Monthly Archives: January 2010

SEKOLAH?

Saya adalah anak yang tidak pernah menyukai sekolah.

Orang tua saya, khususnya Ibu saya. Selalu kewalahan menghadapi masa masa sekolah saya. Dari SD sampai SMA, saya bukanlah anak yang bisa diharapkan untuk mengerjakan PR atau menyelesaikan tugas tugas sekolah sendiri tanpa paksaan dari pihak sekolah dan orang tua. Saya sempet dibawa ke psikolog untuk memastikan bahwa tidak ada kelainan yang berlebihan dalam perilaku saya sebagai anak kelas 5 SD.

Bukan tanpa alasan saya nggak suka yang namanya sekolah.

Pertama, mereka (sekolah) nggak pernah memberikan ruang agar kreatifitas saya dijadikan sesuatu yang berharga secara akademis. Saya sadar bahwa saya emang nggak pandai berhitung dan menghafal pasal pasal UUD yang menurut saya sampai sekarang nggak ada gunanya (paling tidak buat saya pribadi). Tapi saya yakin bahwa saya bisa berkesenian dengan baik dalam hal musik. Tapi alih alih mendukung bidang yang menjadi keunggulan saya, mereka justru memaksa setiap muridnya untuk pandai matematika dan ekonomi. Lalu kemudian diadakan olimpiade untuk kedua hal tersebut. Pemenangnya mendapat gelar murid teladan. Klise.

Bukankah tidak ada satu bidang untuk semua orang? Semua orang adalah unik dan memiliki ketertarikan pada hal yang berbeda beda. Standarisasi akademis sering memaksa kita sebagai murid menjadi tidak memiliki pilihan lain untuk menuangkan prestasi. Semua dipukul rata. Dan kita harus melakukannya.

Masa SMA saya adalah masa dimana pembelajaran menjadi tidak penting. Kenapa? Karena saya saat itu sudah tau apa yang saya ingin lakukan dalam hidup saya. Saya ingin jadi seorang musisi. Titik.

Namun justru di masa itu, masa yang menurut saya adalah saat yang sangat krusial untuk memilih kemana kita akan berjalan dan melangkah, justru sering di sesatkan ke arah yang sama sekali lain dan bertolak belakang dengan keinginan kita. Beruntung saya adalah anak yang keras kepala dan nggak suka diatur kalo menurut saya anjurannya nggak logis. Jadi ini membuat saya bergelut untuk tetap melakukan apa yang saya mau. Apapun taruhannya saat itu.

Kepala sekolah saya saat itu adalah orang yang memiliki apresiasi seni yang tinggi. Saya senang sama beliau. Namanya Pak Cecep. Orangnya sangat suportif. Beliau mengadakan ensemble gitar dan tari. Sungguh saya merasa senang saat itu. Namun entah kenapa kegiatan itu berhenti. Mungkin dianggap tidak bermanfaat untuk prestasi akademis oleh dewan yayasan sekolah saya saat itu. Berakhirlah kegiatan tersebut. Kegiatan satu satunya dimana saya bisa merasakan kesenangan dan gemilang ketika melihat dan melakukannya.

Dan atas izin Pak Cecep juga saya dan teman teman bisa membawa nama sekolah saya ke festival musik antar sekolah dan memenangkannya. Sungguh sebuah momen yang menurut saya saat itu sungguh berharga. Ketika saya dan teman teman di panggil kedepan saat upacara hari Senin dan diberikan selamat langsung diiringi tepuk tangan dan sorak sorai satu sekolah, momen itu tidak pernah saya lupakan.

Namun di akhir semester, yang nampak hanyalah eksekusi dari studi studi standar seperti IPA dan IPS. Tidak nampak penghargaan atas usaha saya dan teman teman membawa nama baik sekolah dalam bidang seni. Bahkan seni pun tidak masuk dalam daftar mata pelajaran. Sungguh memilukan.

Lalu ketika kita selesai menunaikan pendidikan di SMA, kita langsung dihadapkan dengan kenyataan “Memilih Jurusan Kuliah yang Baik dan TIDAK SALAH PILIH.”

Bagaimana mungkin!?

