Monthly Archives: August 2010

huh?

“I don’t like people and not interested in making new friends”

And then..

“Follow me on twitter…”

Someone is havin said that on Facebook.

Advertisements

This lux or that differ?

Sebagian orang lebih suka membeli instrumen mahal. Untuk mendapatkan kemewahan yang diinginkan oleh sebagian besar orang. Menurut saya itu adalah bentuk keseragaman selera yang membuat kita terdengar sama dengan yang lain.

Namun saya lebih memilih instrumen janggal yang memiliki suara tersendiri. Mungkin tidak memiliki harga yang mahal atau penampilan yang anggun. Tapi bukankah kita tidak pernah suka untuk disamakan dengan orang lain?

Some people tend to buy shiny expensive gear,but that’s a common luxury of tone. I tend to buy some quirky instrument that have certain tonality and looks that certainly kills. Wail On!!

Natural

Save Our Nature?

Alam tidak perlu penyelamatan. Ia akan bertahan dengan caranya. Kita lah yang akan musnah.

Semua pencegahan atas perusakan alam adalah upaya kita untuk menyelamatkan diri.

Our Sweet Seventeen.

Hari ini tidak merubah Indonesia menjadi semakin apapun. Sudah saatnya kita berhenti menjadi bangsa yang naif. Yang bertindak dan bersadar diri dengan reaktif dan menunggu momen baru lantas bergerak dan berubah.

Sudah bosan rasanya saya bertemu dengan hal hal kecil yang di angkat sedemikian rupa. Video lipsync murahan jadi berita nasional, skandal sex artis hingga dibahas pidato presiden. Sebegitu lugunya kah kita?

Apakah dengan segala kebrengsekan yang kita buat, kerusakan yang kita lahirkan dengan sukacita, kita masih bisa terheran heran dengan anomali anomali sosial picisan? seakan akan kita adalah orang suci yang tidak biasa melakukan tindak kelainan dan penganiayaan moral. Seperti terperanjat melihat orang menelan kerikil padahal kita biasa menjilat kotoran anjing.

Berhentilah jadi bangsa kagetan. Ketika hari kemerdekaan lantas semua berseru layaknya nasionalis sejati. Ketika di bombardir teroris lantas semua menjadi #unite.Namun sekarang kemana perginya itu semua? Besok? Kemana? Kemana? Tanya dan jawab pada diri anda sendiri.

Saya bukan tidak nasionalis, saya realistis.

Perlukah upacara bendera? Mungkin yang hadir disana adalah karena takut akan sanksi, dan berjuang melawan kantuk serta rasa malas menghadapi ritual siksaan omong kosong selama kurang lebih 45 menit. Tapi mungkin ada juga yang datang dengan penuh kesadaran. Mungkin..

Indonesia ada di darah. Indonesia ada di pikiran. Indonesia ada di dalam ludah yang anda percik di jalanan.

Bercerminlah. Lihat siapa yang ada disana.. Indonesia? atau bekas bekas penjajahan serial TV dan budaya Amerika?

Bercermin dan rasakanlah dengan sadar.. Siapa kita sesungguhnya.

Maaf..maaf..maaf..

AH! tak usahlah meminta maaf untuk hal hal kecil, saya juga bukan orang yg seneng marah marah untuk hal hal sepele. Cobalah untuk tidak mudah untuk menggunakan kata maaf atau sori pada hal hal yang memang nggak perlu.

Minta tolong pake bilang sori

Mau ngajak ngobrol pake minta maaf

Masih banyak kata kata lain yang bisa digunakan selain MAAF.

Dan maaf untuk kedua contoh diatas adalah salah tempat. Mau ngajak ngobrol kok minta maaf duluan? Nggak nyambung.

Jangan jadikan maaf itu sebagai kata pelengkap. Maaf itu ada tanggung jawabnya. Jangan terlalu gampang mengucap maaf untuk hal sepele yang jauh dari sifat salah. Maaf jadi nggak ada artinya kalo begitu. Dan saya juga nggak tau apa yang mesti dimaafkan.