Jammed.

Kata Albert Hammond “It’s hard to live in the city”

Dalam beberapa sisi ada benarnya juga, hidup dikota memang tidak selalu indah dan aman. Terkadang sebaliknya yang malah terjadi. Saya langsung menuju ke lalu lintas.

Sudah kenal dan sudah akrab dengan ini?

Banyak teman teman saya di Twitter yang mengeluh tentang apa yang mereka alami di lalu lintas Jakarta. Macet selalu jadi primadona Twitter di pagi dan sore hari menjelang malam. Banyak yang menjadi kambing hitam, yang paling sering disebut adalah kinerja Foke yang menurut sebagian orang Jakarta gagal menyelesaikan masalah macet. Padahal kalo diliat liat lagi secara bijak, apakah bener ini semua gara gara kelalaian satu orang saja?

Kalo saya pribadi daripada gila dan tua dijalan mending cari cara lain, saya akan memilih bersepeda. Dan sebagian orang yang cukup cerdas akan memilih sarana angkutan umum. Masalah kenyamanan memang jelas tidak seperti mobil pribadi yang memiliki AC dan sound system baik dengan playlist favorit, tapi mungkin jika para pengendara mobil yang biasanya berisi 1 atau 2 orang saja mau memarkir kendaraannya dirumah dan bersama sama naik kendaraan umum niscaya kendaraan di Jakarta akan berkurang dan otomatis macet pun bisa diredam.

Saya tau bahwa pendapat ini akan dibantah dengan argumen “Ih naek angkot disini kotor, jorok, nggak aman,nggak on time, dsb dsb..”

Saya juga nggak akan menyalahkan itu, karena sifatnya pilihan pribadi. Jika memang menganggap mobil pribadi adalah yang terbaik maka silahkan nikmati macet tersebut tanpa keluh. Kita harus menghadapi kenyataan bahwa kita hidup didalam sistem negara yang ‘masih berkembang’. Bahwa tidak setiap masalah langsung teratasi dalam waktu singkat dan dengan penanganan yang benar. Jika bukan kita yang pintar pintar untuk menyesuaikan diri, maka kita sendiri yang akan habis. Itulah kenyataan pahit yang memang sudah sepantasnya kita terima sebagai penduduk negeri luar biasa ini.

Pesimis? bukan, ini realistis.

Saya merasa sedikit lebih merdeka dijalan dengan bersepeda. Merasa bahwa saya bisa melakukan banyak hal. Ketika macet saya bisa cari jalan tikus, ketika mendadak kebelet saya nggak repot cari parkir, ketika laper tinggal berhenti di tukang bakpao atau warung nasi, dan ketika lihat ‘pemandangan’ bisa langsung berhenti dan menikmati. Sederhana dan menyenangkan. Tentu tidak selamanya menyenangkan juga naik sepeda, pertama jelas lebih capek dari naik mobil atau motor, kedua pasti kepanasan dan kehujanan, ketiga masih sesekali dianggap enteng dan diserobot kendaraan lain seperti angkot dan motor yang ugal ugalan. Tapi kalo udah begini emang paling enak adu kuat otot leher. Hahaha, ini agar mereka para pengendara liar tidak menganggap remeh para pengayuh sepeda. Dan untungnya sejauh ini mereka selalu ‘mengerti’ πŸ˜€

Mungkin ada baiknya untuk kita agar mencari jalan lain agar bisa keluar dari tragedi kemacetan di Jakarta yang setiap pagi tidak kunjung membaik malah semakin membusuk ini. Saya tau kalian adalah orang orang pintar yang senantiasa memiliki akal untuk mencari penyelesaian untuk diri kalian sendiri.

Korban macet dan pelaku macet, adakah perbedaannya?

Advertisements

10 thoughts on “Jammed.

  1. juwita

    saya juga sering diserobot dan diteriaki, “minggir neng” ketika bersepeda…padahal kurang minggir apa saya ini, hampir nyebur got.

    heran saya.

    Reply
  2. niken

    beruntung saya naik bis umum tiap hari bolak balik kampus

    dari balik jendela bis ngeliatin orang nyetir yang stress sambil duduk manis nyender dengerin mp3 dan membiarkan pak supir melakukan tugasnya πŸ™‚

    Reply
  3. wanchuy

    naik KRL seru juga lho..
    saya udah naik KRL selama 4tahunan. seru.

    udah pernah ada: adegan penjambretan, tawuran lempar-lemparan batu (dr kerikil sampe batu bata) di stasiun, dan menyaksikan perjuangan kaum marjinal tentunya yg membuat saya bersyukur diciptakan spt saya sekarang ini πŸ™‚

    Reply
  4. aquilla

    aw aw ini Iga yg bikin?
    Makin ngefans gue haha :p
    iya loh, gue juga sering bilangin temen2 gue yang ngeluh mulu karena macet. Padahal macet kan gara2 dalam satu keluarga itu mungkin dua atau bahkan tiga mobil yg dikeluarkan dlm waktu bersamaan. Maksud gue tuh ya gpp kalo bawa mobil, tapi berhubung mereka macet tinggal duduk (bg mereka yg disupirin) kenapa masih ngeluh?
    Bule2 aja banyak kok yg pake busway hehe
    ya gpp juga sih hehe

    Reply
  5. presyl

    SETUJUUUU!!
    secara saya jg salah satu karyawan pemda dki dimana si foke yang menjadi bos selalu dijadiin tumbal caci maki orang2.

    hey, kita juga usaha kok gimana caranya mengatasi kemacetan, tapi gw tau itu bukan kerjaan gampang. ga cuma kerjaan pemerintah doang, dari diri sendiri juga harus ada kesadaran.

    coba tengok mobil pribadi orang2? liat bangku kosong yang mereka punya? kenapa ga mereka berangkat bareng2 keluarga aja klo mau naik mobil pribadi? kenapa satu keluarga 4 orang, empat2nya naik mobil sendiri2? yaa intinya semua juga harus ikut berpartisipasi dong biar ga macet

    *emosi-pns-yang-ikut-juga-dikata-katain*

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s