Kind.

Be kind.

For once.

Life.

Supposed to be.

Kind.

Advertisements

Writer’s Block.

Ketika ditanya, gimana caranya bikin lagu yg bagus?

Saya juga nggak punya jawabannya. Kita sama-sama tersesat, sama-sama bingung.

Saya selalu merasa insecure, tidak yakin, takut dan muak pada titik tertentu dalam proses penciptaan karya. Ketika inspirasi itu tak kunjung datang dan kita hanya menunggu, berusaha, gagal, menunggu dan kembali ke titik nol.

Pillihan lirik yang terdengar konyol, nada yang muncul terasa murah dan warna musik yang serba abu-abu adalah makanan sehari-hari.

Saya terbangun dengan keadaan gelisah yang berkecamuk setiap pagi. Apa yang mau saya tulis hari ini? Apa yang mau saya buat? Bagus nggak? Enak nggak?

Every. Single. Day.

Namun dalam lubuk paling dalam, keadaan ini menyalakan satu bohlam kecil di hati saya. Bahwa apa mungkin ini yang saya butuhkan? Perasaan tersesat, bingung dan takut ini yang akan membawa saya ke satu tempat baru yang belum pernah saya kunjungi.

Kita selalu bisa melakukan hal yang sudah kita tau. Melewati jalan yg sudah kita hafal, berkendara lewat rute yang biasanya. Saking pahamnya, lantas kita juga sudah bisa tau hasil akhirnya.

Ini adalah perasaan nyaman. Perasaan aman yang tidak menarik.

Ketebak.

Bertualang memang penuh dengan kengerian. Tapi berjalan dan meniti hutan sendiri untuk menuju ke tempat baru selalu lebih memuaskan dibanding menapaki yang sudah dilewati.

Pagi ini saya masih meniti. Menyalakan gitar dan mencoba membuat lagu. Apakah nada ini akan sampai tujuan? Atau malah tak tentu arah?

Persetan.

Ayo menulis lagi.

Legenda Menuju Ajal

Mengenai Gibson yang menuju bangkrut.

Menurut saya ini fenomena yang menarik banget. Satu dari dua buah brand gitar terbesar menuju akhir hayatnya. Banyak artikel yang melihat dari sisi bisnis dan menyorot sang CEO Henry Juzskiewicz. Tapi kalo dari kacamata sederhana saya, Gibson terjebak di zamannya.

Sebagai pembanding, kita lihat Fender atau Ibanez. Saya kaget melihat Nick Reinhart (Tera Melos) dan Mac DeMarco dalam video seri terbaru Fender, American Professional. Perusahaan sebesar ini aware terhadap para emerging artist yang sedang panas namun berada di bawah radar, the so called ‘indie artist’ yang kiprahnya relevan terhadap generasi sekarang. Fender mengikuti zaman tanpa kehilangan identitasnya.

Ibanez, menggaet Omar Rodriguez (The Mars Volta) sejak 2008. Seorang roster yang sangat mencolok di antara Herman Li, Paul Gilbert, Joe Satriani, dll. Sebuah manuver yang peka terhadap zaman dan segar untuk citra Ibanez. Pelebaran produk dari gitar virtuoso, menjadi sesuatu yang cutting edge. Terlebih sekarang mereka baru aja mengajak Tom Quayle (Youtube demo guy) sebagai salah satu endorsee dan dibuatkan signature series.

Sekali lagi, manuver yang relevan.

Kembali ke Gibson. Slash adalah orang pertama yang terlintas di kepala saya ketika menyebut Les Paul. Gitaris keren, jago, luar biasa di masanya dan masa sekarang. Tapi let’s face it. Slash adalah ikon legenda 90an. Tidak ada yang salah dengan itu. Yang salah adalah kita nggak melihat Gibson dipake oleh musisi-musisi era sekarang yang di-support langsung oleh perusahaan ini. Saya ingat betul di salah satu edisi Guitar World dalam artikel Avenged Sevenfold, sang gitaris Synester Gates berkata “They’re a bit late in the game” ketika membahas soal endorsement deal. Akhirnya Ia bekerja sama dengan Shecter dan hasilnya sukses besar. Gibson tidak menyadari hal ini.

Apakah poin saya sudah cukup jelas?

Gibson adalah salah satu gitar terbaik sepanjang masa. Nggak perlu diperdebatkan. Yang saya bahas adalah brand image, kalo kualitas produk itu cerita lain.

Inti dari tulisan ini adalah gimana sebuah brand survive dari masa ke masa. Bagaimana mereka beradaptasi dan menjadi tetap relevan di tiap generasi. Legacy tentu harus dijaga sebagai integritas produknya, tapi penting untuk disadari bahwa mengikuti trend adalah manuver yang krusial untuk kelangsungan hidup sebuah perusahaan.

Ngerti ora Son?

– I.M

Menuju.

Sembilan jam lagi saya akan duduk dalam pesawat yang bertolak ke Hong Kong. Saya akan pergi selama sepuluh hari meninggalkan Kiara, Risa dan bayi di dalam perutnya. Menuju California.

Perjalanan ini seharusnya menyenangkan dan sangat seru. Tapi saya merasa berbeda dari tahun lalu. Entah karena Kiara yang semakin besar dan semakin mudah dirindukan atau memang seiring usia saya makin melankolis. Mungkin keduanya. Meninggalkan keluarga dalam waktu yang lama tidak pernah terasa mudah, kemanapun tujuannya.

NAMM Show 2018 adalah surga dunia buat mata saya namun kadang batin berkata lain. Saya tidak sedang menyesali apapun, hanya berbagi gundah aja. Terimakasih untuk anda pencipta Whatsapp dan teknologi video call, kini jarak bisa dikompensasi.

Selalu begini, pikir saya. Setiap hendak bepergian jauh dan meninggalkan rumah yang kini sepi hanya sayup-sayup suara mesin elektronik rumah tangga. Selonjoran di sofa sambil merenung dan berusaha menyerap energi semesta agar tetap bersemangat. Mungkin ini yang saya butuhkan. Mungkin..

Apapun itu, saya bersyukur atas kesempatan ini. Semoga bisa menjadi pengalaman baik yang menyenangkan. Saya butuh ide dan inspirasi untuk menyelesaikan album Barasuara. