Senada..

Seorang biduanita datang ke saya. Waktu itu kami baru saja berkenalan. Dan saya suka dengan suaranya. Suaranya seperti malaikat. Malaikat yang tidak begitu baik namun juga urung untuk menjadi bengis. Yang pasti suaranya mematikan nafas saya saat itu.

Perlahan saya mencoba untuk kenal, dengan segera saya kemudian menyambung pembicaraan. Dan ternyata pembicaraan kami bermuara ke laut yang sama.

Menit dan minggu berlalu, akhirnya sampailah saya dan dia ke sebuah kesempatan untuk berdiri di atas panggung yang sama. Sama sama bersuara dan menghentak di birama yang berbarengan dengan kenyataan bahwa saya telah jatuh cinta dengan suaranya.

Sadar tidak sadar sampai hari ini. Saya dan dia menjadi teman. Lebih mungkin, saya menganggap dia adalah sahabat saya. Seorang wanita berparas cantik yang bertutur dengan lengkingan halus.

Lengkingan yang hari ini dan beberapa hari yang lalu entah kenapa menjadi terlampau lembut hingga terasa gamang.

Entah kenapa pijarnya tak lagi menyala terang.

Beberapa tahun lalu saya masih tercengang atas apa yang dilakukan nya terhadap karya seni yang saya dan teman teman saya buat. Sebuah mantra, nyanyian suci, tikaman belati. Yang keluar dari balik bibirnya adalah asap yang senantiasa membuat saya beku akan dinginnya.

Entah kenapa sang belati mulai kehilangan tajamnya.

Sekarang dia pun masih berdiri disamping saya. Untuk sekedar melempar senyum. Senyum yang selalu membuat saya teringat bahwa dia adalah orang yang sama. Sang biduanita.

Berharap. Saya berharap. Mungkin mereka juga.

Untuk kamu. Agar segera kembali ke awan dimana kamu biasa bergumul. Bermain dan melompat lompat dengan ratusan bintang.

Entahlah..

Sampai saat ini ketika saya membuka album coklat itu. Kadang saya tak segan untuk ber haru biru. Karena gravitasimu yang menarik saya saat itu.

Ayo dong..

Saya mohon sama kamu. Agar kamu kembali seperti dulu. Dengan percik api yang senantiasa mengelilingi dirimu. Mendengar kamu bersuara lagi. Tidak hanya bersuara, namun kamu beryanyi. Tidak sekedar berkata namun kamu bercerita.

Saya juga sadar bahwa tidak ada gunanya berkaca pada masa yang sudah dilewati. Itu omong kosong. Namun jika melihatmu sekarang, saya ingin mengembalikan omong kosong itu. Memutarmu kembali ke masa itu. Maafkan saya. Namun saya tidak tahu kamu sekarang sedang sibuk apa, hingga seringkali saya merasa kecewa.

Untuk masa itu saya ucapkan terimakasih yang luar biasa. Dan untuk beberapa hari ini saya ucapkan juga terimakasih yang sama besarnya.

Walau sejujurnya.. Saya ingin memberikan terimakasih yang lebih besar dari sebelumnya.

Senada.

Advertisements

42 thoughts on “Senada..

  1. Mardina Gita Isyana

    Wah, Iga! Lo jg bakat nulis ya… Keren! Buat ce lo ya? Hahaa… Soalnya, meskipun lo blg “biduanita” dan “panggung”, tapi kayaknya itu cuma perumpamaan ya? Hmm… tapi gw tetep bingung sih maksudnya gmn, hehee… :p
    Like this anyway! ^_^

    Reply
  2. KathieSaraswati

    Mas Iga…Mas Iga…weleh…weleh…makan apa anda semalam? sampai menulis bak seperti penyair saja kau…mau nyaingin Chairil Anwar yah ?? Waduh, kalau udh geleng2 brarti tulisan anda wong edan bagusnya…

    Well, speaking about ‘THe GirL’ sepertinya saya bisa menebak siapa orng itu…entah intuisi saya benar atao tidak ? Tapi klo lah benar, saya pun merasakan ke-eksis-an si dara bersuara malaikat itu….

    What it’s done..it’s done…nikmatin saja !! I’m sure si ‘biduanita-mu’ akan kembali ke tempat dimana api yg membara itu pernah berkobar…Smangattt !!

