perspektif tentang ruang. kalau jaman dulu batas ruang sangat jelas mana yang ‘ruang dalam’ dan mana yang ‘ruang luar’. ‘ruang luar’ menjadi yang bisa dinikmati bersama dan ‘ruang dalam’ adalah yang terbatas informasinya. mudahnya, dulu batas publik dan privat sangat mudah dibedakan dengan membedakan mana yang di ‘luar’ atau di ‘dalam’ rumah.

    nah adanya teknologi kya smartphone mengacaukan batas itu sekarang..

    alhasil, kategori ‘individualis’ atau ‘sosialis’ jadi sulit dibedakan.

    saya pribadi kurang setuju dengan pernyataan
    “Ia bisa menyedot kehidupan individu untuk menjadi semakin individualis.”
    toh pada dasarnya mereka menjadi lebih sosialis DI DUNIA MAYA.kategori manusia menjadi individualis hanya berlaku di ranah DUNIA NYATA.

    tapi kalau mau ngomongin kurangnya ‘dunia maya’ (atau mungkin sekarang topiknya smartphone), mereka kehilangan rasa pengalaman indrawi dalam kegiatan bersosial. seperti sensasi halus atau kasar tangan saat berjabat, aroma tubuh, visual detil pori2 muka atau kerut wajah berekspresi saat bertemu. semua itu yang lebih membuat kaya pengalaman bersosial ‘dunia nyata’ yang sekarang mungkin mulai terabaikan…

    mungkin dari sudut itu hal yang saya juga sama turut prihatinnya dengan fenomena smartphone..

    hehe maap terlalu serius nanggepinnya..

    Reply
    1. igamassardi Post author

      Kangen juga sama reply panjang hehehe, secara garis besar saya setuju sama kamu bahwa memang pengalaman indrawi adalah hal yang paling penting dalam interaksi sosial. Jelas dunia maya memudahkan di satu sisi, namun banyak dari kita yang menjadikan itu lebih penting daripada esensi interaksi yang paling dasar yaitu bertatap muka.

      Reply
      1. oi

        pertama, senang komen panjang saya bisa diterima (mungkin juga bersyukur karena masih ada yang mau baca haha) dan maaf saya akan berkomen panjang lagi hehe

        kedua,
        hmm..
        ada yang janggal rasanya..

        sebelumnya saya minta ijin untuk mengganti idiom ‘bertatap muka’-nya bang iga dengan ‘interaksi nyata’ atau ‘bertatap muka langsung’ ya..soalnya klo bertatap muka saya takut bingung, interaksi maya juga ada yang memberikan fasilitas ini..(red:video call,skype)

        sebenarnya saya tidak bermaksud mengatakan bahwa yang paling esensial dalam berinteraksi sosial adalah bertatap muka langsung.mungkin lebih tepatnya belom sampe ke kesimpulan itu. esensi dari berinteraksi ya tetap hubungan dua arah yang ditawarkan oleh kedua sistem interaksi, nyata dan maya. Namun, interaksi nyata atau bertatap muka langsung lebih kaya pengalaman indrawi sedangkan interaksi maya tidak segitunya (berusaha tidak mengabaikan teknologi ‘video call’ yang mencoba menduplikat pengalaman indrawi visual dan audio). Dan seperti kata bang iga “interaksi maya memudahkan di satu sisi”, interaksi maya juga kaya tapi kaya akan efisiensi dan efektifitas (waktu, biaya dan semacamnya).

