Monthly Archives: May 2011

SKILL atau IMAJINASI?

Menurut saya IMAJINASI dan SKILL adalah dua hal inti dalam bermusik, skill adalah pendukung dan imajinasi adalah tentang siapa kita dan apa yang mau kita buat, nah imajinasi yang hebat tentu membutuhkan keahlian yang hebat juga untuk mewujudkannya dalam bentuk yang sempurna. Untuk itu dibutuhkan yang namanya SKILL. Percuma jika kita punya ide hebat namun nggak bisa merealisasikannya, atau sudah direalisasikan tapi hasilnya jauh dari ekspektasi. Ini disebabkan salah satunya adalah skill yang tidak mumpuni untuk mendukung ide tersebut.

Jimi Hendrix pada masanya adalah orang yang penuh dengan terobosan terobosan dalam hal musik baik dari segi rekaman maupun live performance. Itu semata mata bukan karena skill belaka, banyak gitaris yang mempunyai skill setara bahkan lebih baik dari dia saat itu. Seperti Clapton, Townshend, dan Beck,dll. Tapi yang membedakan Jimi dengan mereka adalah karena idenya. Ide dan imajinasi dia dalam menciptakan musik dimana hanya dia yang bisa membuat musik seperti itu pada saat itu. Ya, imajinasi berkaitan erat dengan karakter dan orisinalitas karya musisi tersebut.

Hari ini begitu banyak gitaris blues yang luar biasa hebat secara skill, namun bisa ambil contoh pemain seperti Derek Trucks. Diantara ribuan bahkan jutaan gitaris blues Ia bisa dikenali dengan mudah lewat permainan slidenya yang luar biasa indah. Menurut saya itu adalah imajinasi dia akan nada yang kemudian diterapkannya dengan dasar kemampuan yang terasah. Banyak sekali tentunya pemain slide yang secara skill bisa lebih cepat,lebih keren,lebih teknikal daripada Derek. Tapi ketika urusannya adalah nada atau not yang dimainkan, itu kembali kepada diri masing masing. Dan Derek, adalah salah satu yang terbaik dalam hal ini. Eric Clapton loves Derek, and we don’t argue with Eric Clapton.

Dan mari kita ambil contoh lain yang lebih mendasar. Tentunya sering kita melihat aksi aksi panggung para gitaris yang ada disekitar kita. Nah, dari situ bisa kita liat sendiri kan mana yang bermain enak dan mana yang bermain asal kebut-tabrak-lari. Disitu terlihat dan terdengar jelas bahwa skill memang tidak bisa selau dijadikan panutan, tentu kita akan terkesima jika ngeliat gitaris yang bisa main super ngebut,tapi itu akan bertahan berapa lama? Berapa detik sebelum kita memutuskan untuk berpikir ‘Ni orang main apaan sih,nadanya nggak jelas.Cabut ah’
Atau ada juga gitaris yang memilih nada enak tapi mainnya berantakan, yang harusnya nada kepencet eh malah keserimpet atau ‘jambuklutuk’
Lalu ada gitaris yang bermain dengan tempo wajar dengan permainan yang menghasilkan harmoni nada yang indah, yang bisa menyatu dengan musik secara keseluruhan, tentunya kita tidak akan pernah bosan untuk mendengar hal ini. Karena musisi mencintai harmoni dalam nada. Dan ini kawan kawan, adalah imajinasi sang gitaris akan harmonisasi.

Dari sini kita sudah bisa memutuskan mana yang lebih penting, imajinasi atau skill. Menurut saya tidak ada yang lebih penting. Karena keduanya sangat berkaitan dan saling membutuhkan. Imajinasi bisa dikaitkan erat dengan visi bermusik, dan skill yang baik selalu dibutuhkan untuk menunjang ide tersebut.

Kira kira begitu.. 🙂

Legally BLONDE

Akhirnya setelah menimbang pemikiran, keputusan berujung bulat. Akuisisi si pirang pun terpenuhi di akhir hari. Dalam tempo yang relatif cepat, memang harus nekat. Apa yang terjadi setelahnya, hanya Tuhan yang tau. Tapi ketika hal yang berdasar kebaikan dilakukan, maka Insya Allah hasilnya akan baik juga. Itu doa dan harapan saya..

“Lo ngemeng ape sih Ga dari kemaren blan blon blan blon!?”

Mwahahaha..!!

Ini maksud gw!! Dan gw SANGAT SUPER SENANG SEKALI!!!

It’s a TELECASTER and it’s BLONDE!! Wooohooo!!

Blonde

Take it or leave it, kata The Strokes.

Haruskah diambil? atau ditinggalkan saja?

Sedang dilanda bimbang dan pertimbangan, namun ketika itu semua terjadi saya minta nasehat konkret kepada orang terdekat yaitu ibu saya. Karena doa dan restu orang tua terutama ibu adalah berkah yang mutlak. Seperti yang memang sudah diajarkan oleh Al Quran. Tidak terbantahkan.

Sudah terlanjur jatuh cinta, tapi untuk membawanya pulang masih harus berpikir jernih sejenak. Harus dipikir masak masak. Namun kata ibu rejeki tidak kemana, berbekal kalimat tersebut maka hasrat pun seakan diberi semangat.

Apa daya godaan memang memikat, dan kadang kenyataannya berbenturan dengan keinginan. Kalo sudah begini ya tinggal nekat aja.

Semoga apapun yang terjadi dalam beberapa hari kedepan adalah keputusan tepat. Saya harus baca Bismilllah. Itu adalah pesan ibu saya.

🙂

Kontes Anak (atau kontes orang tua?)

