SEKOLAH?

Saya adalah anak yang tidak pernah menyukai sekolah.

Orang tua saya, khususnya Ibu saya. Selalu kewalahan menghadapi masa masa sekolah saya. Dari SD sampai SMA, saya bukanlah anak yang bisa diharapkan untuk mengerjakan PR atau menyelesaikan tugas tugas sekolah sendiri tanpa paksaan dari pihak sekolah dan orang tua. Saya sempet dibawa ke psikolog untuk memastikan bahwa tidak ada kelainan yang berlebihan dalam perilaku saya sebagai anak kelas 5 SD.

Bukan tanpa alasan saya nggak suka yang namanya sekolah.

Pertama, mereka (sekolah) nggak pernah memberikan ruang agar kreatifitas saya dijadikan sesuatu yang berharga secara akademis. Saya sadar bahwa saya emang nggak pandai berhitung dan menghafal pasal pasal UUD yang menurut saya sampai sekarang nggak ada gunanya (paling tidak buat saya pribadi). Tapi saya yakin bahwa saya bisa berkesenian dengan baik dalam hal musik. Tapi alih alih mendukung bidang yang menjadi keunggulan saya, mereka justru memaksa setiap muridnya untuk pandai matematika dan ekonomi. Lalu kemudian diadakan olimpiade untuk kedua hal tersebut. Pemenangnya mendapat gelar murid teladan. Klise.

Bukankah tidak ada satu bidang untuk semua orang? Semua orang adalah unik dan memiliki ketertarikan pada hal yang berbeda beda. Standarisasi akademis sering memaksa kita sebagai murid menjadi tidak memiliki pilihan lain untuk menuangkan prestasi. Semua dipukul rata. Dan kita harus melakukannya.

Masa SMA saya adalah masa dimana pembelajaran menjadi tidak penting. Kenapa? Karena saya saat itu sudah tau apa yang saya ingin lakukan dalam hidup saya. Saya ingin jadi seorang musisi. Titik.

Namun justru di masa itu, masa yang menurut saya adalah saat yang sangat krusial untuk memilih kemana kita akan berjalan dan melangkah, justru sering di sesatkan ke arah yang sama sekali lain dan bertolak belakang dengan keinginan kita. Beruntung saya adalah anak yang keras kepala dan nggak suka diatur kalo menurut saya anjurannya nggak logis. Jadi ini membuat saya bergelut untuk tetap melakukan apa yang saya mau. Apapun taruhannya saat itu.

Kepala sekolah saya saat itu adalah orang yang memiliki apresiasi seni yang tinggi. Saya senang sama beliau. Namanya Pak Cecep. Orangnya sangat suportif. Beliau mengadakan ensemble gitar dan tari. Sungguh saya merasa senang saat itu. Namun entah kenapa kegiatan itu berhenti. Mungkin dianggap tidak bermanfaat untuk prestasi akademis oleh dewan yayasan sekolah saya saat itu. Berakhirlah kegiatan tersebut. Kegiatan satu satunya dimana saya bisa merasakan kesenangan dan gemilang ketika melihat dan melakukannya.

Dan atas izin Pak Cecep juga saya dan teman teman bisa membawa nama sekolah saya ke festival musik antar sekolah dan memenangkannya. Sungguh sebuah momen yang menurut saya saat itu sungguh berharga. Ketika saya dan teman teman di panggil kedepan saat upacara hari Senin dan diberikan selamat langsung diiringi tepuk tangan dan sorak sorai satu sekolah, momen itu tidak pernah saya lupakan.

Namun di akhir semester, yang nampak hanyalah eksekusi dari studi studi standar seperti IPA dan IPS. Tidak nampak penghargaan atas usaha saya dan teman teman membawa nama baik sekolah dalam bidang seni. Bahkan seni pun tidak masuk dalam daftar mata pelajaran. Sungguh memilukan.

Lalu ketika kita selesai menunaikan pendidikan di SMA, kita langsung dihadapkan dengan kenyataan “Memilih Jurusan Kuliah yang Baik dan TIDAK SALAH PILIH.”

Bagaimana mungkin!?

Selama masa pendidikan 12 tahun kita tidak diberikan pilihan untuk melakukan ketertarikan di bidang masing masing. Ada yang suka otomotif, olahraga, musik, teater, tari, bahasa, namun jarang sekali ada penyuluhan untuk hal hal tersebut. Yang ada hanyalah ekstrakurikuler. Hal yang menjadi jalan hidup kita hanya dijadikan sebuah ‘ekstra’. Ironis.

Tidak heran banyak sekali orang yang ‘terpaksa’ masuk jurusan jurusan umum seperti ekonomi dan komunikasi. Bagus kalo memang mereka mau masuk sana, tapi realitanya adalah mayoritas orang yang mendaftar jurusan itu bukan karena memang mereka mau, tapi karena alasan klise “Ya daripada gue nggak kuliah?”

Dari tekanan pendidikan 12 tahun lalu kemudian dalam waktu kurang dari 6 bulan kita sudah harus menentukan arah hidup? Brillian.

Mungkin memang ada anak anak teladan yang sah sah saja dengan semua ini, tapi saya nggak mewakili mereka. Saya mewakili saya sendiri, dan kalian yang mungkin berpikiran sama dengan saya. Bahwa ada hal hal lain diluar pendidikan formal yang menjadi tujuan hidup kita namun tidak mendapat perhatian dan dukungan dari pihak yang memiliki andil besar dalam pendidikan kita, yaitu Sekolah.

Sekolah sebenernya nggak buruk. Sistemnya aja yang udah harus berubah. Mereka harus bisa lebih interaktif dan reaktif terhadap bakat dan keunggulan tiap tiap siswa secara individu. Kalau sekolah msih terus main pukul rata bodoh dan pintar berdasarkan mata pelajaran. Maka selamanya jebolan pendidikan dasar di Indonesia tidak akan memiliki potensi berkembang.

Semoga semua perubahan dan perkembangan ini bisa terealisasi.

Jadi nggak ada lagi murid murid yang nge tweet..

“Tujuan untuk sekolah tuh cuma untuk bergembira mendengar bel istirahat dan bel pulang.”

Selama mereka masih berpikiran seperti itu, berarti ada yang salah dengan sistem di sekolah tersebut.

“Its not our fault for being an education dissidents and disdain the academics, its their responsibility to make the grade based on our personal interest. Its your future not them.” -Iga Massardi-

"We don't need no thought control. No dark sarcasm in the classroom. We don't need no education." Pink Floyd - Another Brick in The Wall

Advertisements

88 thoughts on “SEKOLAH?