Selama masa pendidikan 12 tahun kita tidak diberikan pilihan untuk melakukan ketertarikan di bidang masing masing. Ada yang suka otomotif, olahraga, musik, teater, tari, bahasa, namun jarang sekali ada penyuluhan untuk hal hal tersebut. Yang ada hanyalah ekstrakurikuler. Hal yang menjadi jalan hidup kita hanya dijadikan sebuah ‘ekstra’. Ironis.

Tidak heran banyak sekali orang yang ‘terpaksa’ masuk jurusan jurusan umum seperti ekonomi dan komunikasi. Bagus kalo memang mereka mau masuk sana, tapi realitanya adalah mayoritas orang yang mendaftar jurusan itu bukan karena memang mereka mau, tapi karena alasan klise “Ya daripada gue nggak kuliah?”

Dari tekanan pendidikan 12 tahun lalu kemudian dalam waktu kurang dari 6 bulan kita sudah harus menentukan arah hidup? Brillian.

Mungkin memang ada anak anak teladan yang sah sah saja dengan semua ini, tapi saya nggak mewakili mereka. Saya mewakili saya sendiri, dan kalian yang mungkin berpikiran sama dengan saya. Bahwa ada hal hal lain diluar pendidikan formal yang menjadi tujuan hidup kita namun tidak mendapat perhatian dan dukungan dari pihak yang memiliki andil besar dalam pendidikan kita, yaitu Sekolah.

Sekolah sebenernya nggak buruk. Sistemnya aja yang udah harus berubah. Mereka harus bisa lebih interaktif dan reaktif terhadap bakat dan keunggulan tiap tiap siswa secara individu. Kalau sekolah msih terus main pukul rata bodoh dan pintar berdasarkan mata pelajaran. Maka selamanya jebolan pendidikan dasar di Indonesia tidak akan memiliki potensi berkembang.

Semoga semua perubahan dan perkembangan ini bisa terealisasi.

Jadi nggak ada lagi murid murid yang nge tweet..

“Tujuan untuk sekolah tuh cuma untuk bergembira mendengar bel istirahat dan bel pulang.”

Selama mereka masih berpikiran seperti itu, berarti ada yang salah dengan sistem di sekolah tersebut.

“Its not our fault for being an education dissidents and disdain the academics, its their responsibility to make the grade based on our personal interest. Its your future not them.” -Iga Massardi-

"We don't need no thought control. No dark sarcasm in the classroom. We don't need no education." Pink Floyd - Another Brick in The Wall

Advertisements

PITCHBLACK

Saya sekarang lagi butuh yang namanya tuner.

“Tuner itu apa kak?”

“Tuner itu alat untuk menyetem gitar. Biar nggak fals nadanya.”

Nah merk tuner yang saya mau adalah KORG – Pitchblack. Sebuah alat yang simple namun sangat bermanfaat.

“Terus kenapa nggak dibeli kak?”

“Karena saya masih harus nabung buat beli Tank. Buat ngancurin pangkalan angkot.”

Untuk gitaris, yang namanya main gitar fals itu sungguh memalukan. Apalagi kalo sampe si gitaris nggak sadar gitarnya itu fals. Bencana.

Saking concern nya saya sama masalah gitar fals ini, sepertinya saya akan melayangkan surat kepada MUI untuk mengeluarkan fatwa bahwa memainkan gitar yang fals adalah HARAM hukumnya.

“Ih nggak penting benjet deh kak..”

“Penting kaleeee..Kalo yang sepele kaya bonding dan pre wedding aja diperkarain, kenapa gitar fals nggak?”

***

Gadget Anti Haram

JAYA

Semalem saya dan band pop kreatif saya (The Trees and The Wild) main di acara SuperBad yang bertempat di Jaya Pub. Saya emang suka sama tempatnya, bar vintage gitu, kalo menurut saya. Jadi begitu masuk berasa banget suasana 80 an. Dan pelayan serta bartender nya juga udah tua tua gitu, jadi nggak ada atraksi gaul seperti lempar2 botol. Tapi si bapak yang jadi bartender itu aura nya lebih ‘bad ass’ daripada bartender muda yang hobinya lempar lempar botol. Salut!

