JANGAN JADI JAKARTA

Karena kami tidak punya apa apa. Kami hanya punya perkara.

Karena kami punya harta, kaya dan miskin jiwa.

Kalian lah Jogja dan Surabaya. Jadilah sebagaimana mestinya kalian.

Ini semua limbah informasi dari kami. Distorsi budaya dan gengsi.

Sebar aroma bangkai dan racun lewat udara. Semua berubah demi sebuah apresiasi zaman, demi evolusi trendy.

Jangan rubah Lurik jadi Blackberry.

Tentu saja kita semua tidak buta dan tidak bodoh. Untuk bisa merasakan semua percepatan yang terjadi di sekitar kota. Gambaran kehidupan yang lebih baik via televisi. Setiap hari berdesingan bagai peluru.

Dalam perlintasan antara peradaban dan kebiadaban. Kita saksikan semua ini. Antara kenyataan dan imajinasi. Kenyataan yang jauh dari realita dan imajinasi yang bertolak dengan lentera jiwa.

Antara kita dan kota. Sebuah hubungan yang saya dan kalian harap bisa jadi sinergi. Sinergi apa? Tai babi.

Laju gamang menuju apa yang kita sebut ‘impian’.

Kita berbaris menuju maut.

Semua berlomba untuk menjadi yang terdepan, dengan kaki yang bergelar. Dengan aroma ‘cerdas’ย  asal luar negeri.

Kini kita bicara asing. Bicara tentang sebuah bangsa. Tentang apa yang kita bisa lihat disana.

Dan berharap kita terapkan di sini.

Tanpa malu dan begitu yakin.

Begitu yakin bahwa kita adalah bagian dari dunia.

Bagian dari dunia yang berbudaya atau korban dari budaya yang mendunia?


"Kami bangsa Indonesia mengaku bertanah air satu. Amerika." - Armada Racun

Advertisements

26 thoughts on “JANGAN JADI JAKARTA

  1. nadhia

    di Jogja masih aman Ga..
    semoga..
    hehehe..

    “Kami bangsa Indonesia mengaku berbangsa satu. Amerika.” – Armada Racun
    ==b
    like this!

    Reply
  2. Keshia Deisra

    Menjawab pertanyaan “Bagian dari dunia yang berbudaya atau korban dari budaya yang mendunia?”, Indonesia berada di tengah2. Ibarat remaja, Indonesia masih labil

    Reply
  3. maLya

    jadiLah apa yang dipunyai kota kaLian..
    saya sempat sangat sayang jakarta, namun kadang berpikir uLang apakah saya siap dengan segaLa resiko yang ada di daLamnya?
    *sigh

    Reply
  4. farchan noor rachman

    Sangat relevan, makanya saya memilih menyepi di sebuah kota bernama ciamis.
    Dimana arus modernalitas menjadi minimalis.

    Saya pernah 4 tahun kuliah dan lalu kerja di ibukota.
    Tidak betah rasanya.
    Nice post bang iga.

    Reply
  5. diandra

    cie Iga. Kan bekasi Ga, pindah aja ke jogja. Gue aja orang bekasi pindah ke jogja haha. Nice post Ga ๐Ÿ™‚

    Reply
  6. Ditto Pradwito

    Semua kota punya peran masing2.

    Dan ini lah, Jakarta.

    Konsekuensi menyandang gelar ‘Ibukota’.

    Reply
  7. siapaajaboleh

    “But if you stay, I will stay
    Even though the townโ€™s not what it used to be
    And pieces of your life you try to recognize
    All went down..” Forget Jakarta – Adhitia Sofyan

    Reply
  8. henny

    setuju banget kak sama kata kata ini..
    cuma korban budaya dan gengsi..
    tinggi badan sama tinggi gengsi lebih tinggian gengsinya..
    so sad..

    Reply
  9. oi

    anjissss….NICE!!
    tajamm…

    tapi seperti kata cmon lennon “aku cinta J A K A R T A”
    tempat bernaung walau harus babak belur.
    yah butut2 juga tetep ibukota negara tercinta. tempat cari nafkah, segenggam berlian, ma sesuap nasi.
    *pasrah *nendangbatu

    Reply
  10. fardhani

    Bagus deh ga ini tulisannya. Kaya tamparan keras bagi kita yang “mengaku bertanah air satu. amerika”. saya juga kurang suka tinggal di ibukota. saat ini saya lagi kuliah di bandung dan merasa lebih nyaman tinggal disini. ibukota sudah terlalu busuk, sempit, sesak, ribet, gak nyaman tapi anehnya orang2 bukan berbondong-bondong pergi meninggalkan tempat itu malah makin banyak yang bermimpi akan sukses disitu.

    Reply
  11. pahit

    jogja dimana 98% siswi smp dan smunya tidak perawan lagi
    dan kalian semua bertanya2 kenapa jogja kena gempa….

    Reply
  12. ssaridisini

    “Jogja dimana 98% siswi smp dan smunya tidak perawan lagi”

    nggak nutup mata juga kalo jogja sudah sedikit banyak terdistorsi oleh budaya lain dan gengsi…

    tapi buat angka itu, kayaknya harus cek ulang deh…

    buat iga : jangan perna bosan maen ke jogja y..=D

    Reply
  13. dotremont

    di satu negara memang harus ada satu (atau 2) kota yg berperan sebagai wadah dari congestion-culture/culture of congestion

    tapi tidak seperti NYC atau London, Jakarta belum bisa merayakan takdirnya

    urban paganism is over, start to celebrate jakartans

    nice post tho’

    Reply
  14. Zia

    Mas Iga,kenapa yang diangkat Jogja dan Surabaya?Saya rasa Mereka sudah terlanjur “jadi Jakarta”.Hanya sesuatu yang mencolok dari dua daerah itu yang masih sangat jelas (contoh : Jogja dengan Bakpia-nya yang TIDAK AKAN berubah jadi makanan barat,yang sekarang sudah menghalangi peredaran KUE RANGI di Jakarta),sisanya?Terlahap juga dengan westernisasi.

    Reply
  15. Melva

    rasanya jogja nggak gitu juga kok bang , buktinya mereka juga kalo ngomong pake gue elo gue elo . mana medok banget .

    aje gile rasanya kuliah >.< curhat

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s