  1. nico

    setuju banget mas iga, hal2 klise yg terjadi sama saya pas masih sma, semua di ukur dari akademik aja, yg non akademik di anggep ekstra, orang tua juga, sedih saya

    Reply
    1. igamassardi Post author

      Terimakasih mas Nico atas responnya, memang saya juga mengalami hal yang sama. Sedih memang, tapi justru itu tantangannya. Intinya mau sampe mampus juga harus meperjuangkan sendiri apa yang jadi pilihan hidup. Wong kita sendiri kok yg jalanin,mereka kan tinggal nyuruh. Enak aja.. Hahahaha! πŸ˜€

      Reply
      1. nico

        setuju2, terkadang ada miskonsepsi di kaum guru/orang tua nya sendiri, mereka bukan lagi bertindak sebagai pendidik dan pembimbing, tp malah jadi pengatur..
        betul justru itu tantangannya, lebih baik kalo di sarkastik-in, mending diem dan buktikan ga usah banyak cingcong..

        btw kemaren saya nonton mas iga di acaranya SGU trus duduk se baris, huaahha

      2. igamassardi Post author

        Iya betul itu mas Nico, memang bukti adalah senjata paling ampuh. Untuk mereka yang masih sering memandang sebelah mata atau kurang yakin terhadap suatu hal. Wah ternyata kita sebaris ya? semoga kita bisa bertemu lagi ya! πŸ™‚

      3. nico

        betul bukti..
        tiba2 kepikiran lagi, kadang2 apa yg anak lakukan tiba2 ada sangkut pautnya sama kebanggaan orang tua, terjadi kepada saya dan teman2 saya yg memutuskan untuk memilih bidang seni sebagai tujuan hidup*sedikit berlebih tp benar, saya di desain temen saya di musik, tp hal yg terjadi pada teman saya ketika mengutarakan pendapatnya kalo dia mau sekolah musik, lagi2 keluar komentar tidak mengenakan, seperti “nanti ayah bilang apa sama teman2 ayah kalo ditanya kuliah apa anaknya? main musik? jadikan hobi saja itu”

        atau “musik mah les saja, tidak usah kuliah buang2 uang”

        saya sendiri sempat terjadi slisih paham, cuma karena ayah saya tidak bisa membanggakan saya, karena saya sekolah desain, sedangkan anak teman2nya kuliah ekonomi, hukum? bahkan mipa, bahkan beberapa teman saya termasuk saya dicap egois karena di anggap tidak mau membanggakan orang tua..

        bukannya sebagai orang tua dan pendidik khususnya, harusnya bangga kepada “orangnya” bukan apa yg di lakukannya..

        baidewai besok saya nonton mas iga dan band death metalnya di newday kok mas, sampai bersua

  2. Anida Sabrina

    Hai Iga, terima kasih sudah memasukkan tweet saya itu ke blogmu. Dan ternyata kita sepikiran ya haha. Apalagi dengan adanya sistem UN atau ujian nasional. Masa 3 tahun kita SMA kelulusan cuma ditentukan sama seminggu itu? Jadi kalo ada orang pinter mengerjakan uan dengan sukses namun dia menggunakan pensil yang salah dan menyebabkan jawaban2nya tak terbaca dan nilainya 0 semua dia harus ga lulus dong? Masa kelulusan ditentukan oleh pensil? Sistem pendidikan makin lama juga semakin aneh. Oh anyway, nice post Iga πŸ˜€

    Reply
    1. igamassardi Post author

      Terimakasih Anida, ya seperti itulah saya ketika SMA. Dan memang kadang sistem sekolah itu dipenuhi dengan aturan aturan konyol seperti yang kamu sebutkan tadi. Sad but true. hehe..

      Reply
  3. Arindra Ragasti

    Masalahnya kadang keadaan ekonomi mengharuskan kita berpikir realistis. Abang gw dulu hampir masuk IKJ. Cita2 gw pengen masuk GIT (ini lebih mustahal). Tp krn waktu itu keadaan ekonomi keluarga belum memungkinkan terpaksa lah kita ambil jurusan kuliah yg “lumayan” kita suka (bukan yg “paling kita impikan”). Abang gw akhirnya masuk teknik mesin, gw teknik lingkungan. Pada akhirnya memang ngga bisa dipungkiri, darah seni itu (katanya) menurun secara genetik. It’s in our blood. Sekarang lebih banyak orang yg kenal gw & abang gw sebagai pemain band (emang banyakan main2 nya hehe) drpd sarjana teknik. Ironis.

    Reply
  4. superseru

    apa gua bilaaaaaanggg? we do need education, but we don’t need no thoughts control!!! sayang aja bapak gua dengerinnya Deep Purple -doi ngerokok di dalem aer mulu.. taeah..-, coba dengerinnya Pink Floyd, gua gak bakal gamang statis dan udah bikin cult band dan udah tour di Rep. Ceko sekarang! *curcol.. BWAHAHAHAAA…

    Reply
    1. igamassardi Post author

      Hahahahahaha ngerokok di aer!! Intinya itu dedikasi dai penetapan tujuan. Senjatanya kan simple, tele, overdrive, phaser, twin reverb. Sisanya ya banyak banyakin sabar menghadapi keraguan orang orang terdekat. hahaha..

      Reply
    1. igamassardi Post author

      Mahal itu kan bukan dalam koridor rumit atau simple. itu masuknya ke mampu dan tidak mampu. Simple kalo punya duit tinggal beli. Gitu aja kok repot. Kebanyakan dengerin CAN sih kamu itu. LOL

      Reply
  5. deva

    Iga!! THE BEST POSTING!!!
    kalo di Indonesia, industri Seni/Kreatif sayangnya masih jauh persentasenya!!!

    memang benar kata Arindra Ragasti itu.. passion seni emang gak bisa dipungkiri. Kalo dulu jujur, cita2 anak SD seperti saya ingin menjadi dokter. Lalu masa SMA ingin masuk Arsitektur/FSRD ITB. Akhirnya kuliah di Kedokteran Gigi.

    Awal jadi mahasiswa baru, banyak banget yang bilang “wah ada anak IKJ” atau “wahaha salah jurusan”. Akhirnya mengambil jalan ikhlas dan untungnya ada sebagian minat di jurusan ini. Hikmahnya, desain banyak kepake di acara2 kampus dan di luar kampus. πŸ™‚

    Terus Produktif Ga.. Terus Menginspirasi Banyak Orang..
    CARPE DIEM! πŸ˜€

    Reply
    1. igamassardi Post author

      Terimakasih banyak Dev! hanya berbagi tentang apa yang saya alami ketika berumur 17 tahun dulu. Senang kalo ternyata bisa menjadi inspirasi untuk orang lain. πŸ˜€

      Reply
  6. superseru

    koridar koridor, kamu ini bekas pegawai transjakarta apa gimana? eh sori nih joke-nya OOT. biar gak OOT joke-nya gua ganti deh:

    koridar, koridor, kamu ini dulu pak bon apa gimana, suka bersihin koridor? -> nah kayanya lebih kontekstual ke tema “sekolahan”..

    Reply
  7. dinda

    great writings ga, i totally agree!
    sekolah di indonesia harus diubah sistemnya, jgn selalu menggurui seperti sekarang. malah terkadang bakat2 muridnya dibabat abis. ckckck

    Reply
  8. Dewi Irma

    Nice post, Iga. Sebetulnya ada perbedaan antara “sekolah” dan “belajar”. Kalo belajar, bisa kapan saja, di mana saja, sampe umur berapa pun, tidak berhenti sepanjang hidup. Hidup ini pun proses pembelajaran bukan?

    Sedangkan sekolah, dalam wacana pendidikan di Indonesia, ini lah yang sering “mematikan” proses belajar itu sendiri. Contoh kecil: anak-anak kalo disuruh menggambar, nggak jarang banyak yang hasilnya adalah dua gunung dan matahari, itu aja udah mencerminkan kalo proses berpikir dan eksplorasi kreatif somehow dimatikan/distandarisasi di sekolah. Fenomena UAN, yang menilai hasil belajar seseorang bertahun-tahun hanya dengan kuantitas, daripada kualitas, itu juga mengerdilkan proses belajar.