Yang main pertama itu The Modest, kalo menurut pendengaran saya. Mereka musiknya bagus. Minimalis dan danceable gitu. Ada serpihan musik dari The Whitest Boy Alive dan The Clash. Ini sih menurut saya ya.. Dari segi rhythm antara bass, gitar, dan drum terdengar cukup solid. Tapi somehow saya merasa agak kurang pas sama vokalnya. Tapi ini menurut saya aja. Hehehe.

Lalu yang kedua main itu Bangku Taman. Ini juga seru, terasa sekali aura British nya. Sayang gitarnya nggak terlalu kedengeran, tapi overall lagu lagu mereka sangat singalong. Dan lagu terakhir saya ikut bersorak dan bertepuk tangan. Menyenangkan!! πŸ™‚

Dan tibalah saya dan teman teman naik ke atas panggung. Setelah cek kilat instrumen, kami mulai menyapa penonton dan mengucap terimakasih kepada Indra Ameng dan Keke. Penonton yang hadir malem itu juga seru sekali. Rame dan penuh sorak sorai.

Kami memulai lagu pertama yaitu Berlin, disusul dengan Malino dan Our Roots. Semua berjalan baik walau ada kesalahan kesalahan kecil kaya chord gitar yang keselimpet dan sound yang naik turun, tapi sepertinya saya dan kawan kawan nggak perduli. Karena memang atmosfer Jaya Pub saat sudah sangat menyenangkan.
Lalu kami menyambung Our Roots dengan Irish Girl, selalu seru ketika memainkan Irish Girl. Karena memang lagunya rame dan bisa teriak teriak.Hehe. Irish Girl selesai kami lanjut ke Derau dan Kesalahan. Sebuah lagu yang ritme nya berubah ubah. Dan sempet di satu bagian gitar saya entah kenapa mati selama 2 detik. Innu sang additional drummer mengalami blank sejenak bersama saya diatas panggung. Sempet terjadi miss di ending part tersebut dimana memang hanya saya dan Innu yang bermain. Namun akhirnya kami berdua tertawa dan lanjut ke part berikutnya. Sebuah part akhir yang penuh dengan ledakan energi. Energi positif yang coba kami salurkan ke semua orang yang menyaksikan The Trees and The Wild saat itu. Semoga ini berhasil. πŸ™‚

Akhirnya set list pun selesai. Penonton meminta encore. Lalu kami memainkan The Noble Savage. Versi yang kurang bagus karena beberapa kali chord nya keselimpet. HE HE HE. Tapi akhirnya lagu bisa selesai dengan baik. Dan kami semua senang malam itu.

Acara selesai dan kami ngobrol sebentar bersama teman teman yang hadir disana malam itu. Berpamitan ke Ameng dan Keke, beres beres alat, masuk ke mobil. Dan saya tertidur dalam perjalanan pulang.

Terimakasih untuk semua yang dateng ke Jaya Pub tadi malem.. πŸ™‚

PAPA ROCK ZOMBIE

Sebenernya judul diatas biar dikira serem aja.

Saya mau berbagi cerita tentang sebuah momen yang cukup membuat saya tertegun. Dan ini nggak ada hubungannya sama zombie.

Beberapa waktu lalu saya dan band grindcore saya (The Trees and The Wild) bermain di sebuah event yang diadakan oleh sebuah majalah musik ciamik yaitu Rolling Stone. Pada acara tersebut, kami berbagi panggung dengan The Alastair, Efek Rumah Kaca, dan The Flowers.

Seperti biasa acara musik berlangsung dengan gegap gempita. Dibuka oleh The Mighty VJ Soleh Solihun yang kerap membuat usus tegang akibat lemparan humor pendek yang mematikan. Banyak yang dateng. Dan untuk edisi ini yang dateng cantik cantik. Saya sampe masuk angin gara gara kelamaan mangap ngeliat wanita wanita yang ada. Juga bertebaran beberapa selebritis. Untung nggak ada infotainment. Karena saya lagi males ditanyain soal saya dan Luna Maya.

*Flashback -> Percakapan saya dengan salah seorang personel Rolling Stone beberapa jam sebelum acara..

