Our Sweet Seventeen.

Hari ini tidak merubah Indonesia menjadi semakin apapun. Sudah saatnya kita berhenti menjadi bangsa yang naif. Yang bertindak dan bersadar diri dengan reaktif dan menunggu momen baru lantas bergerak dan berubah.

Sudah bosan rasanya saya bertemu dengan hal hal kecil yang di angkat sedemikian rupa. Video lipsync murahan jadi berita nasional, skandal sex artis hingga dibahas pidato presiden. Sebegitu lugunya kah kita?

Apakah dengan segala kebrengsekan yang kita buat, kerusakan yang kita lahirkan dengan sukacita, kita masih bisa terheran heran dengan anomali anomali sosial picisan? seakan akan kita adalah orang suci yang tidak biasa melakukan tindak kelainan dan penganiayaan moral. Seperti terperanjat melihat orang menelan kerikil padahal kita biasa menjilat kotoran anjing.

Berhentilah jadi bangsa kagetan. Ketika hari kemerdekaan lantas semua berseru layaknya nasionalis sejati. Ketika di bombardir teroris lantas semua menjadi #unite.Namun sekarang kemana perginya itu semua? Besok? Kemana? Kemana? Tanya dan jawab pada diri anda sendiri.

Saya bukan tidak nasionalis, saya realistis.

Perlukah upacara bendera? Mungkin yang hadir disana adalah karena takut akan sanksi, dan berjuang melawan kantuk serta rasa malas menghadapi ritual siksaan omong kosong selama kurang lebih 45 menit. Tapi mungkin ada juga yang datang dengan penuh kesadaran. Mungkin..

Indonesia ada di darah. Indonesia ada di pikiran. Indonesia ada di dalam ludah yang anda percik di jalanan.

Bercerminlah. Lihat siapa yang ada disana.. Indonesia? atau bekas bekas penjajahan serial TV dan budaya Amerika?

Bercermin dan rasakanlah dengan sadar.. Siapa kita sesungguhnya.

Advertisements

20 thoughts on “Our Sweet Seventeen.

  1. wenzrawk

    Tulisan yang keren. Sangat setuju, Ga! Selalu ada cara berbeda dalam memandang nasionalisme, ini salah satunya.

    Reply
  2. indira

    cuma ingin menanggapi masalah #unite. jujur saya terganggu dengan keberadaan si #unite ini dan juga si pengusungnya.
    awalnya saya pikir “wah hebat!” tapi lama-lama memuakkan. cuma omong kosong menurut saya.
    dan makin kesini makin sadis. si pengusung ide mulai mengatur2 bagaimana kita harus bersikap sebagai warga negara. mulai berusaha mengarahkan kita ke jalan yg ideal menurutnya.

    terutama di situs microblog itu. yang akhirnya mengingatkan saya untuk bertanya: apa sebetulnya goal dr gerakan ini? targetnya apa? kalau saya perhatikan, yg dilakukan cm membawa nama Indonesia dan hashtag2nya menjadi trending topic. hebat. lalu apa? terus kenapa?
    karena menurut saya berkoar-koar seperti itu tidak menyelesaikan masalah. bukan teriakan-teriakan yg dibutuhkan negeri ini, tapi penghayatannya di dalam hati.

    Reply
    1. igamassardi Post author

      membaca komentar ini saya tersenyum. memang sebuah refleksi yang sangat tepat tentang kepribadian Indonesia. Baik? Buruk? anda dan saya punya jawaban yang kurang lebih sama. Thanks sudah membaca! πŸ™‚

      Reply
    2. Joesep

      keren, gw pengen nulis kayak gini… tapi selalu macet saking banyaknya kotoran di otak yang nutupin ide2 gw.

      “si pengusung ide mulai mengatur2 bagaimana kita harus bersikap sebagai warga negara. mulai berusaha mengarahkan kita ke jalan yg ideal menurutnya”—-> hahaha, ngena banget nih sob.. moga2 si empunya baca ini!

      Reply
  3. Qodrina Janmi Prapti

    tulisannya bagus sekali! sangat mengena, kita memang hanya bisa terlena dengan gerakan-gerakan yang semu dan sementara yang memanfaatkan moment-moment tertentu untuk menunjukkan nasionalisme. semoga tulisan ini bisa membuka cara pandang saya tentang nasionalisme itu sendiri.

    Reply
  4. cemara

    “Berhentilah jadi bangsa kagetan.” Sangat setuju sama tulisan Kak Iga yang ini.
    Sebenernya perlu berapa banyak teroris untuk membangunkan nasionalisme bangsa? Perlu berapa banyak selebritis luar negeri yang memuji-muji Indonesia supaya kita mau bangga sama negara kita? Saya rasa dua-duanya nggak perlu. Harusnya kan masing-masing udah tau dari dulu kalo kita punya rasa nasionalisme. Kenapa nasionalisme harus ada faktor pendorong eksternalnya?

