Kontes Anak (atau kontes orang tua?)

Baru baru ini saya melihat sebuah foto anak kecil di Facebook. Anak perempuan sekitar umur 1 tahun, anaknya berdandan lucu dengan baju dan pita merah di kepalanya. Foto sang anak sedang tertawa. Ekspresinya sangat lucu. Namun kemudian saya merasa ada yang janggal..

Karena anak kecil itu menuliskan sebuah pesan di Wall Facebook teman saya yang berisi

“haaiiyy…

nama ak, Annisa Putri (bukan nama sebenernya), ak lahir di Jakarta pada tanggal 18 September 2010, sekarang ak sudah menginjak 6 Bulan
tolong VOTE ak ya eyang, kakek, makaji, babaaji, om, tante, cing, cang, semoga ak menang dan bisa membahagiakan kedua orang tua ku AMIN”

Saya agak kaget membaca ini, apakah anak umur 1 tahun zaman sekarang  sudah bisa membuat Facebook? Kalo bisa menurut saya agak sedikit gila. Mungkin anaknya jenius sekali sampai bisa mengetik keyboard komputer dan log in ke Facebook. Karena biasanya anak umur segitu ngomong sama jalan aja masih belom bener. Lalu siapa yang mengatasnamakan sang anak untuk menulis hal yang mungkin tidak terlintas di pikirannya? Tersangka utama tentu saja tidak lain adalah..

Orang tuanya sendiri.

Menurut saya ini adalah sebuah tindakan egois. Sangat egois bahkan. Ketika orang tua sang anak memanipulasi sosok anak tersebut ke masyarakat dan melakukan hal yang kemungkinan besar tidak didasari oleh keinginan anak itu sendiri. Anak umur 1 tahun sudah berpikir untuk memenangkan sebuah kontes untuk membahagiakan kedua orang tuanya? Demi Tuhan ini tidak masuk akal. Ini adalah murni keinginan orang tua untuk dapat berbangga atas kemenangan anaknya.

Saya rasa ada batasan wajar akan hal ini, saya pernah punya pengalaman serupa tentang kontes anak. Seorang kawan lama saya, Ia kini jadi seorang ibu yang mengikutsertakan anaknya kedalam sebuah kontes anak. Lalu caranya meminta dukungan kepada orang lain adalah dengan cara mengirim pesan personal kepada tiap tiap kawannya (bukan message yg ‘sent to all’) agar memberi voting ke foto anak tersebut. Dengan penyampaian yang kurang lebih intinya adalah seperti ini

“Ga gw mau minta tolong, vote Rasya ya biar dia menang kontes. Thanks :)” 

Isinya jauh lebih panjang dari kalimat di atas. Tapi kira kira seperti itu. Menurut saya ini adalah cara logis yang lebih bermartabat daripada contoh wacana dalam tulisan ini.

Ketika dari kecil sang orang tua sudah mengatasnamakan sang anak untuk kepentingan mereka, apa jadinya nanti ketika sang anak beranjak dewasa? Apakah mereka akan mengarahkan sang anak dalam porsi yang tidak masuk akal? Karena terlihat sekali bahwa dari cara mereka sekarang, mereka adalah calon orang tua yang sangat menyebalkan!

Dan ini sudah jelas melangkahi hak asasi sang anak sebagai manusia. Kenapa? Ya karena memang sang anak tidak mengatakan apa apa, namun orang tua mereka yang memalsukan kalimat yang berisikan kepentingan mereka lewat identitas sang anak. Ini sudah gila menurut saya.

Hei orang tua, cobalah untuk berpikir lebih jauh. Kontes ini apakah untuk kepentinganmu atau kepentingan anakmu? Kalau memang itu kepentinganmu maka jalani semua ini dengan dirimu sendiri. Dan jika itu melibatkan anakmu, harus kau tahu apakah Ia mau. Karena anakmu, bukanlah orang dewasa kecil. Anakmu adalah manusia yang belum mengerti tentang apa yang kau pahami. Maka lebih dulu, kau pahami mereka! Karena kelak di mata mereka akan menyadari tentang apa arti kata ‘Dewasa’.