    Keep on writing ga … (^___^)

    Reply
  3. igamassardi Post author

    Terimakasih teman teman atas kesediannya membaca! πŸ˜€

    Biarlah tentang siapa biduanita ini menjadi milik saya. Dan kalian semua saya persilahkan untuk menerka dan berasumsi sebebas bebasnya. Bahkan silahkan kalian berimajinasi untuk sang biduanita dengan pencitraan sendiri.

    Semoga kalian menikmatinya.. : )

    Reply
  4. Raisya

    Iga akhirnya ngepost lagi! udah ditunggu gitu.. haha!

    Semoga sang biduanita dapat kembali bersuara. Tidak asal bersuara, namun beryanyi. Tidak sekedar berkata namun bercerita. πŸ™‚ Beautiful words!

    Reply
  5. kodeen

    nais post ga,, hehe,,
    cobalah membantunya kembali bernyanyi,, tidak hanya sekedar bercerita dan berharap saja,,
    mungkin kamu orang yg ditunjuk untuk menyadarkan dia kembali ke masa indah dahulu saat dia tidak hanya bernyanyi tetapi bercerita,,

    Reply
  6. sarah preppy

    RALAT :
    maksudnya tidak sekedar datang dan pergi
    Tidak sekedar bernyanyi dan tersenyum sesaat

    Postingan paling sedih ->

    “Memutarmu kembali ke masa itu. Maafkan saya. Namun saya tidak tahu kamu sekarang sedang sibuk apa, hingga seringkali saya merasa kecewa.”

    WEWWW …hiks hiks

    Cheer Up brotha Iga =)

    Reply
  7. agung

    ah saya tau siapa dia.. iya saya perhatikan performa dia memang agak menurun, mungkin sedang ada masalah dengan kehidupan dia.. yg sabar mas πŸ™‚ saya juga mengagumi suaranya… tetap semangat!!

    dari penggemar setia ttatw

    Reply
  8. iraaaa

    Huu.. Senada.. Senada.. -malino- we all know who is ‘she’, and i’m really hoping she knows too.. You should tell her though.. So she can acknowledge u’r feeling.. That u’r fading and i’m still waiting -berlin-

    Reply
  9. endaiyaaa

    Perkenalkan..nama saya endaiyaaaa will olweys love uuu..Waljinah ya kak iga??saya punya loh kak Laer Discnya..lengkingannya di lagu walang keke dan andhe andhe lumut itu tiada duanya..kalah biji ya kak..biji kan ada dua ya??

    Reply
  10. Questie dengan hati

    adakalanya menjadi diam dan berhenti berputar lebih menyenangkan.
    atau mungkin sang biduanita sedang berputar mencari sumbu rotasinya yang paling tepat dan nyaman.
    hingga saat itu tiba, jadilah pendengar yang setia menunggu hingga suara itu kembali hadir dan mengisi bumi hingga sepi pergi.

    selamat menunggu dan menanti kembalinya suara itu.
    tunggu dengan hati agar lebih terdengar indah dan bukan lirih….

    Reply
  11. uyuy

    ketika ku membaca ,terfikir sejenak akan imajinasi saya yang mulai bermain bagai kupu-kupu yang terbang bebas diangkasa.
    Etah siapa dia?
    Diriku hanya dapat berdoa agar engkau sang penulis iga dapat memberikan dan mendapatkan bahagia yang sama dengan apa yang kau alami dikala itu. πŸ˜€
    (aduh maav ka iga ngarang bebas πŸ˜€ ,peace!)

    Reply
  12. yudhistira

    senada…
    “Sebuah mantra, nyanyian suci, tikaman belati. Yang keluar dari balik bibirnya adalah asap yang senantiasa membuat saya beku akan dinginnya”.

    “Tidak hanya bersuara, namun kamu beryanyi. Tidak sekedar berkata namun kamu bercerita”.

    beautiful words.
    πŸ™‚

    Reply
  13. Nada dan Kata

    Kini percikan api dari sang biaduanita tersebut sudah kembali muncul dengan aura yang berbeda. mungkin tak selembut dahulu namun tetap meramaikan kesepian yang ada.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s