Baru baru ini saya melihat sebuah foto anak kecil di Facebook. Anak perempuan sekitar umur 1 tahun, anaknya berdandan lucu dengan baju dan pita merah di kepalanya. Foto sang anak sedang tertawa. Ekspresinya sangat lucu. Namun kemudian saya merasa ada yang janggal..

Karena anak kecil itu menuliskan sebuah pesan di Wall Facebook teman saya yang berisi

“haaiiyy…

nama ak, Annisa Putri (bukan nama sebenernya), ak lahir di Jakarta pada tanggal 18 September 2010, sekarang ak sudah menginjak 6 Bulan
tolong VOTE ak ya eyang, kakek, makaji, babaaji, om, tante, cing, cang, semoga ak menang dan bisa membahagiakan kedua orang tua ku AMIN”

Saya agak kaget membaca ini, apakah anak umur 1 tahun zaman sekarang  sudah bisa membuat Facebook? Kalo bisa menurut saya agak sedikit gila. Mungkin anaknya jenius sekali sampai bisa mengetik keyboard komputer dan log in ke Facebook. Karena biasanya anak umur segitu ngomong sama jalan aja masih belom bener. Lalu siapa yang mengatasnamakan sang anak untuk menulis hal yang mungkin tidak terlintas di pikirannya? Tersangka utama tentu saja tidak lain adalah..

Orang tuanya sendiri.

Menurut saya ini adalah sebuah tindakan egois. Sangat egois bahkan. Ketika orang tua sang anak memanipulasi sosok anak tersebut ke masyarakat dan melakukan hal yang kemungkinan besar tidak didasari oleh keinginan anak itu sendiri. Anak umur 1 tahun sudah berpikir untuk memenangkan sebuah kontes untuk membahagiakan kedua orang tuanya? Demi Tuhan ini tidak masuk akal. Ini adalah murni keinginan orang tua untuk dapat berbangga atas kemenangan anaknya.

Saya rasa ada batasan wajar akan hal ini, saya pernah punya pengalaman serupa tentang kontes anak. Seorang kawan lama saya, Ia kini jadi seorang ibu yang mengikutsertakan anaknya kedalam sebuah kontes anak. Lalu caranya meminta dukungan kepada orang lain adalah dengan cara mengirim pesan personal kepada tiap tiap kawannya (bukan message yg ‘sent to all’) agar memberi voting ke foto anak tersebut. Dengan penyampaian yang kurang lebih intinya adalah seperti ini

“Ga gw mau minta tolong, vote Rasya ya biar dia menang kontes. Thanks :)” 

Isinya jauh lebih panjang dari kalimat di atas. Tapi kira kira seperti itu. Menurut saya ini adalah cara logis yang lebih bermartabat daripada contoh wacana dalam tulisan ini.

Ketika dari kecil sang orang tua sudah mengatasnamakan sang anak untuk kepentingan mereka, apa jadinya nanti ketika sang anak beranjak dewasa? Apakah mereka akan mengarahkan sang anak dalam porsi yang tidak masuk akal? Karena terlihat sekali bahwa dari cara mereka sekarang, mereka adalah calon orang tua yang sangat menyebalkan!

Dan ini sudah jelas melangkahi hak asasi sang anak sebagai manusia. Kenapa? Ya karena memang sang anak tidak mengatakan apa apa, namun orang tua mereka yang memalsukan kalimat yang berisikan kepentingan mereka lewat identitas sang anak. Ini sudah gila menurut saya.

Hei orang tua, cobalah untuk berpikir lebih jauh. Kontes ini apakah untuk kepentinganmu atau kepentingan anakmu? Kalau memang itu kepentinganmu maka jalani semua ini dengan dirimu sendiri. Dan jika itu melibatkan anakmu, harus kau tahu apakah Ia mau. Karena anakmu, bukanlah orang dewasa kecil. Anakmu adalah manusia yang belum mengerti tentang apa yang kau pahami. Maka lebih dulu, kau pahami mereka! Karena kelak di mata mereka akan menyadari tentang apa arti kata ‘Dewasa’.

Night, the darkest

I’m looking through a hole in the sky
I’m seeing nowhere through the eyes of a lie
I’m getting closer to the end of the line
I’m living easy where the sun doesn’t shine

I’m living in a room without any view
I’m living free because the rent’s never due
The synonyms of all the things that I’ve said
Are just the riddles that are built in my head

Hole in the sky, gateway to Heaven Window in time, through it I fly

I’m seeing the stars that disappear in the sun
The shooting’s easy if you’ve got the right gun
And even though I’m sitting waiting for miles I don’t believe there’s any future in cars

Hole in the sky, gateway to Heaven
Window in time, through it I fly

I’ve watched the dogs of war enjoying their feast
I’ve seen the western world go down in the east
The food of love became the greed of our time
But now we’re living on the profits of crime

Hole In The Sky, Black Sabbath. Great lyric, great music. Religion.

Morning..

On the ring..

The colder the night gets,
The further she strays.
And he doesn’t like it,
Being this way.
And she tried so hard to steer away from the meeting place,
But her heart had led her there.
She clings to his consciousness,
Wherever he lays.
He struggles to sleep at night and during the day.
He’s worried she’s waiting in his dreams to drag him back to the meeting place.
His love had left him there.
Where her voice still echoes,
I’m sorry I met you darling,
I’m sorry I met you.
As she turned into the night, all he has was the words,
I’m sorry I met you darling,
I’m sorry I left you.
For weeks they had strolled around,
Playing the fools.
They knew the time would come and time would be cruel
Because it is cruel to everyone
He’s crying out from the meeting place
He’s stranded himself there

The Meeting Place, The Last Shadow Puppets.

Beautiful.