SORE (hari)

Sangat mencintai untuk bersepeda pada pukul 4 hingga adzan Maghrib.

Bertatap muka dengan orang orang, menghirup aroma aneka jajanan yang baru saja matang, menikmati mandi matahari yang tidak menyengat, tawa anak anak, hingga akhirnya matahari pamit pulang.

Karena saya akhir akhir ini muak dengan wajah datar bersinar yang memunculkan aneka kalimat orang orang yang saya kenal AKA komputer.

Dan memutuskan keluar rumah adalah langkah yang tepat.

Dalam percakapan random saya tadi di bengkel bertemu dengan mantan pemain sepak bola (timnas) yang bercerita tentang sepedanya hingga kemudian berbagi perasaan tentang perang batin yang dialaminya ketika sang anak laki lakinya tidak mendapat restu beliau untuk menjadi pemain sepak bola profesional seperti ayahnya.

Sang ayah mendidiknya jadi pemain sepak bola sejak kecil, namun ketika ibarat sang burung keci hendak mengepak sayapnya, Ia tidak mendapat restu sang induk. Sang anak tentu saja berontak dan merasa diperlakukan tidak adil.

Jika memang tidak diizinkan untuk menjadi pemain bola, mengapa sang ayah melatihnya untuk menjadi itu sejak kecil?

Ironis memang, atlit sepak bola melarang anaknya untuk menjadi seperti dirinya.

Sang atlit ini tentu saja menerima kecaman dari berbagai lapisan sosialnya. Namun Ia hanya ingin anaknya sekolah dengan layak dan memiliki karir yang pasti serta tabungan dimasa tuanya kelak.

Saya mendengar cerita ini sedikit terharu, walau setting lokasinya adalah bengkel sepeda kecil pinggir jalan yang dilalui banyak kendaraan saya tetap merasa terenyuh mendengar curahan hati sang bapak. Bagaimana hari hari penuh sindir dan argumen sang anak Ia telan semua sebagai konsekuensi keputusannya hingga kini sang anak sudah sukses bekerja disebuah perusahaan otomotif ternama.

Sang anak mulai menerima jalan hidup yang diberikan sang ayah untuknya.

Dengan senyum dan logat Surabaya yang sangat kental, terdengar sesekali nada pilu yang tidak Ia coba sembunyikan, namun terkadang juga berapi api menceritakan betapa dahsyatnya perlakuan dari teman teman dekatnya sesama atlit. Yang sepertinya mengecap Ia sebagai ayah yang tidak adil untuk anaknya sendiri. Seperti matahari yang enggan membiarkan bulan untuk memantulkan cahayanya.

Sungguh sebuah percakapan random penuh maknya yang saya alami disore hari ini.

Membuat saya semakin cinta sore yang cerah seperti saat ini. Membuat saya ingin melaju lagi. Membuat saya ingin mensyukuri. Dan ingin menemui beliau dan orang orang seperti dirinya lagi.

: )

Advertisements

4 thoughts on “SORE (hari)

  1. Milta Muthia

    naik angkutan umum sejenis damri dan angkot sepulang kerja di sore hari juga selalu banyak cerita Mas Iga.. 🙂

    suka sekali dengan cerita ini, selalu ditunggu untuk cerita lainnya..

    @ Juwita : Hallo.. 😀

    Reply
  2. yoga

    schizophrenia lover, pessimistic syndrome, baseless fear, lack of socially, solitaire.. ckck.. extremely pathetic.. go to a moat please..( itu yang saya tangkap )

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s