Saya : Nanti ERK jadi manggung?

Hasief : Belum tau, hehehe..

Saya : Hehe, Ok.

*Back to the future

Saat itu Cholil sang vokalis dari Efek Rumah Kaca sedang menghadapi hari kelahiran anaknya. Yang emang kebetulan hampir bebarengan sama jadwal manggung ERK di Rolling Stone.

Kalo saya mungkin udah nggak kepikiran bakalan manggung ketika nanti istri saya mau lahiran. Namun Cholil, saya salut sama anda. Masih bisa bernyanyi dengan intens walau dalam keadaan yang menurut saya cukup genting. Terlepas dari apa yang anda pikirkan saat dipanggung, saya merasa performa anda sebagai vokalis yang sedang menunggu kelahiran si jabang bayi adalah hampir tanpa cela. Maknyus!

***

Sekarang, salah seorang sahabat saya di The Dissidents juga sedang menunggu kelahiran jabang bayi nya. Ia bernama Pak Susan. Aneh ya? Pak tapi namanya Susan. Nama sebenernya itu Susan Agiwitanto. Ya pokonya gitulah. Kalo kurang jelas langsung hijrah ke http://www.suaratika.com saja untuk mengetahui sosoknya lebih lanjut.

Si Susan juga baru saja melakukan manuver yang menurut saya agak gila juga. Dia memutuskan untuk berwirausaha dan melepas pekerjaan lamanya di kantor di tengah keadaan yang genting. Yaitu sang istri yang hamil 9 bulan. Tinggal menunggu waktu bersalin dalam hitungan minggu. Namun dengan berani dan yakin dia membuat keputusan yang di mata sebagian orang itu akan menimbulkan pro dan kontra. Cabut dari kantor, dan buka usaha sendiri. Berani!

***

Kedua orang diatas adalah calon Papa paling Rock n Roll menurut saya.

Tanpa harus berada seminggu di Bali,

tanpa harus nggak pulang dan nggak bawa uang,

dan tanpa harus pengen jadi Bon Jovi (rocker yang sayang istri).

Mereka adalah dua orang yang berani mengambil keputusan penting di saat yang genting. Saya pribadi menyatakan salut sama mereka berdua.

Saya doakan kalian berdua sukses dan mampu jadi Papa yang paling Rock untuk keluarga.

AMIN!

ini hamster saya yang sekarang jadi zombie

Mari Masuk

Spada!

Mungkin kata sapaan itu tidak terlalu akrab di telinga kita. Yang lebih sering saya denger sih kalo orang mau pamit masuk rumah temen atau kenalan, kata yang digunakan untuk sapaan adalah Assalamualaikum, permisi, ketrek ketrek gembok, ketok pintu, -atau yg lebih sembarangan- manggil nama yang punya rumah.

Oiya juga ada satu lagi cara yang lebih mutakhir dan efektif -> nelfon orang yang mau ditemuin dan bilang : “Gue udah di depan sob!”

*Sebutan ‘sob’ bisa diganti jadi nyet,jek,yank,say,coy,cap,cay,dll sesuai kondisi kejiwaan yang manggil saat itu.

Saya punya cerita tentang temen yang sopan santun nya sangat kurang. Saking kurangnya sampai sampai saya merasa bahwa dia berbakat jadi rampok, soalnya kalo masuk rumah orang slonong boy aja nggak kenal permisi. Pernah satu kali dia dateng kerumah saya membawa mobil barunya, Honda CRV waktu itu. Emang rada sombong sih anaknya, tapi baik. Saya sering diundang makan siang kerumahnya (lebih tepatnya saya sih yang memaksa dia untuk mengundang saya).

Jadi waktu itu ceritanya dia dateng kerumah saya dengan CRV nya, terus sesampainya di depan rumah saya, bukannya masuk baik baik eh ini dia malah klakson berkali kali sambil teriak manggil saya. Sampe orang orang rumah saya juga kesel. Saya pun kesel. Kesel banget malah. Lalu entah kesambet setan darimana, saya bergegas menuju keluar sambil mengambil puntung rokok bapak saya yang masih nyala dan sesampainya di depan jendela CRV saya sentil puntung rokoknya sampe masuk ke mobil temen saya yang norak itu. Dia tentu saja histeris dan heboh di dalem mobil karena puntung rokoknya mendarat tepat di bajunya. Sambil dia panik dan gelagapan matiin puntung rokok, dari luar saya bilang aja

“Makanya kalo masuk kerumah orang tuh yang sopan..”