        kalau keduanya memiliki kekayaan masing-masing,lalu kenapa?
        kenapa rasanya interaksi nyata atau bertatap muka langsung terasa lebih nendang ketimbang interaksi maya walau interaksi maya punya kelebihan tersendiri?
        kenapa ketika pengalaman indrawi yang didapat dari bertatap muka langsung terabaikan rasanya ada yang hilang ya?
        bagaimana kalau suatu saat, teknologi bisa menciptakan interaksi maya yang memberi pengalaman indrawi senyata di interaksi nyata?
        apakah interaksi nyata masih akan punya arti?
        (saya beneran jadi bingung sendiri sebenarnya)

        jadi inget satu film.pernah nonton Wall-e?
        film lama sbenernya yang menggambarkan distopia yang sebenarnya sekarang kita sedang meuju ke sana.di film itu dikisahkan dunia nyata benar-benar tergantikan oleh dunia maya. saking fokusnya dengan dunia maya, dunia nyata tak lagi punya arti ya sama kejadiannya dengan pengalaman bang iga di restoran sama temannya bang iga

        saya jadi ingat percakapan dgn teman tentang dunia maya. dari situ saya jadi sadar kalau sebenarnya ada kegiatan sebut saja ‘duplikasi’ (atau ‘simulasi’ ya?saya tidak ingat betul) dunia nyata menjadi sistem pada dunia maya. manusia-manusia digantikan oleh sistem avatar di dunia maya untuk saling berinteraksi.avatar ini bisa berupa macam2. kalau di facebook dan twitter ya bubble2 status kita. manusia dipetakan berdasarkan cuap2 isi pikirannya. dalam sistem yang lebih kompleks, seperti video call (atau sistem interaksi yang menduplikasi pengalaman indrawi lainnya), terjadi penduplikasian yang lebih rumit pastinya. bagaimana bayangan kita ditangkap kamera lalu didefinisikan menjadi pixel2 image yang sensitif terhadap gerak. pasti ada rumusan matriks yang kompleks deh (ini sungguh di luar bidang saya).

        singkat cerita, kalau dalam interaksi maya yang kita temui sebenarnya adalah duplikat atau kasarnya KW-nya teman, saudara, pacar, atau bos kita. yang kita temui adalah sistem buatan, matriks, mesin atau apalah itu.

        bagi yang lebih senang dengan interaksi nyata ketimbang maya (termasuk saya) MUNGKIN adalah orang yang menyangkal bahwa manusia dapat digantikan oleh sistem buatan, MUNGKIN adalah orang yang menyadari bahwa manusia terdiri dari sistem kompleks jiwa dan raga dan tidak bisa tergantikan sepenuhnya dengan penyederhanaan ke dalam rumusan matriks atau MUNGKIN yang lebih menghargai orisinalitas.haha entahlah..

        jadi kesimpulannya, menurut saya, bertatap muka langsung (atau dalam konteks ini interaksi nyata) bukanlah yang paling esensial dalam berinteraksi sosial. tapi dengan bertatap muka langsung memberikan kita kesempatan untuk menjadi lebih manusiawi, lebih menempatkan diri
        kita sebagai manusia yang memiliki 6 indera untuk dimanfaatkan

        hahahahahaha
        maaf bang,sepertinya kemampuan melantur saya semakin parah..

        oya!!
        ironisnya, bagaimanapun saya merutuk-rutuk interaksi dunia maya di atas, nyatanya saya sekarang sedang berinteraksi di dunia maya..hahahahaha

        oya tentang stalking:
        dari dulu kebiasaan ini udah ada bang..contohnya jendela. kenapa ada jendela?karena kita ingin melihat keluar, ingin tahu keadaan luar tanpa keluar dari zona kita. tapi kenapa dibatasi dengan kaca? karena kita ga mau ada orang luar masuk, ga mau air hujan masuk, ga mau udara panas/dingin masuk. kita mau tahu keadaan luar tanpa mau bersentuhan dengan luar itu sendiri.
        bedanya kalau stalking di medsos, jendela itu langsung berhubungan dengan kamar-kamar orang lain..jadi dengan punya banyak akun medsos sebenarnya kita lagi buka banyak jendela di kamar kita untuk diintipin..hehehe

  3. ika candra

    Padahal pada awalnya, alat teknologi yang canggih dibuat untuk “mendekatkan orang-orang yang jauh”, nah kalau sekarang malah “menjauhkan orang-orang yang dekat”. Setuju nggak Iga…???

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s