Monthly Archives: February 2010

JIN

Kamu tau Jin?

Iya jin..!

Jin yang itu..? Iya bener!

Yang namanya ada macem macem.

Ada Jin Lepis, Jin Likuper, Jin Lea, Jin Wrangler, dan lain lain..

Dan berbicara tentang jin. Baru baru ini saya mengalami kejadian kurang asik dan kurang longgar. Kurang asik karena ketika band Classic Rock saya (The Trees and The Wild) manggung di ITB minggu lalu, saya lupa membawa jin saya. Kurang longgar karena saya terpaksa menggunakan jin ketat milik drummer saya tercinta yang ukurannya sangat ngepas dan membuat saya terlihat seperti personel The Changcuters versi Celebrity Fitness.

Awalnya saya berangkat ke Bandung dengan perasaan jumawa. Karena mau jalan jalan juga.

Lalu berangkatlah rombongan saya ke Bandung. Sesampainya disana saya dan teman teman disambut oleh kemacetan yang bikin kesel. Niat mau ke Dago akhirnya malah melongo.

Setelah putar putar gelisah dan bosan bosan seksi,sampailah saya dan rombongan ke ITB. Dan lagi lagi saya mendapat sambutan disana. Sambutan krisis di ujung perut AKA mules.

Kamu tau kan rasanya orang sedang krisis mules? Atau sering disebut Semarak (Semangat nahan berak)?

Sungguh rasanya lebih menyesakkan dan menegangkan dibanding nyerempet mobilnya Ananda Mikola.

Tapi ini kok jadi ngomongin nahan boker ya..

Yaudahlah. Tiba tiba saya juga jadi pengen.

Makabacalah

Televisi lokal harusnya bisa lebih cerdas. Namun sepertinya mereka terpaksa menutup mata untuk kepentingan bisnis dan terus membodohi masyarakat dengan menjual mimpi yang tidak lebih nyata dari kotoran anjing yang berbau harum.

Senada..

Seorang biduanita datang ke saya. Waktu itu kami baru saja berkenalan. Dan saya suka dengan suaranya. Suaranya seperti malaikat. Malaikat yang tidak begitu baik namun juga urung untuk menjadi bengis. Yang pasti suaranya mematikan nafas saya saat itu.

Perlahan saya mencoba untuk kenal, dengan segera saya kemudian menyambung pembicaraan. Dan ternyata pembicaraan kami bermuara ke laut yang sama.

Menit dan minggu berlalu, akhirnya sampailah saya dan dia ke sebuah kesempatan untuk berdiri di atas panggung yang sama. Sama sama bersuara dan menghentak di birama yang berbarengan dengan kenyataan bahwa saya telah jatuh cinta dengan suaranya.

Sadar tidak sadar sampai hari ini. Saya dan dia menjadi teman. Lebih mungkin, saya menganggap dia adalah sahabat saya. Seorang wanita berparas cantik yang bertutur dengan lengkingan halus.

Lengkingan yang hari ini dan beberapa hari yang lalu entah kenapa menjadi terlampau lembut hingga terasa gamang.

Entah kenapa pijarnya tak lagi menyala terang.

Beberapa tahun lalu saya masih tercengang atas apa yang dilakukan nya terhadap karya seni yang saya dan teman teman saya buat. Sebuah mantra, nyanyian suci, tikaman belati. Yang keluar dari balik bibirnya adalah asap yang senantiasa membuat saya beku akan dinginnya.

Entah kenapa sang belati mulai kehilangan tajamnya.

Sekarang dia pun masih berdiri disamping saya. Untuk sekedar melempar senyum. Senyum yang selalu membuat saya teringat bahwa dia adalah orang yang sama. Sang biduanita.

Berharap. Saya berharap. Mungkin mereka juga.

Untuk kamu. Agar segera kembali ke awan dimana kamu biasa bergumul. Bermain dan melompat lompat dengan ratusan bintang.

Entahlah..

Sampai saat ini ketika saya membuka album coklat itu. Kadang saya tak segan untuk ber haru biru. Karena gravitasimu yang menarik saya saat itu.

Ayo dong..

Saya mohon sama kamu. Agar kamu kembali seperti dulu. Dengan percik api yang senantiasa mengelilingi dirimu. Mendengar kamu bersuara lagi. Tidak hanya bersuara, namun kamu beryanyi. Tidak sekedar berkata namun kamu bercerita.

Saya juga sadar bahwa tidak ada gunanya berkaca pada masa yang sudah dilewati. Itu omong kosong. Namun jika melihatmu sekarang, saya ingin mengembalikan omong kosong itu. Memutarmu kembali ke masa itu. Maafkan saya. Namun saya tidak tahu kamu sekarang sedang sibuk apa, hingga seringkali saya merasa kecewa.

Untuk masa itu saya ucapkan terimakasih yang luar biasa. Dan untuk beberapa hari ini saya ucapkan juga terimakasih yang sama besarnya.

Walau sejujurnya.. Saya ingin memberikan terimakasih yang lebih besar dari sebelumnya.

Senada.