Monthly Archives: July 2012

Twat Twit Twat Twit

“Bro, tolong RT tweet gw sehari sekali dong! Udah 3 tahun main Twitter followers gw nggak lebih dari 1000 bro!”

Itu adalah kalimat  memuakkan yang dikirim ke smartphone saya beberapa hari lalu. Saya ketawa lantang baca kalimat itu. Ada kesan menyedihkan dan ngarep untuk populer. Beruntung yang ngirim kawan baik saya yang emang orangnya lucu. Tipikal yang sering menertawakan kepedihan hidupnya sendiri dengan cara yang absurd. Saya hanya membalas dengan..

“LOL. Bego lo”

Hari gini social media jadi dua kata berisi jutaan informasi yang saya yakin lebih sering kita baca dibanding kitab suci. Sudahlah akui saja. Banyak dari kita yang baru bangun tidur bukannya berdoa malah ngecek smartphone walau dengan mata belekan dan masih kriyep kriyep. Berharap ada sekedar pesan entah dari siapa. Apa artinya ini?

Artinya adalah..

Semua platform social media baik Twitter, Facebook, Tumblr,dll sudah jadi kebutuhan primer bagi banyak orang. Nggak percaya? Saya pernah mengalami kejadian begini :

Alkisah suatu malam saya dan Dimas Wisnu lagi candle light dinner (ini beneran..) dan setelah kami ngobrol lalu masing masing dari kami sejenak tenggelam ke layar smartphone. Saya sadar duluan, Dimas masih tenggelem. Lalu saya melihat seluruh orang di tempat makan tersebut sedang tenggelam juga di layar smartphone. Dan banyak dari mereka nggak dateng sendiri, tapi berdua atau lebih. Namun mereka tidak saling cakap. Sebuah pemandangan yang janggal namun umum kita temui. Saya lalu manggil Dimas “Mas, coba kamu liat deh tu orang orang. Semua lagi ngeliat layar smartphone mereka..” lalu aku meraih tangan Dimas yang masih belepetan sambel..

Nah itu pengalaman saya waktu pertama kali megang tangan Dimas.

Tae..

Kagak, maksud saya itu pengalaman saya ketika melihat betapa fenomenalnya social media. Ia bisa menyedot kehidupan individu untuk menjadi semakin individualis. Namun ironisnya di lain sisi kehidupan individualis ini adalah tentang melihat kehidupan sosial orang lain!

Nangkep maksud saya?

Ini seperti mau kenyang tapi gak mau makan, mau pergi tapi nggak mau jalan, mau boker tapi nggak mau cebok, mau renang tapi nggak mau basah, dan mau punya anak tapi nggak mau hamil,. Namun menurut saya penggambaran yang paling tepat dari semua ini adalah, mau liat tapi nggak mau ketemu.

Sebagian dari diri kita adalah suka menguntit. Seberapa besar kadarnya tiap orang bisa berbeda, tapi yang jelas rasa itu ada di dalam diri setiap manusia. Bahasa gaulnya ‘stalking’. And yes, we are all stalkers.

Dan kenapa baru sekarang? Karena dulu kita tidak punya kesempatan dan instrumen untuk melakukan hal ini. Sekarang? Silahkan pilih, ada puluhan bahkan ratusan cara untuk menelusuri kehidupan orang lain. Bukan hanya selebritis, namun orang biasa yang kita kenal. Justru ini kan yang lebih seru? Melihat kayak apa sih baju yang dia pake, kemana tempat dia pergi, siapa aja sih temennya, apa sih hobinya, pekerjaannya, musik favoritnya, siapa pacarnya, cantik nggak? ganteng nggak? bermasalah nggak? mungkin nggak gw bisa temenan sama temennya? and the list goes on..

It brings out the devil in us.

Yaaaa tapi kaaaannnn….

Gak semua yang ada di social media itu buruk.

Banyak yang menggunakannya sebagai saran promosi dan motivasi. Banyak juga yang berbagi informasi. Sebenernya ini tergantung gimana kita menyikapinya (KLISEEEEEEE…)

Di masa masa seperti sekarang banyak sekali hal yang bisa dilakukan oleh orang orang brengsek yang tidak bertanggung jawab seputar kehidupan social media. Seperti berbagi informasi bohong (hoax), menyebar fitnah, menguntit orang lain, menebar terror, menganiaya orang lain, sampai melakukan tindak kriminal ke dunia nyata.

Dunia kita sudah berbeda sekarang, kita harus sadari itu. Beradaptasilah semampunya. Karena batas antara realita dan dunia fana kini tidak lagi jauh berseberangan. Tetaplah berpijak ke realita. Tetaplah bertatap muka dan menyapa secara nyata. Karena cara lama terkadang adalah cara yang paling benar.

Akhir kata, saya tuliskan sebuah kalimat dari seorang teman saya. Seorang biduanita bernama Mian Tiara yang sangat mendeskripsikan secara tepat apa yang terjadi di sekitar kita sekarang.

“Senyata dunia maya, semaya dunia nyata”

***

CAST

Mian Tiara

Dimas Wisnu

Berlalu

“Dalam keseharian yang memabukkan. Seiring dengan sadar yang memudar, hal hal bernilai yang tertinggal dan terinjak dengan gamblang.”

Halo!

Sudah lama sekali saya nggak nulis apa apa di blog ini. Rasanya kangen juga. Banyak sekali hal yang sudah saya lewati, namun rasanya terlalu enggan untuk menceritakan apa yang sudah terjadi.

Saya juga sadar kok rasanya lama lama blog ini jadi suka kelewat serius. Bukan itu artinya jelek, tapi kok kayanya saya jadi orang yang serius banget ya. Padahal kesehariannya biasa biasa aja. Cenderung ngehek kata sebagian temen temen saya.

Saya nggak suka Serius. Udah bubar.

Serius Black masih keren.

Tuh jadi garing kan.

NYET GARING NYETTTTTTT…..