    Kemudian, lama-lama sekolah menjelma jadi sebuah lembaga yang nggak menarik lagi sebagai tempat belajar. Jadinya sekadar ya..untuk ketemu temen, ngeceng, kayak yg lo bilang “nunggu bel pulang” aja, dan lain-lain, huhuhu.. Itu pun dengan catatan, fasilitas itu hanya bisa dinikmati bagi mereka yang punya materi berlebih untuk membayar sekolah/kuliah. Sementara sekarang ini, kan pendidikan makin mahal aja, pemerataan pendidikan pun makin jadi angan2, nggak heran deh kalo negara kita makin ketinggalan jaman aja. Njis, speechless ngomongin pendidikan sih, benangnya kusut, hulu sampe hilir.

    Tapi jangan menyerah..tapi..tapi..kenapa reply gw panjang bener yaa? Berasa jadi postingan dalam postingan. Ahahaha.. Just drop by, salam kenal aja, btw, gw yang ikut sorak-sorai pas di Jaya Pub kemaren pas kalian maen lho. Aahahahaa, apeu banget deh. Hskhskshkkk *pengakuan* ;DD

    Reply
  9. deasynta

    bagus postnya, very inspiring! sistem pendidikan kita kebanyakan cuma mentingin formalitas doang. dulu tmn gw ada yg pengen kuliah musik dan guru gw blg “ngapain kamu susah2 bljr ipa 3 taun trus endingnya CUMA maen-maen musik doang?” emosi ga sih lo dengernya?masa guru ngomongnya gitu.temen gw jg melajarin rumus2 fisika,kimia dll slama 3 taun itu karena terpaksa bkn dia yg pengen kok

    oiya gw suka pemikiran lo.mending lo jadi menteri pendidikan aja, lumayan kan jd menteri dpt toyota crown 1.3 milyar tuh :p

    Reply
  10. Taradise

    Mau nangis bacanya! This is exactly what I felt back then. Gue sempet sakit hati karena dipanggil guru BP gara-gara nilai eksak gue jauh dibawah rata-rata, mereka menghakimi seolah-olah gue bodoh. Damn! Dangkal banget rasanya kalo mengukur kecerdasan org cuma dr nilai eksak doang, huhu. Maybe you should send this post to Opini Kompas. Well done, Ga!

    Reply
  11. Pingback: Tweets that mention SEKOLAH? Β« Iga Massardi -- Topsy.com

  12. igamassardi Post author

    Untuk semua..

    Jujur saya senang sekali mendapat respon dari teman teman semua. Tidak menyangka ternyata banyak juga yang sepaham dengan saya. Untuk reply nya mungkin akan saya jawab langsung semua disini, agar lebih simple.

    @Iman Fattah
    Thanks bgt Man atas support nya, namun sepertinya gue belum PD untuk melayangkan tulisan gue ke media cetak luas. Hehehe.. Mungkin nanti, karena sekarang masih perlu banyak belajar lagi. πŸ˜€

    @Dinda
    Bener, dalam tulisan ini juga saya memang menekankan kepada sistemnya bukan menitik beratkan pada satu sekolah aja. πŸ™‚

    @Dewi Irma
    Jelas memang beda antara sekolah dan belajar. Saya juga setuju sama pendapat anda diatas. Belajar bisa dimana saja dan kapan saja. Terimakasih atas sumbangan kalimatnya! πŸ™‚

    @Deasynta
    Iya memang kadang sesuatu yang sifatnya non akademis sering dipandang sebelah mata. Saya juga dulu digituin hehe, cuma saya tantang balik. saya bilang begini ke guru matematika saya..
    “Saya mau main musik karena emang saya mau, karena kalo saya kerajinan mesti belajar matematika paling ujungnya CUMA jadi guru kaya Ibu.”
    Kira kira begitulah..
    Kurangajar? Iya saya memang murid yang kurangajar. HAHAHA

    @Taradise
    Nah yang kaya gini kan yang sering banget kejadian. Nggak bisa fisika dan matematika dibilang bodoh. Tapi coba si pintar matematika itu disuruh nyanyi sambil main piano. Bisa nggak? Kalo nggak bisa lantas dibilang bodoh juga? Nggak kan? ANEH. πŸ˜€

    @Risa
    πŸ˜€

    Reply
  13. deva

    BARU KALI INI SAYA SAMPAI KOMEN 2 KALI!!! πŸ˜€

    @ mbak-nya, Risa Kumalasita : iya.. laki anda ini memang radikal.. ekekekek, saya terkagum2 sekaligus terbahak2 kalo baca notes2 beliau di FB!! semoga kalian berdua cepat2 menikah ya.. pasti anaknya keren kayak bapaknya!! πŸ™‚ ahahaha

    @ iga : tetap merunduk seperti padi!! ditunggu postingan lainnya!! (mungkin bisa bikin sanggar kesenian bareng pak Cecep-nya)

    Reply
  14. nancy

    baca post lu,jd flashback kehdpan gw.hehe.betul,gw pd dasar suka bgt ma yg namanya ‘seni’.dr dulu gw mau jd artis,bkn utk bertenar,tp berakting,bermusik,berkarya.tp ntah knp ortu gw slalu blg,iy selesain dulu sekolah,ato pntingin sekolah dulu.dan blabla.
    sampai pd akhrnya gw ambil kuliah ambil jurusan komunikasi yg d suruh ortu gw pun dan sudah lulus yg bisa gw blg adlh hy buang2 wktu emas gw aj.
    gw ingin jd musisi.tp itu tdkk prnh di rubrish olh ortu gw.gw mau jd gitaris tp selalu jd pertentangan ortu gw.yg bisa mrka banggakan hy lah kk gw yg lulusan binus sbgai SI.yg di les kan organ agr bisa jd organis grja.sdkgn gw udh terlalu cape minta di les kan gitar yg hy masuk kuping kiri keluar kuping kanan.
    gw ngeband d mrhi smpai d pukul bkp gw.baginya mungkin itu hy sampah,pdhl itu sgt berhrga and gw senangi.
    gw bikin aspirasi lulus cpt dngn ipk yg bgs pun itu tdk membuat ortu gw BANGGA ma gw.pdhl kk gw ipk nya kecil dan krja d masukkin bkp gw.gw akn buktikan gw bisa cr krja tnp bntuan ortu.
    yg membuat gw skrg menyesal,apa pkrjaan seorng lulusan komunikasi smpai gw msh blm krja.fuck.gw mnyesal andaikan gw udh les gitar 2 thn lalu gw skrg udh bisa ngjar mjd guru musik.skrg gw msh les yg uang nya hrs gw byr pk uang gw sndiri yg smkin lama smkin menipis.
    walaupun gw srg d blg ank yg g bisa d banggain ortu,gw cuek aj.gw g mau jd sprti yg mrka inginkan,mjd seorg yg membosankan.semampu gw,gw terus mengejar cita2 gw yg tertinggal.
    skrg gw gabung ma tmn2 gw bkn2 film,main band,les gitar,itulah HIDUP gw.klo pun gw dpt krja,itu hy utk biaya gw byr uang les.selesai les,gw akn brhnti krja dan jd guru musik,berkarya,bermain musik and bikin film.I LOVE THAT