Setelah itu saya tetep pergi sama dia, dan hampir setengah perjalanan dia ngambek sama saya. Cuekin aja. Kadang orang yang bertingkah emang harus dikasih shock therapy biar ngerti.

Oiya waktu itu saya mau pergi nonton The Eye di Wijaya 21.

***

Sebenernya sampe hari ini saya juga masih sering didatengin temen yang cara pamit masuknya adalah dengan memanggil nama. Agak jengah juga sih. Macem anak SD aja manggil manggil nama. Emang mau ngajak saya maen Nintendo?

Kalo saya pribadi lebih suka bilang Assalamualaikum, permisi, atau kalo suara saya lagi serak serak dinosaurus ya saya telfon aja yang punya rumah. Menurut saya sih masih lebih baik daripada teriak  depan rumah orang manggil nama yang punya rumah.

Tapi tergantung siapa yang manggil juga sih sebenernya..

Kalo yang manggil Zooey Deschanel pake Toa Mesjid biar tengah malem juga bakal saya ladenin dengan ikhlas.

Igaa! Igaaa!! Aku dah di depan nih!!


Telepon Cinta

Di tulisan sebelumnya saya menyebut tentang sandiwara audio di Trax FM bersama Mentari sang produser. Cerita dalam sandiwara tersebut adalah tentang cowok posesif yang selingkuh. Bener bener topik yang brengsek. Semua orang terpingkal gila gilaan. Termasuk saya, yang berperan menjadi si cowok posesif dan Mentari si menjadi si cewek melankolis penuh curiga.

Lalu barusan saja saya inget sebuah momen ketika saya SMA dulu. Tepatnya saat itu saya kelas 3. Jadi ceritanya begini.. Saya punya temen sekelas, namanya Maria (bukan nama sebenernya) (walaupun sebenernya nggak ngaruh juga kalo ini nama yang sebenernya atau bukan,karena anda kan nggak tahu juga siapa dia sebenernya..Ah sudahlah.)

Lanjut!

Jadi si Maria ini adalah mahkluk yang duduk tepat dibelakang meja saya. Anaknya baik, dia suka bagi bagi makanan kalo dipaksa. Dan nggak jarang juga sering menyelamatkan saya dengan memberikan lirikan maut guna memberikan kode jawaban ketika ujian mendadak dan saya belum sempat belajar (sebenernya saya emang nggak pernah menyempatkan diri untuk belajar juga sih..)

Berbulan saya melewatkan waktu bersama bersama Maria (sumpah ini bukan nama sebenernya). Dengan berbagai kelakuan zalim saya terhadapnya dia tetep sabar menghadapi saya dan terus men supply makanan makanan enak ketika istirahat. Namun… Ternyata eh ternyata..

Maria memiliki kejanggalan.

Saya tahu bahwa saat itu dia sudah punya pacar. Sering saya memergoki dia sedang asyik sms an, telfon telfonan, dan kirim kiriman MMS sambil kayang. Ya itu semua terlihat wajar buat saya. Hari demi hari pun berlalu. Saya sebagai anak SMA haus gosip tentu saja nanya nanya ke si Maria tentang si cowok ini. Sebut saja namanya Iskandar (sebenernya saya lupa namanya siapa, jadi kita sebut aja Iskandar). Si Iskandar ini katanya adalah anak kuliahan. Dan mereka sudah jalan pacaran hampir 6 bulan. Kalo saya liat dari gaya pacarannya sepertinya dua sejoli ini normal normal aja. Kadang seneng kadang berantem. Yaaah biasa aja lah. Semuanya terlihat normal, sampai kemudian saya bertanya sama si Maria..

“Mar, si Iskandar orangnya kaya gimana?”

Lalu Maria menjawab..