Advertisements

14 thoughts on “Kontes Anak (atau kontes orang tua?)

  1. samsudin batogol

    Gua dulu waktu umur 12 bulan, juara 1 balita sehat versi majakah Ayah Bunda, and I am still proud of my first ever achievement on my life, even before I was able to speak! Waktu umur 5 tahun, gw model iklan sirup obat batuk versi cetak. Waktu umur 6 tahun, bibit-bibit cynic mulai terbentuk. dan puncaknya pada umur 8 tahun, I am becoming a full-time cynic. Tau gak lo cynic? itu lho, tempat yang harus lo kunjungi kalo lagi meriang…

    Reply
  2. lukman

    Anjerrr setuju bgt gue ga, kalo dari kecilnya udah gitu, gak ragu kenapa gedenya anak2 jadi diatur banget sama orang tuanya, sampe dalam milih jurusan kuliah aja ampe diatur-atur banget. Set deh kalo gitu kapan tuh orang bisa menentukan keputusan apa terbaik buat dirinya (sotoy mode : on) -.-”

    Reply
    1. igamassardi Post author

      Intinya bukan mengatur, tapi mengarahkan sesuai ketertarikan anak tersebut. Udah nggak jaman stres akibat salah masuk jurusan gara gara dipaksa orang tua.

      Reply
  3. anne

    betul. tapi yang lebih ga masuk akal dan ga jelas adalah para orang tua yang bikinin akun jejaring sosial untuk anak mereka yg masih balita dan aku ini mereka sendiri yang update, memfollow dan difollow oleh temen2 mereka juga. buat apa coba -.-

    Reply
    1. igamassardi Post author

      Mungkin kalo sekedar membuat akun selama dalam taraf yang wajar sih masih bisa dimaklumi,karena orang tua pasti punya rasa kebanggaan tersendiri sama anaknya. Sama kaya dulu ketika orang tua kita punya album foto kita waktu kecil yang selalu ditunjukkin ke sodara sodara ketika mereka main kerumah. Di era modern ini ya mungkin album foto udah bermutasi jadi Facebook dan Twitter, semua baik asal jangan sampai sifatnya memanipulasi akun sang anak tersebut untuk kepentingan orang tuanya.

      Reply
  4. sabsabrinaa

    aaa nice post bang 😀
    this goes as my only question : when finally the kid get the trophy home, who have to be proud of this ya ? the kid or the parents o.O

    Reply
  5. emillia

    mas iga ini hebat ya. Bisa bebas mengutarakan apa aja ( that’s what i think after reading some of ur entries )

    seandainya saya juga bisa jadi seseorang yg menentukan cita2 saya, jadi komikus, jadi pemusik… ga diatur-atur, saya udah cukup jadi anak penurut selama ini

    hmmmmm bravo!!!

    Reply
  6. Zaldy Setya Nugraha Watulingas

    seringkali melihat kenyataan yang pahit bahwa seorang anak menjadi sesuatu yang tidak diinginkan..paradigma dimana orang tua selalu menjadi tembok akan suatu impian seorang anak..sangat disayangkan,akan tetapi sekarang adalah suatu momentum dimana anak harus dapat berkembang dan bermimpi akan dirinya sendiri n dunia akan kembali tersenyum dan berwarna akan suatu keceriaan yg nyata..

    Reply
  7. sigit nugroho

    pada saat anak menentukan impian yang dia mau, pasti ada pertentangan yang menurut saya aneh dalam hati saya. zaman sekarang aja masih aja pemikiran masa depan bagus dokterlah, akuntan, pengacara, PNS, BUMN, yang lain kemanakah? zaman sekarang pemikiran itu sudah kuno sekarang profesi banyak gak cuma itu doang.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s