    Reply
    1. igamassardi Post author

      Nancy, sungguh saya tersentuh sekali membaca tulisanmu diatas. Beberapa teman saya juga ada yang memiliki pengalaman yang sama dengan anda, namun banyak dari mereka justru menyerah. Dan membaca tulisan anda saya salut atas kegigihan anda untuk tetap melakukan apa yang menjadi pilihan anda, tak perlu sesali yang sudah2. Tulisan anda sangat menginspirasi. Sukses dan semangat terus dengan apa yang anda jalanin sekarang!! πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

      Reply
  15. sarah preppy

    wah ..bagus banget ni posting nya ..seandainya ada perubahan menteri lagi .ak bakal ngerekomendasiin ke pak SBY buat ngejadiin Iga Massardi jadi menteri pendidikan aja.
    hehehehehehhe
    Stuju banget buat kata2 alasan klise kuliah . Abisnya itu ak banget ..
    Sekarang ak ada di jurusan Sosiologi yang ga tauu harus ngapain ,tapi uda stuck kaerna sekarang mau semester 6 .dan pastinya bingung kan tar prospek kedepannya mau kemana?
    gara2 ak ngikutin saran sodara yg agak ga penting . hemm ..
    Confused 4 my life .T_T
    well .. semoga masih ada harapan buat saya dan kita semua disini yang masih ingin menggapai mimpi ,cita-cita dan harapan .
    Skali lagii posting nya Two thumbs up !
    Mas Iga juaraaaaa satu deh!!
    heheheu

    Reply
    1. igamassardi Post author

      Halo Sarah, terimakasih sudah mau membaca blog ini. πŸ™‚ Coba anda baca reply milik Nancy, mungkin tulisan dia bisa menjawab keraguan anda. Sebuah tulisan yang saya harap bisa menginspirasi orang yang membacanya. Dan maaf saya menolak jadi menteri, karena saya alergi politik hahahahaah. Mungkin mau jadi kepala sekolah punya sendiri aja kali ya… πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

      Reply
  16. ico

    great note!!!
    kita senasib kawan. yakinlah pendidikan masa depan sudah memperhitungkan seni sebagai pelajaran utama.

    karena pola pikir guru dimasa depan sudah seperti kita ini.
    intinya, yang muda yang berani berontak demi kebaikan.

    Reply
  17. nancy

    thx y udh bls post gw.gw merasa sng bisa menumpahkan pengalaman gw d sini yg slalu gw pendam.thx klo gw mjd inspirasi lu.dan lu pun sbnrny mjd inspiras gw.
    sbnrny gw tdk myalahkan ada nya sekolah.mungkin itu memenag sdh sistem yg mengatur klo kita memang hrs bersekolah.gw pun klo py ank psti akn menyekolahkan nya.tp tdk menyepitkan kesukaan ank gw.tp mengembngkan kesukaan ank gw.
    sekolah itu mencintai iga.gw menemukan guru yg gw sygi.tentu saja guru musik gw dr sd,smp,smu.gw mndptkan tmn,pacar,dan shbt smpe skrg.shbt gw bisa memberikan ksh syg k gw d bndingkan ortu gw.
    gw kadang sedih dan iri mlht ortu yg msk in anknya les.sdgkn gw msk les,dgn uang sndri yg gw kumpul2 dr uang jajan gw tiap bln.gw sgt ingin les,utk mngmbngkn bkt gw and mndptkn komunitas yg bisa membuka sayap gw mnjd luas.gw br bisa les 1 thn kmrn,krn thn2 kmrn gw msh blm sanggup uang gw utk membyr nya.
    seni adlh hidup gw.sbnrny gw pngn msk kuliah film.tp itu jg tdk d setujui ortu gw.lu emang bnr,g ad gunanya menyesali yg lalu.
    gw kdg2 menangis mlht film2 sperti garuda di dadaku,mndptkn pertentangan tp dia bisa meraih mimpinya.dan juga mjd suatu semangatt buat gw,klo gw bisa.atopun lht indonesia idol,mlht muka kesenangan dan kesedihan mrka krn mndptkan ap yg mrka inginkan.dan gw pun yakin suatu saat gw akn bisa bermain musik di dpn org byk,dan tertawa dan menangis krn gw meraih cita2 gw.
    byk tokoh2 musisi atopun org sukses lainnya,justru meraih kesuksesan mrka byk mendpt kesediahan,kepahitan,dan kesusahan shngga mrka smpai pd kesuksesan mrka.dan gw prcy gw bisa.
    thx yah..

    Reply
  18. veniestlavie

    memang kebanyakan anak yang lebih menyukai seni dan olahraga akan selalu menghindari sekolah formal karena memang sistem pendidikan kita tidak mendukung terutama di dua hal itu.

    tapi kayaknya banyak juga anak2 yang suka sekolah. anak-anak yang merasa memecahkan trigonometri dan sejarah perang dunia itu sangat menarik betapapun membosankan cara guru mereka mengajar. anak2 yang dengan semangat menghapal nama latin tumbuhan dan reaksi tata nama valensi betapapun asing nama itu terdengar.

    yang tidak adil mungkin juga masyarakat. yang menuntut dan membuat bingung mereka mereka yang tidak punya keyakinan akan apa yang benar benar mereka sukai. sampai salah masuk jurusan pas kuliah atau bekerja di tempat yang tidak sesuai dengan keinginan.

    beruntunglah kalian (dan terutama elo) yang punya kesempatan dan sadar duluan akan apa yang bener2 lo suka.

    follow ur bliss and live ur life to the fullest itu yang susah. dan yah kayaknya itu intinya elo hidup.

    ……..

    untuk menutup komentar super serius ini, gue akan memberikan tebak-tebakan untuk menstimulan otak jenius lo agar bekerja lebih cepat lagi

    ‘siapa nama asli nyamuk?’

    Reply
  19. mynameisuta

    Gak bokapnya gak anaknya tulisannya bagus bener.

    ‘Follow your passion’ suka banget gue sama quote nugie ini.

    Tetap menginspirasi, Iga Massardi!

    Reply
  20. igamassardi Post author

    Sebelumnya terimakasih sekali atas responnya, saya reply langsung disini ya teman teman..

    @Nancy
    Iya memang justru ironisnya adalah bahwa begitu banyak hal hal lain diluar konsep “sekolah” yang membuat kita ingin bersekolah setiap hari. Guru yang baik, temen, pacar, dll..
    Memang seperti saya tulis juga di tulisan saya, bahwa yang salah bukan dari sekolahnya, tapi dari sistemnya. mereka (sekolah) tentunya kan mengikuti sistem negara yang berlaku. Kalo sistem berubah, niscaya mereka juga akan turut menyesuaikan. Semoga..AMIN. πŸ™‚

    @Tiara
    Terimakasih atas link nya, saya sudah baca. Sangat menyentuh juga karena sudut pandangnya sekarang dari orang tua. Jadi ada kacamata yang berbeda. Menarik sekali! πŸ™‚

    @Venie
    Iya tentu saja banyak juga yang emang seneng sekolah formal,itu hak mereka dan selama mereka menjalaninya dengan passion itu justru bagus. Nah yang saya angkat disini adalah tentang ‘wilayah’ lain yang tidak bisa di standarisasi begitu saja. Karena tidak semua orang senang belajar rumus dan pasal. Dan bagaimana harusnya sekolah sekarang mensikapi hal ini. Itu yang saya coba sampaikan. Mengenai nyamuk…. Mas Kito? LOL! πŸ˜€

    @Utha
    Haha terimakasih banyak mas Utha!! πŸ˜€

    Reply
  21. imanfattah

    Yang harus dirubah adalah sistem pendidikan dan cara menyampaikan pelajaran itu sendiri. Bahkan di sekolah musik dan seni pun banyak murid yang akhirnya berguguran, mungkin karena sistem pendidikannya atau malah tidak menyangka bahwa ternyata belajar gitar perlu tau chord, scale, not balok, etc, etc. Niat mau belajar recording ternyata mau gak mau musti tau basic matematika & fisika. Belajar film ternyata musti ngerti photography (kalo ini gak jauh lah ya, hehe).