(dengan logat Shireen Sungsang, eh Sungkar)

“Yaa gitu deeeee..”

“Gitu deeee gimana?” tanya saya.

“Yaa gitu deeeee..”

“Yaelah elo. Ama gue aja rahasia rahasiaan” saya udah agak eneg.

“Yaa gitu deeee..”

Saya eneg beneran. Muntah.

Maria emang mengidap sindrom YGTD. Sebuah sindrom penyakit kebanyakan makan bubur sumsum.

Terlihat janggal memang, perjalanan cinta antara Maria dan Iskandar sepertinya normal normal saja. Namun mengapa ketika saya bertanya tentang ‘ketemu dimana’, ‘rumahnya dimana’, ‘kalo jalan kemana’ jawabannya selalu YGTD? Kecurigaan saya makin berlanjut. Layaknya wartawan Insert, saya mulai menelisik tentang sosok Iskandar.

Hari pun berlanjut, dan analisis saya makin menajam. Bukti bukti kuat mulai muncul ke permukaan. Dan akhirnya setelah pertanyaan demi pertanyaan saya lontarkan bertubi tubi kepada Maria akhirnya saya menemukan benang merah dan dapat menarik sebuah kesimpulan. Sebuah kesimpulan mengejutkan yang menohok akal dan pikiran umat manusia. Bahwa sebenarnya..

Selama mereka berpacaran lebih dari 6 bulan.

Maria dan Iskandar..

Belum pernah bertemu satu sama lain.

To be continued..

Immediately.

Ya, ternyata semua kecurigaan saya kini terbukti sudah. Kenyataannya adalah kisah cinta antara Maria dan Iskandar hanyalah fiktif. Mereka tidak pernah bertatap muka. Jadi sarana mereka memadu cinta hanya via telfon dan sms saja. Dan untuk MMS, ternyata yang dikirim adalah ucapan “goodnight darling” yang dirangkai lewat smiley smiley yang bisa kedap kedip. Sungguh saya terkejut bukan main. Mereka bisa mendeklarasikan bahwa mereka berpacaran cuma lewat telfon dan sms aja?? Sungguh gila. Bahkan buat orang seperti saya.. Ini sungguh kegilaan yang tidak masuk akal sehat (?)

Lalu dengan segenap iman yang tersisa, saya bertanya kepada Maria.

“Trus lo ketemu si Iskandar dimana?” tanya saya.

Dan kemudian logika saya kembali di hujam dengan jawaban yang terlontar dari bibir Maria.

“Umm.. gue ketemu dia di..” Maria nampak ragu.

“Dimana Mar?? Dimana!?” Saya mulai histeris.

“Umm..” Maria masih ragu.

“Umm..”

“Di..”

“MiRC”

Saya terpaku.

Dan terdiam seribu bahasa.

***

EPILOG


Cinta adalah zat yang terindah yang tercipta bagi manusia yang mencari.. KAMPRET!

Buat gue sih pacaran model begini nggak masuk akal! gila apa maen slonong boy aja nggak pale ketemu muka. Macem ntar tau tau jadian sama sodara sendiri kan nggak lucu (pengalaman temen sendiri, dan sumpah nggak enak banget rasanya).

Tapi semua itu balik lagi ke diri sendiri juga sih. Ya mau pacaran sama siapa juga boleh, yang penting seneng.Tapi ya mbok jangan gini gini amat toh, masa sampe ndak ketemu muka? Pokoknya untuk anda anda yang sekiranya mau memulai untuk menjalin hubungan, coba dipikir dan lakukan baik baik dan normal seperti umat manusia pada umumnya. Kecuali kalo emang kisah cintanya idealis yo wiss nggak papa. Mau pacaran 1 tahun pake topeng Sinchan misalnya. Boleh juga itu. Lucu juga kok.

***

Gue sampe sekarang belom ketemu si Maria lagi. Jadi nggak tahu gimana kabarnya dia dan si Iskandar sekarang. Apakah masih pacaran ato malah udah nikah?

Gue rasa kalo nikah ijab kabulnya bakal conference pake Yahoo Messenger.

