Makabacalah

Televisi lokal harusnya bisa lebih cerdas. Namun sepertinya mereka terpaksa menutup mata untuk kepentingan bisnis dan terus membodohi masyarakat dengan menjual mimpi yang tidak lebih nyata dari kotoran anjing yang berbau harum.

Advertisements

18 thoughts on “Makabacalah

  1. deacit

    wew bahasanya agak keras 😛
    tapi saya setuju! bener banget postingan anda.
    terus nulis inspirasi2 lain ya 😀

    Reply
  2. igamassardi Post author

    Kita mungkin bisa memilah milah mana yang baik. Tapi apa kabar orang yang tinggal di desa? belum terjamah internet?

    Sementara harapan informasi mereka hanyalah televisi dan koran lokal, yang disediakan adalah apa yang anda semua lihat sekarang.

    Saya menitikberatkan kepada sinteron dan reality show. Nggak usah saya jelasin kenapa. Anda semua pasti ngerti ya toh?

    Reply
  3. Laney

    mungkin karna bagi sebagian orang buku masih sebagai barang mewah jadi lebih milih nonton tv.

    kalau banyak yang ngerasa tayangan tv ngga mendidik, saran saya sih jangan di tonton lama2 juga stop sendiri itu si sinetron ngga guna dan si reality show berlebihan. program itu akan diproduksi terus selagi ratting tinggi dan peminatnya banyak.

    in other words, semua balik lagi ke penonton. berarti yang ada saat ini adalah yang diminati. sama halnya dengan fenomena menjamurnya band melayu dan lagu-lagu cinta melulu *kok jadi ERK* hehe 😀

    Reply
  4. taradise

    tahun lalu saya magang di salah satu stasiun TV, memang di divisi news. Tapi bahkan news & magazine pun tetap memikirkan “berita” apa yang membuat rating & share mereka lebih baik. Karena rating & share tinggi sama dengan bonus bagi tim. Ironis.

    Reply
  5. ando

    Salah persepsi antara mengibur dengan memberikan hiburan atau pun informasi, ga bisa disalahkan juga, itulah program dalam roda kehidupan komunikasi. Rating tinggi adalah awal permasalahannya.

    Reply
    1. igamassardi Post author

      rating tinggi harusnya nggak jadi masalah. tapi pencapaian ke rating tinggi itu yg harus disikapi. masyarakat bukan orang bodoh kok. nggak harus dibiasain dikasih tayangan2 ndablek terus supaya tetep nonton. ini karena kebiasaan media2 mainstream keparat itu yg bikin orang bukan makin pinter tapi makin dangkal. jaman dulu kita masih di kasih sesame street supaya bisa belajar bahasa inggris. film luar negeri juga masih pake teks. kita dibiasakan utk mikir. sekarang? boro2.. ini sih contoh kecil aja.

      sekarang gue pribadi nggak pernah nonton TV.karena menurut gue emang tv indonesia mayoritas acaranya udah nggak patut di tonton. paling kalo ada berita2 penting aja gue baru nyalain.sisanya gue lebih memilih internet atau koran.karena gue bisa lebih bebas memilih info sesuai kemauan gue.

      sorry Ndo,gue emang rada emosian kalo ngebahas televisi lokal.hahahah thanks for the response bro

      Reply
  6. miamelon

    salah satu contoh kecilnya..mengadopsi film luar yg nyatanya MENJIPLAK PLAK PLAK film luar.. sadis bgt! puluha bahkan ratusan film luar gw rasa dijiplak habis kyk kekurangan ide,bikin gw ga habis pikir! ckckck

    btw,gw juga salah satu org yg skrg ga lagi2 ntn tv dan jd lebih bergantung sm koran,majalah atau internet..hehe

    Reply
  7. silva

    saya sependapat dgn Iga bahwa yg dikhawatirkan disini adalah org desa dgn sinetron & reality show yg seakan-akan mempunyai zat adiktif bagi mereka. saya percaya kok masyarakat Indonesia cerdas2 dan banyak yg menolak tayangan murahan tsb.

    memang sih sinetron itu berdasarkan real life, tp kok semuanya serba nangis2an ya? emg hidup itu susah terus? gmn org ga tambah stress! sekalian aja tayangin video dokumenter org bunuh diri yg wkt itu di Sency!! siapa tau jd inspirasi.

    itu yg namanya hiburan? hiburan itu kan identik dgn tertawa, humor. reality show? namanya saja sudah tdk sinkron! it’s all FAKE.

    saya pun sedih melihat fenomena anak kecil zaman sekarang yg kesukaan musiknya band2 Nidji, Peterpan, Ungu, dsb. kayanya zaman kita kecil dulu musiknya riang gembira gt deh, macam Chikita Meidy, Joshua, Trio Kwek-Kwek, Maissy, dll. ga ada yg ngelarang sih memang, musik kan urusan selera. tapi kok…seperti tdk ada perbedaan antara anak kecil dgn anak muda yaa, ga ada khas. nanti pas udah besar jd ga ada yg bisa di norak2in atau diketawain kan.

    saran saya serahkan saja ke hukum pasar. ada permintaan ada penawaran, permintaan berkurang penawaran berkurang. kita tdk bisa sepenuhnya menyalahkan para pebisnis dunia hiburan yg notabene nya profit oriented. balikkan saja ke diri masing2. kita sbg makhluk sosial yg cerdas akan lebih baik utk berusaha mencerdaskan makhluk sosial lainnya 😉

    check this out > http://www.facebook.com/video/video.php?v=1387006078452

    Reply
  8. Zia

    Sebuah catatan pendek,tapi NGENA BANGET.Semoga produksi “kotoran anjing yang berbau harum” itu segera berhenti.

    Reply
  9. kania

    You wrote:
    “sekarang gue pribadi nggak pernah nonton TV.karena menurut gue emang tv indonesia mayoritas acaranya udah nggak patut di tonton. paling kalo ada berita2 penting aja gue baru nyalain.sisanya gue lebih memilih internet atau koran.karena gue bisa lebih bebas memilih info sesuai kemauan gue.”

    Same here. Gw merasa tidak rugi untuk ga nonton tv karena bagi gw, tv beserta tayangan2nya (terutama berita yang terlalu berlebihan) skr malah jadi ‘anger trigger’ buat orang-orang yang nonton. kenapa gw bilang gitu? karena sering bgt gw ngamatin timeline twitter gw yang isinya marah dan maki-maki sebagai respon mereka thd tayangan yg baru ditonton.
    Hehehee.. sori ye, nyamber ngomen. The point is I agree with the idea of your writing.

    Cheers!

    Reply
    1. igamassardi Post author

      televisi nasional kebanyakan berisi berita2 kacangan seputar kriminalitas kelas teri. bahkan kemaren ketika Alm. Gesang masih hidup, malah dibilang sudah meninggal. GILA. Gila dan bodoh. I share your view Kania. thanks! 😀

      Reply
  10. taufan mirsyad

    Saya adalah mantan interviewer agb nielsen perusahaan data yang bergerak pada rating segala media, terutama televisi. Dan disini saya tegaskan bahwa rating adalah PEMBODOHAN!!

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s