    Begitu juga dengan pelajaran lain. Semenarik-menariknya pelajaran itu apabila tidak disampaikan dengan baik akan menjadi membosankan dan akhirnya, hilang mood. Ini juga salah satu alasan banyak yang gak selesai di IKJ, ITB atau seklah seni lainnya.

    Then again, penyampaian yang baik berbeda-beda tiap guru, kembali kepada cocok atau tidaknya antara si murid dan si guru.

    Intinya sih, gue setuju 100% sama Iga bahwa sistem pendidikan di Indonesia harus benar-benar keluar dari dogma orde baru, karena menurut gue, kita belom benar-benar reformasi di bidang pendidikan.

    Keep on writing and sharing your thoughts Iga Massardi, jangan lupa pake Compressor…

    Reply
  22. gilar jodi

    nice post bung!
    exchange link ya?

    baca posting yg ini, saya jadi inget sama ceritanya exupery yg little prince, alih-alih belajar menggambar yg jadi bakatnya supaya menjadi salah satu pelukis besar malah disuruh belajar matematika dan fisika dan berakhir menjadi seorang pilot,,
    ironi ato tragedi ato monopati entahlah, yg jelas busuk aja rasanya sistem pendidikan di indonesia yg memandang murid hanya sebagai komoditi berharga yg disebut “CALON TENAGA KERJA”, seolah-olah semua ditentukan oleh faktor ekonomi demi mencapai pertumbuhan perkapita yg mumpuni, lantas siswa dan mahasiswa dikorbankan karakter dan jiwanya,,

    berseragam di sekolah memang menyenangkan, bila sekedar menghapus pembedaan status sosial sang murid, namun bila penyeragaman harus merasuki otak, maka selamanya sistem pendidikan indonesia hanya bisa menghasilkan mesin-mesin produksi kapital yg apatis,,

    keberagaman pikiran dan pemikiran harusnya dilindungi, apalagi sekarang udah jaman globalisasi yg butuh spesialisasi, kalo semua murid diperkosa pikirannya utk mempelajari bidang yg sama dg berjuta manusia lainnya, bisa-bisa globalisasi malah bikin indonesia dipenuhi dg konsumen-konsumen yg sama dan seragam pemikirannya,,
    salah siapa? sistem pendidikanlah!

    karena bagaimanapun miripnya konsep sebuah mimpi, setiap orang pasti berbeda dlm detailnya, dan utk mewujudkan mimpinya, setiap orang membutuhkan pendidikan dan pengajaran yg baik dan sesuai dg mimpinya,,
    bila seseorang bermimpi ingin menjadi pelukis, gak perlulah dia belajar akuntansi!

    again and again, indonesia needs to be constructed not reconstructed, karena sampe sekarang fondasi yg ada masi tentatif dan nisbi,,

    Reply
  23. gilang ramayani

    hmm..ga, untuk orang orang seperti elo yang sudah tau dari kecil apa tujuan hidup lo mungkin sekolah seperti membelenggu kreatifitas.

    gw bukan orang yang bisa tau apa yang gw suka dari kecil. dan sekolah justru bikin gw menemukan apa yang gw suka.

    gw setuju kalo sekolah itu membosankan. sangat membosankan. nah, untuk mengisi kebosanan itu gw suka nulis nulis ga jelas. dan akhirnya gw tau kalo gw suka menulis. coba kalo gw ga sekolah?hehhe

    tapi tulisan lo bagus ga. gw juga ga suka kalo seseorang dinilai hanya dari matematika, fisika, biologi dan lalalalilili itu.

    banyak yang harus dirubah dari sistem pendidikan indonesia. banyak sekali.

    Reply
  24. igamassardi Post author

    Sekali lagi terimakasih teman teman atas responnya,berikut reply dari saya..

    @Iman Fattah
    Setuju man, memang kalo diurut akan jadi panjang akarnya. Bahkan disekolah ‘hobby’ pun sering terjadi yang lo bilang. Mungkin dikatakan oleh Ico, bahwa generasi kita yang harus bikin perubahan. πŸ™‚

    @Gilar Jodi
    “setiap orang membutuhkan pendidikan dan pengajaran yg baik dan sesuai dg mimpinya,,
    bila seseorang bermimpi ingin menjadi pelukis, gak perlulah dia belajar akuntansi!” <- paragraf yang sangat menjelaskan! Bullseye! πŸ˜€

    @Gilang Ramayani
    Paradoks nya menarik ya, bahwa justru karena nggak suka sekolah malah dari situ 'nggak sengaja' ketemu sama passion anda. Semoga untuk generasi sekolah yang akan datang bisa lebih reaktif terhadap passion tiap tiap muridnya. Agar nggak perlu buang buang waktu untuk tau apa yang muridnya mau. Dan muridnya bisa lebih mengenali passion nya sedini mungkin. Semangat!! πŸ˜€

    @Nico
    Memang kadang menyakitkan ya menghadapi kenyataan yang mas Nico alami. Tapi kalo mau buka mata lebih lebar. (No Offense) Banyak kok sarjana hukum, ekonomi, komunikasi yang nganggur, nggak dapet kerja. Orang tua mereka bangga waktu anaknya wisuda aja, dapet gelar, dapet ijazah. Setelah itu apa? Mereka (si anak) harus bersaing dengan sarjana2 lain yang sudah menganggur dari tahun2 sebelumnya. Dan jumlah saingannya? Ribuan. Lantas ketika sang anak nggak dapet dapet kerja kemudian dimarahi. Ironis sekali. Lalu apakah musisi, desainer, aktor, selamanya hidup miskin? Coba lihat berapa banyak desainer yang kerja di biro periklanan dan berpenghasilan sangat layak? Dan musisi sekarang silahkan lihat saja band band Major label. Apakah itu tidak lebih dari cukup?
    Paradigma kuno yang mendewakan gelar sudah seharusnya musnah. Sekarang lebih baik melakukan semua berdasarkan passion masing masing, gelar taro dirumah aja. Karena menggambar, main gitar, menulis itu pake otak dan tangan. Bukan pake gelar.

    Reply
  25. ando

    Just wanna say: Terima Kasih Iga dan semua orang yang sudah menulis di blognya Iga..

    Gw merasa ga ada celah lagi untuk menulis, karena semua sudah terwakili oleh tulisan Iga dan kalian semua. Perasaan yang gw alamin sama kaya kalian. Jujur gw CINTA banget sama seni apalagi musik. Tapi sampai saat ini gw cuma berjalan di tempat. Ngga ada perkembangan, terlalu stuck sama hal yg berbau akademis yang kaku dan formal, dan “media” penunjang yang kurang men-support.

    Semoga sekolah di masa yang akan datang lebih atraktif dan sensitif dengan talenta anak anak muridnya dan tidak beranggapan bahwa murid yang tidak bisa Matematika, Fisika, Kimia, Biologi dan seterusnya itu dianggap bodoh..

    sukses ga..