-TAMAT-

Jejogetan

Hari ini saya dan band death metal saya (The Trees and The Wild) baru saja menyelesaikan dua buah interview di radio. Satu di Hard Rock FM dan satu lagi di Trax. Sungguh sebuah interview yang menyenangkan. Karena di Hard Rock ternyata saya bertemu dengan teman lama yaitu Mario Patrick. Sesi interview juga menyenangkan bener. Penuh dengan canda tawa dan sedikit aniaya. Tentu saja korban penganiayaan tidak lain tidak bukan selalu Andra Budi Kurniawan. Pertanyaan pertanyaannya juga lucu lucu. Kami juga main live beberapa lagu, yah walaupun nggak rapih rapih amat tapi kami seneng. Kami berharap yang denger nggak masuk angin aja.

Setelah itu kami lanjut ke Trax FM. Radio sarang bandit. Tak usah disebut lah siapa banditnya, nggak enak sama sama Tyo dan Ressi. Nah kegilaan sudah bermulai bahkan jauh sebelum interview di mulai. Saya, Mentari, Tami dan Teguh bermain sandiwara audio dengan efek vokal yang ada. Dari pura pura jadi WTS, germo, orang pacaran, cowok posesif, sampe orang selingkuh. Itu semua dilakukan dengan menggunakan efek vokal, jadi suara nya ganti ganti dari suara robot sampe suara Alvin Chipmunks. Silahkan dibayangin sendiri..

Akhirnya sesi live pun dimulai. Kami main lagu pertama yaitu… Itu… Itu.. Aduh apaan ya? Berlin kalo nggak salah. Nah iya si Berlin. Setelah selesai main berlin, sebenernya kami juga nyanyi lagu lagunya Bon Jovi. Tanpa sadar bahwa ada kamera webcast yang berjalan merekam semua ketololan kami. Untung audio nya nggak on air. Kalo iya mungkin besok Trax gulung tiker.

Abis selesai live, baru kami tau bahwa daritadi semua gerak gerik kami terekam oleh kamera. Bukannya kapok, justru noraknya makin menjadi jadi. Tentu saja tidak etis menunjuk siapa yang paling norak diantara kami. Bisa dilihat siapa yang joget paling lama tadi di sana. Untuk yang tadi nonton webcastnya pasti tau siapa yang saya maksud. HA HA HA.

Selesai itu, kami melakukan lagu terakhir yaitu Irish Girl. Dengan sebelumnya ada sesi wawancara dengan si Alvin chipmunks. Sayang dia pulang duluan tadi, nggak sempet kongkow bareng (woooelaah kongkoooow…)

Kami tadi sempet ngobrol ngobrol bareng bersama dengan warga Trax. Becanda becanda muda mudi. Melepas tawa murahan. Oiya dan kami juga sempat merekam jingle untuk Club Sky, jadi silahkan di dengarkan ya. Kalo bisa tau yang mana jinglenya, tulis di comment ya. NantiΒ  saya kasih hadiah deh. Hadiahnya doa lancar jodoh. Gimana? Ok kan?

Dan kloter TTATW pun akhirnya pulang. Dalam perjalanan pulang saya ngerasa senang sekali hari ini. Setelah beberapa hari merasa buntu inspirasi akhirnya sekarang pikiran bisa seger lagi. Alhamdullillah.. πŸ˜€

Terimakasih untuk semua orang yang tadi udah ngebantuin The Trees and The Wild interview. Terimakasih untuk Hard Rock FM dan Trax Fm beserta penyiar dan produsernya, Molen, Rio, Bayu, Mario, Ressi, Tyo, Nasta. Dan untuk anda yang tadi udah sudi dengerin kami dan bahkan tega menonton semua keluguan kami didepan kamera. Tararengkyu beraat!!

Oh iya.. beberapa tweet untuk TTATW dan saya pribadi yang barusan saya baca. Sepertinya banyak yang mengira kami ini orang orang yang serius. Kami berharap semoga persepsinya tetap menjadi seperti itu ya. Jangan bocorin ke temen temen kalian bahwa kami ini sebenernya norak, banci kamera, dan hobi main Dance Dance Revolution. Ok? janji ya?

πŸ˜€