    Reply
  5. Kevin

    wah tulisannya sangat keren ! isinya bagus buat kalangan tua dan mungkin sekaligus memberi pesan kalau kita sebagai golongan muda ingin adanya perubahan di dalam negeri Indonesia yang lagi merdeka ini #indonesia65 !!!

    apalagi yang ini !

    “Bercermin dan rasakanlah dengan sadar.. Siapa kita sesungguhnya.”

    seperti membuat terhenyak seluruh bangsa Indonesia hehe

    keep posting ga !

    Reply
  6. Zia

    betuuul banget!catatan mas Iga ini cukup mewakili apa yang ada di pikiran sejumlah orang dan menggambarkan inilah Indonesia (saat ini)

    Reply
  7. lutf

    Setuju bro, menurut gw gerakan tersebut tidak lebih dari sebuah pembodohan dan pemicikan masal. Karena Indonesia tidak akan lebih baik dengan kita hanya sekedar bangga, dan Indonesia akan tetap terpuruk selagi kita picik dan bodoh. Dan kepicikan itulah yang mereka jual dalam bentuk trending topic, kaos, dan berbagai parameter absurd keberhasilan versi mereka.

    ————————————————–

    Persetan dengan kalian para nasionalis puritan, yang menganggap tari pendet lebih penting dari tki yang dilecehkan…

    Persetan dengan kalian para nasionalis puritan, yang terjebak dalam fatamorgana kebanggaan…

    ————————————————–

    O iya, ijin nge share tulisan ini di note fb ya ? Thx.

    http://www.facebook.com/notes/arief-lutfi-hendratmono/our-sweet-seventeenby-iga-massardi/458587633693#!/note.php?note_id=458587633693

    Reply
  8. reza

    “Perlukah upacara bendera? Mungkin yang hadir disana adalah karena takut akan sanksi, dan berjuang melawan kantuk serta rasa malas menghadapi ritual siksaan omong kosong selama kurang lebih 45 menit”

    well, di kampus saya, yg datang hanyalah mereka yg takut menerima surat peringatan dari direktur. dan saya, krn alasan2 ideologis yg susah sekali dijabarkan secara lengkap di sini, menolak utk ikut upacara bendera. bukan karena malas.

    dianggap tak nasionalis? silakan. tapi yg jelas saya punya standar dan batasan2 sendiri dlm memaknai nasionalisme.

    membaca tulisan ini, saya jadi inget tulisan lain di buku lawas itu: bisakah mereka disebut nasionalis setelah tindak2 kotor dan tercela mereka, HANYA KRN MEREKA HADIR DI UPACARA DAN SESENGGUKAN MENCIUM BENDERA?

    mas iga, sama seperti yg anda rasakan, saya juga menerima ekses negatif dari microblogging setelah adanya momen2 seperti ini. tiba2 saja semua orang jadi (sok) nasionalis, mencintai negeri tanpa syarat. benar2 tanpa syarat, katanya. ada beberapa alasan berbeda mengenai tumbuhnya cinta, buat saya. tapi mereka seolah menafikan semua, dan menganggap saya, yg meyakini bahwa cinta butuh alasan, tak nasionalis. dan seketika saja kecaman berdatangan.

    dengan alasan2 klise semacam, “ini utk menghargai jasa pahlawan!” atau “upacara yg sebentar aja gak mau, apalagi hal2 besar lainnya!”

    menghargai jasa pahlawan? lucu. seperti yg anda katakan di akhir tulisan ini, saya juga melihat keseharian mereka yg terlalu tercelup sisa2 budaya amerika yg tersebar via televisi. dan utk menceritakan jasa dan tujuan para pahlawan itu saja, mereka tak sanggup. sekali lagi, lucu. gimana mungkin kita mencintai sesuatu tanpa bisa mengenalinya terlebih dahulu?

    anyway, nice post, mas.

    Reply
  9. Yoga Indra Purnama

    sepemikiran πŸ™‚
    kalau sudi mampir ke blog saya juga mas, yogaindrapurnama.wordpress.com

    trims

    Reply
  10. Shyra Djafaar

    membaca tulisan ini saya jadi teringat opini saya oktober taun lalu. di saat isu batik memanas karena klaim negara tetangga, dan penetapan Batik sebagai world heritage. saat hari H saya tidak memakai batik dan segera saja teman-teman saya di kampus mempertanyakan rasa cinta saya pada negara dan kebudayaannya.

    cara mereka bertanya dan memandang saya seakan saya orang planet lain. terlihat jelas mereka bangga karena mereka berbatik. bangga atas apa? di mata saya mereka hanya ingin dianggap eksis, dianggap peduli, dianggap nasionalis. namun saat hari batik sudah lewat, lewat juga batik bagi mereka. saya tak pernah lagi melihat mereka berbatik.

    sebegitu dangkal arti nasionalis bagi sebagian orang?

    “bercermin dan rasakanlah dengan sadar…Siapa kita sesungguhnya?” — saya sepenuhnya setuju.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s