    Reply
  26. teguhwicaksono

    gw sepenuhnya setuju sama tulisan lo nyet, hanya mau memberikan pandangan lagi. kita hidup di negara berkembang (Indonesia). Di negara seperti ini, hal hal / keahlian dengan prioritas sekunder, belum terlalu mendapatkan konsiderasi sebagai sesuatu yang penting. Maka dari itu lahirlah profesi favorit mertua; lawyer, dokter, insinyur atau apalah itu. karena di negara berkembang, bidang-bidang itulah yang dipertimbangkan menjadi sebuah profesi yang baik. baik disini dalam arti baik bayarannya dan juga baik imej nya di masyarakat.
    Negara dunia ketiga, sejak lama memang udah mengedepankan bidang-bidang krusial seperti ekonomi, kesehatan, hukum dll. karena bidang itu yg diharapkan, maka ada pengerucutan topik pendidikan yang berujung menjadi pola pikir kolektif terhadap imej profesi . akar pendidikan Indonesia yang notabene negara dunia ketiga dan juga negara berkembang, sudah pasti masuk kedalam kategori itu. Akibatnya, musisi, atlit, pelukis, dan semua “profesi tesier” / profesi lingkaran kedua – ketiga. Di negara maju, di grade SMP-SMA kita udah bisa pilih major edukasi apa yang kita mau, karena di negara dengan kesejahteraan seperti itu, SDM-SDM yang seperti itu udah bisa mendapatkan apresiasi yang maksimal juga, termasuk apresiasi di bidang duit.di tambah lagi, SDM SDM di negara maju, tidak perlu takut mereka minus apresiasi, karena semua bidang dan kajian sudah ada komunitas dan institusinya masing-masing.
    itu dia pandangan gw terhadap kenapa ada penyeragaman pola ajar dan bidang ajar di Indonesia.

    Reply
  27. veniestlavie

    kasian si sistem dia disalahkan selalu. mari berharap banyak kepada mereka yang sekolah pendidikan atau berkecimpung di dunia pendidikan. atau tidak? atau ayolah kita bongkar aja si sistem mulai dari partikel terkecilnya. diri sendiri. sehingga ketika satu jari yang menunjuk menuding pada orang lain 4 jari lainnya mengacu pada diri sendiri.

    …..

    ps : nama asli nyamuk tatang..

    Reply
    1. igamassardi Post author

      Inti tulisan saya adalah memang menunjuk terhadap apa yang salah. Dan memang kasihan si sistem, dia disalahkan banya orang. Sekarang memang ada baiknya berharap, namun lebih baik melakukan perubahan sendiri. Seperti yang dilakukan oleh ibu saya dengan membuka TK dan SD GRATIS khusus untuk orang yang tidak mampu. Dengan kurikulum yang diperbaharui sehingga murid tidak lagi di doktrin dengan sistem soal pilihan ganda (sebuah sistem soal yang tidak membiasakan kita berpendapat sehingga sekarang banyak anak muda yang enggan mengemukakan pendapat karena nggak tau mesti ngomong apa). Ini sebagai salah satu contohnya. Jika anda anda berkenan untuk melihat lebih jauh silahkan datang kerumah saya. : )

      Semoga bisa diambil point nya ya Ven. πŸ™‚

      Reply
  28. KeshiaDeisra

    Omg, I like this post!! Gue lagi ngerasain the same exact thing kayak yg lo dulu rasain. Back then, kita gak bs apa2 selain produktif sama personal interest kita itu di luar sekolah. SMA 3 taun mah cipil kalo liat puluhan taun ke depan hidup kita cerah, bukan karena tinggi rendahnya nilai UN!

    Reply
  29. siapa aja boleh

    ya saya setuju dengan anda.terkadang hidup ini memang ironi dan penuh dengan dilema. saya sendiri duduk di kelas 11 sma,yang penuh dengan dilema.menurut saya,pada masa2 seperti ini,adalah masa2 keemasan kami.kami mampu mengekspersikan segala sesuatu yang kami yakin hanya kami dapat pada saat kelas 11.namun , kami pun harus menghadapi segala sesuatu yang ada di kelas 12 nanti.

    namun kawan,dilema yg sebenarnya adalah : “apakah kita sudah kompeten di dalam hal2 yang berbau di luar sekolah?” banyak seorang anak menganggap,bahwa sekolah itu gak penting dsb”.namun apakah anak itu,sudah mampu dan membuktikan bahwa anak tersebut bisa menghidupi diri sendiri ketika di masa dewasa?”

    di dunia musik sendiri,banyak sekali orang yang berhasil dan mencapai puncak kejayaan sementara.tidak ada yang selamanya.
    Lihat saja : Ahmad Dhani,ia tidak lagi mengabdi sepenuhnya pada musik.Ya,dia juga mengabdi pada bisnis dan industri musik.Ia menciptakan band2 baru,di bawah panji “Republik Cinta”miliknya.

    Memang semua dilema bung.
    Tinggal kita yang menentukan,mampu kah kita berkompeten dalam menjalankan hidup ini.

    Salam.

    Reply
    1. igamassardi Post author

      Pertanyaan seperti “apakah saya mampu?” adalah milik hampir semua orang. Lalu kalau hanya bertanya seperti itu apakah akan timbul penyelesaian? Tidak akan. Lebih baik tidak bertanya dan jalani dengan penuh keyakinan. Itu sih prinsip saya. Kalo saya kelamaan mikir bisa atau nggak nya saya cuma akan jadi paranoid dan itu nggak akan menghasilkan apa apa. Do it and fix it as you go.

      Salam! πŸ™‚

      Reply
  30. Kathie_cihuy

    Well ga, ngomongin soal pendidikan udh membuat kepala gw puyeng tujuh keliling…klo dibahas tuh ga ada juntrungannya….Slama korupsi berjalan, ga ada pendidikan yg baik untuk generasi2 kedepannya.

