Monthly Archives: February 2011

Wipe the cat poo

Alkisah kita sedang ada di tengah pantai yang sangat indah dan di sana terdapat banyak orang orang yang cantik dan keren. Namun tiba tiba ketika sedang berjalan kita nggak sengaja menginjak tai kucing. Iya saya tau emang rada absurd nginjek tai kucing di pantai, tapi anggep aja begitu. Tentunya menyebalkan sekali bukan? Dan mengenai hal ini kita punya dua pilihan. Pilihan pertama adalah kita bisa kesel dan hilang mood untuk menikmati pantai indah dan orang orang yang ada di sana karena nggak sengaja nginjek tai kucing atau sebagai pilihan kedua adalah kita bisa segera membersihkan kaki dari kotoran itu lalu melanjutkan menikmati pantai dengan hati yang bahagia.

Moral dari cerita ini adalah bahwa kita sebagai orang biasa lebih sering fokus ke hal hal negatif yang kita alami dalam tiap tiap hari yang kita lewati. Padahal begitu banyak hal positif yang bisa kita syukuri.

Jadi semoga dengan ini kita bisa tidak lagi memikirkan hal hal kecil yang mengesalkan dengan lebih melihat ke hal hal kecil yang menyenangkan. Toh sama sama kecil bukan? Lantas apa bedanya?

Karena bahagia dan sedih adalah sebuah pilihan.

🙂

Advertisements

Jammed.

Kata Albert Hammond “It’s hard to live in the city”

Dalam beberapa sisi ada benarnya juga, hidup dikota memang tidak selalu indah dan aman. Terkadang sebaliknya yang malah terjadi. Saya langsung menuju ke lalu lintas.

Sudah kenal dan sudah akrab dengan ini?

Banyak teman teman saya di Twitter yang mengeluh tentang apa yang mereka alami di lalu lintas Jakarta. Macet selalu jadi primadona Twitter di pagi dan sore hari menjelang malam. Banyak yang menjadi kambing hitam, yang paling sering disebut adalah kinerja Foke yang menurut sebagian orang Jakarta gagal menyelesaikan masalah macet. Padahal kalo diliat liat lagi secara bijak, apakah bener ini semua gara gara kelalaian satu orang saja?

Kalo saya pribadi daripada gila dan tua dijalan mending cari cara lain, saya akan memilih bersepeda. Dan sebagian orang yang cukup cerdas akan memilih sarana angkutan umum. Masalah kenyamanan memang jelas tidak seperti mobil pribadi yang memiliki AC dan sound system baik dengan playlist favorit, tapi mungkin jika para pengendara mobil yang biasanya berisi 1 atau 2 orang saja mau memarkir kendaraannya dirumah dan bersama sama naik kendaraan umum niscaya kendaraan di Jakarta akan berkurang dan otomatis macet pun bisa diredam.

Saya tau bahwa pendapat ini akan dibantah dengan argumen “Ih naek angkot disini kotor, jorok, nggak aman,nggak on time, dsb dsb..”

Saya juga nggak akan menyalahkan itu, karena sifatnya pilihan pribadi. Jika memang menganggap mobil pribadi adalah yang terbaik maka silahkan nikmati macet tersebut tanpa keluh. Kita harus menghadapi kenyataan bahwa kita hidup didalam sistem negara yang ‘masih berkembang’. Bahwa tidak setiap masalah langsung teratasi dalam waktu singkat dan dengan penanganan yang benar. Jika bukan kita yang pintar pintar untuk menyesuaikan diri, maka kita sendiri yang akan habis. Itulah kenyataan pahit yang memang sudah sepantasnya kita terima sebagai penduduk negeri luar biasa ini.

Pesimis? bukan, ini realistis.

Saya merasa sedikit lebih merdeka dijalan dengan bersepeda. Merasa bahwa saya bisa melakukan banyak hal. Ketika macet saya bisa cari jalan tikus, ketika mendadak kebelet saya nggak repot cari parkir, ketika laper tinggal berhenti di tukang bakpao atau warung nasi, dan ketika lihat ‘pemandangan’ bisa langsung berhenti dan menikmati. Sederhana dan menyenangkan. Tentu tidak selamanya menyenangkan juga naik sepeda, pertama jelas lebih capek dari naik mobil atau motor, kedua pasti kepanasan dan kehujanan, ketiga masih sesekali dianggap enteng dan diserobot kendaraan lain seperti angkot dan motor yang ugal ugalan. Tapi kalo udah begini emang paling enak adu kuat otot leher. Hahaha, ini agar mereka para pengendara liar tidak menganggap remeh para pengayuh sepeda. Dan untungnya sejauh ini mereka selalu ‘mengerti’ 😀

Mungkin ada baiknya untuk kita agar mencari jalan lain agar bisa keluar dari tragedi kemacetan di Jakarta yang setiap pagi tidak kunjung membaik malah semakin membusuk ini. Saya tau kalian adalah orang orang pintar yang senantiasa memiliki akal untuk mencari penyelesaian untuk diri kalian sendiri.

Korban macet dan pelaku macet, adakah perbedaannya?