    Sedikit flashback jg ga masalah ‘pendidikan’, awalnya bisa dibilang gw salah jurusan dengan mengambil jurusan menjadi seorang guru b.inggris. Sebenernya darah seni di kluarga gw besar bgt apalagi dr bokap gw, bokap gw orngnya serba bisaan gitu mau main alat musik apa aja dia bisa, gamelan udh mahir dr kecil, trus ditambah dia bisa ngelukis….Can u imagine that ?! art is in my father’s blood and now he passed on to me, which is i LOVE it a lottt !!
    But then, pernah gw bilang ke bokap gw untuk ambil jurusan musik karena gw seneng bgt sm perkusi ga tau knp perkusi tuh no limitation bgt. Bokap sih ga pake ba-bi-bu lasngsung ok ok aje,well…again…and again…nyokap gw lah yg ga setuju akan hal ini. Biasa alasan klise ( * faktanya orng indo masih melihat titel…) yg selalu melatarblakangi nyokap gw untuk melarang gw ambil jurusan musik. So, dengan terpaksa gw ambil jurusan B.inggris, dgn pemikiran yg simple ya krn di UN gw dulu bhs. inggris gw paling tinggi. Setelah menjalani kehidupan kampus gw, tiba2 gw tersadar akan suatu hal….
    Dimana gw ga boleh egois sm diri gw sendiri, gw harus realistis sm kehidupan gw…pertanyaan simple dtng dibenak gw, “skrng lo sadar ga lo tinggal dimana ?”… di Jakarta yg mana masih negara berkembang. Profesi sebgai musisi tuh masih dianggap minoritas untuk dijadikan pekerjaan tetap. Makanya selama gw kuliah gw merenung, menjadi seorang guru ternyata it’s not as boring as you think, gw switch pikiran gw dengan mengartikan bahwa ‘guru’ it’s lifetime job yg mana nantinya kalau gw berumahtangga profesi guru itu akan selalu melekat didiri gw, krna klo gw nanti jdi orang tua gw pasti akan menjadi guru bagi anak2 gw…Emang pikiran gw kyknya panjang bgt, krna dlm hidup itu kita dihadapkan oleh berbagai macam pilihan baik yg positif atau pun yg negatif. Makanya gw selalu merenungi segala apa pun yg terjadi dikehidupan gw supaya gw ga salah jalan.
    Akhirnya yg tadinya gw ga suka jdi guru sekarang gw udh ketagihan jdi guru, saking ketagihannya skrng gw udh kerja sebagai guru part-time and private and penghasilan gw bs dibilang dobel dr tmn2 gw yg lain…and soal musik, gw sampe sekarang ga pernah sedikit pun ninggalin kesukaan gw akan perkusi…malah gw sering main2 di studio tmn gw untuk latihan perkusi dan ngebantuin tmn2 gw untuk bikin musik….Alhamdulillah !! (^_^)

    Bener kata lo ga, smua itu ga usah disesali. Ini emg udh rencana tuhan gw harus memilih jalan hidup seperti ini. Asli gw sama sekali ga nyesel sama suka & duka yg terjadi di kehidupan gw, krna gw bisa ngejalanin apa yg gw suka dengan berbarengan. Kuliah & kerja OK, bermusik jg OK !! Klo gw sih berpikir, klo bisa dibarengin knp ga ? Di lain sisi gw bisa banggain ortu gw, di lain sisi gw bisa ngembangin hobby gw bermusik….jdinya balance deh !!

    Maap ya ga, comment gw jdi panjang. Well, gw cuman pengen share aja ttg pengalaman hidup gw yg mudah2an bisa membantu atau bisa menjadi input-an buat para pembaca blog lo.

    SUKSES selalu buat blog and musik lo !! Keep on Rockin’, ga !! Cihaaaa…..

    Reply
    1. igamassardi Post author

      Pengalaman lo sama seperti yang di post oleh Gilang. Bagus banget Kath. Bahwa ternyata lo bisa menemukan passion lain dari apa yang lo impikan yaitu musik. Dan musik lo pun tetep bisa berjalan. Iya memang kadang hidup di bidang seni itu masih sering dipandang sebelah mata. Entah kenapa. Padahal kalo dilihat jaman sekarang kehidupan musisi bisa dibilang sangat menjanjikan. Apa kabar Nidji dan Samsons? Kalo mengambil contoh kecil. Cuma mungkin paradigma berpikir orang tua yang…yaa lo tau lah. Lalu apakah menjadi sarjana dan mendapat adalah sesuatu yang begitu menjanjikan? saya rasa tidak.
      Thanks Kath udah merespon, semangat terus mengajar!! kapan kapan silahkan main ke sekolah gue kalo ada waktu,mungkin bisa diskusi pendidikan sama ibu gue. πŸ˜€

      Reply
  31. vanya

    Way to go!!buat iga yang berani menentukan arah hidupnya tanpa mau didikte oleh orang lain. Anyway, kapan video klip keluar?

    @kathie_cihuy: kat,sebagai teman seperjuangan mari kita songsong masa depan kita yang tampaknya cukup gemilang ini dengan menjadikan anak2 indonesia sebagai anak2 unggulan yg bs menentukan arah hidupnya sendiri dengan baik.. as Iga does.

    Reply
    1. igamassardi Post author

      Ayo semangat Vanya dan Kathie!! πŸ˜€ πŸ˜€

      Klip belum ada rencana, tapi akan ada yang lebih menarik dari sekedar ‘Klip’ yang sedang kami kerjakan. Just wait and see! πŸ˜€

      Reply
  32. sendpostcardstotheisland

    Iga Massardi! Sungguh tulisan yg mengharukan. Tetaplah menjadi musisi. Mungkin utk orang orang yg gagal spt saya setidaknya. huhu. Didoakan masuk rock and roll hall of fame!

    Reply
    1. igamassardi Post author

      Wuah AMIN! terimakasih atas doanya,sebetulnya tidak ada kata gagal sih,mungkin hanya perlu mencoba lebih keras.Menurut saya sih gitu hehe. Semangat terus!! πŸ˜€

      Reply
  33. siapa aja boleh

    betul mas.kalo masalah kita berkompeten atau tidak akan ada habisnya.saya sendiri hidup dalam dunia musik.tapi saya memang agak ragu untuk berjalan ke arah sana.ya hobi dan cukup mencoba2 mencari untung lah.tapi saya masih prioritaskan pendidikan. Saya amat luar biasa salut atas jalan pemikiran anda!

    Reply
    1. igamassardi Post author

      Ragu memang dialami sama semua orang termasuk saya, ragu apakah ini akan sukses atau tidak.Cuma ya jalanin aja kalo saya sih hehe.Resiko akan selalu ada untuk dihadapin.Saya dukung prioritas anda di dunia pendidikan,dan semoga kelak anda bisa melakukan perubahan2. Semangat saudaraku!! πŸ˜€

      Reply
  34. Dinar

    Baru baca…dan seneng ngeliat ini…berharap banyak yang seperti ini dimasanya nanti…agar saat kita menjadi structure dalam pendidikan kita bisa melihat satu tujuan bukan hanya dijalankan pada tujuan tersebut, tapi tujuan dapan juga berjalan jika kita mau melihat peluang lain dalam tujuan tersebut.
    tujuan sekolah adalah pintar, tapi terkadang sekolah ga memikirkan cerdas…pintar secara akademik dengan pintar secara naluri, lebih abadi da bermanfaat yang secara naluri.
    keterpaksaan bukan jalan untuk sampai tujuan.
    pembebasan diri sama dengan pencarian jati diri..
    makanya sekarang ga banyak anak muda yag punya jati diri, karna mereka masih terus terkukung dengan masyarakat yang memikirkan bentuk atau kebiasaan tanpa memikirkan isi. semua hanya ritual. dan yang dibutuhkan saat ini adalah manusia-manusia dengan pengembagan dirinya sendiri..tentu dengan tanggung jawabnya…

    sukses buat pencarian jati dirinya…

    GBU

    Reply
  35. sida

    The best posting of this blog! Dan rasanya yg mau saya suarakan udah dikeluarin semua sama orang2 yang komen disini. Saya rasanya senasib sama mbak Arindra Ragasti, darah seni ada dalem diri saya tapi karena benturan biaya jadinya ga bisa diasah di tempat yang seharusnya bisa jadi wadah. (Tapi untungnya sih saya kuliah di jurusan yg ga terlalu jauh2 dari minat, di jurusan periklanan).

    Speaking of money, salah satu universitas terbesar di negeri ini (ga usah disebut lah, mungkin semuanya nanti tau sendiri) baru2 ini naikin biaya masuk buat kuliah, tapi gaji dosen ada yg belum dibayar. Pertanyaannya : itu duit buat apa?? Universitas ini mestinya jadi panutan tapi sistemnya malah busuk begini, malu2in. Jadinya saya malah ga bangga jadi lulusan situ, dan kelak klo punya anak saya gak akan lagi saya paksain masuk situ, kayak orang tua saya dulu yang ngotot sampe banyak berkorban biar saya bisa masuk situ, tapi mereka ga tahu ternyata kampusnya sekarang parah!

    Ironis emang pendidikan di Indonesia, tapi saya seneng liat generasi sekarang bisa menyalurkan bakatnya dengan caranya sendiri, dan banyak bgt yg sukses, karena ngikutin passionnya yg besar! (salah satunya anda mungkin Iga? πŸ˜€ )

    Keep follow our Passion! πŸ˜€

    Reply
  36. Shintung

    Saya setuju banget sama tulisan ini hehe.

    Selama beberapa tahun saya sekolah ini (dan belum lulus pula, masih SMA) saya ngerasa kalau yang di bilang bodoh itu ya anak yang ga bisa ngitung (iya, saya banget), berarti kepintaran seseorang cuma dihitung dari bisa-enggaknya dia ngerjain trigonometri hahaha. Padahal kan semua orang beda2… bener kata tulisan situ.

    Eh, kalo menurut saya seharusnya murid diberikan kebebasan untuk memilih mata pelajarannya.. sialalalala.

    Reply
  37. iraaaaaa

    huuuaaa teringat akan The Faculty OST film paporit geng kitaaah.. Pink Floyd – Another Brick in The Wall….

    Nice Quotation…. Gw pernah liat sistem belajar anak sma di amerika lewat program ‘AMERIKAKU’ mereka di provide with so many options of learning…. mereka diajarkan untuk berpikir out off the box,,,,,, so gw setubuuuh (alah) setujuh “Sistemnya aja yang udah harus berubah” hiduppp perubahan…..!!!! opo toh???

    Gw rasa dunia pendidikan kita butuh orang2 kaya lw ga…. gimana klo lw ngelamar aja jadi menteri pendidikan… gw siap mendukung deeeh ^^

    Reply
  38. Fanny

    Iga, boleh minta detail tentang sekolah yang nyokap lu bikin ga? Gw sama temen2 gw kebetulan lagi nyari kegiatan2 kaya gitu. Ini gerakan gw sama temen2 gw yang lagi coba galakkan,
    http://www.facebook.com/group.php?gid=92590297951

    Btw, kalau boleh tau, yang ikut sekolah disitu biasanya anak-anak apa yah? Trus, lokasinya dimana? Engg sebenernya masih banyak yang pengen gw tanyain, boleh minta kontak personnya aja? Atau alamatnya deh..

    Maaf banyak nanya.
    Thanks ga πŸ™‚

    Reply
  39. nieahoy

    mungkin aku ga bisa komen panjang dengan bagus, atau bermakna. tapi beneran, aku terberkati dengan post blog ini. bikin jadi kuat untuk tetep pertahanin apa yang emang aku suka dan aku bisa. thanks bunches :3 (kalo blog ini aku review link di blog aku boleh ngga?)

    Reply
  40. Andrinugra

    Sekolah ??? Sangat penting !!! Jer Basuki Mawa Beya. “Kalau pengin hidup mapan, berpendidikan, termasyhur harus pakai uang” ya…. namanya juga jaman edan….
    sekarang tuh Guru yang tidak “nduwiti” atau matanya ijo atau tidak berorientasi pada uang itu sedikit. jadi bagi kaum seperti saya yang berada dibawah, sekolah dan cita-cita cuma jadi pelengkap biodata.

    Reply
  41. Eda

    Aku suka tulisannya. sangat… mewakili aku banget, jadi ingat dengan masa sekolah dulu. bagaimana slalu dipaksa pergi k ‘sekolah’, maka masa sekolah dimana aku selalu datang terlambat dan pulang paling awal..
    setuju dengan apa yang di coment2-in, diatas…aku suka belajar tapi tidak dengan sekolah–sistemnya sangat buat aku muak…

    Reply
  42. diomamen

    iga,elo alumni alkemprat ya?angkatan berapa?
    haha gw jg baru jadi alumni di kemprat taun ini heuheuhe
    ah sama aja gw di kemprat males belajar,guru mtk lo dulu siapa?kalo kelewat pinter mtk ntar gw jg ogah jd guru mtk hahaha,jaman sekarang kemprat udh lebiiih sedikit menghargai seni,lebih dari cecep era hahaha

    Reply
    1. igamassardi Post author

      saya lebih suka memakai kata ‘perubahan’ karena pemberontakan tanpa perubahan itu nggak berguna. saya suka sama kalimat kamu yang terakhir. merdeka adalah segalanya. πŸ˜€ terimakasih sudah membaca Rahma.

      Reply
  43. dyah

    Iga tulisan lo keren!!!
    kadang ortu emang suka ngocol gitu(durhaka)…HAHAHA
    ya tapi cuma ada segelintir remaja yg berani berontok kayak lo..seperti gue..hehehehe

    Reply
  44. sofi

    kak iga.. tulisannya ngena bgt deh

    saya bru bgt keluar SMA tahun ini.. saya ngerasain apa yg pernah kka rasain dulu. Dari dulu sampe sekarang saya suka menulis, motret. Ya walaupun tulisannya cuma bisa dtulis d halman belakang buku pelajaran saya. dan foto nya juga cuma bisa dliat seketika pas saya ambil gambar dan lalu saya hapus. Orang tua saya sebelumnya tidak mendukung dengan hobi motret saya, karena saya kadang aneh kali ya kelihatannya, di mana-mana saya nyari objek yang aneh, kadang ampe guling”an di pasir.
    Sekarang saya nerusin sekolah msuk FK, yg emng itu keinginan orang tua., tapi untungnya saya emng suka itu.
    Keinginan saya sebenernya ingin memotret dengan bebas tanpa omelan-omelan yg kadang membuat saya tertekan. Jujur memotret itu hiburan saya. Saya gg nyerah, saya terus motret ampe suatu saat saya dpet fto yg saya bilang itu paling bgus..
    Saya kasih liat itu ke orang tua.. Dan terkejut, ayah blg “ini bagus nak”. Puji Tuhan saya bersyukur sekali saat itu. Dari usha yg saya lakukan selama ini , akhirnya orng tua saya mengerti dengan hobi saya..

    Jadi memng benar, kita tidak boleh menyerah untuk sesuatu yg kita inginkan..

    Mkasih ka iga.. ini post mengingatkan kejadian” yg pernah saya lalui.. πŸ™‚

    Reply
  45. uyuy

    LENTERA JIWA-NUGI bener bener nyambung sama yang ditulis sama kak iga.
    tapi aku yang masih SMA aja udah gemes sama semua peraturan yang ada disekolah. Hemh.
    Tapi mau berbuat apa juga susah sekarang. Yang aku pikirkan sh sekarang bagaimana aku bisa mencapai apa yang aku inginkan dengan semaksimal mungkin. Biar aja hanya satu atau dua orang yang mendukung, tapi semoga kelak bahkan ribuan orang yang angkat topi (lebay!) . Tapi sebenarnya menurut aku banyak orang yang seperti aku . Serba salah saat ini apa yang dilakukan . ( CURCOL ABIS! πŸ˜€ )
    Tapi post diatas jadi bener bener inspirasi banget ka buat aku kedepan hehe..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s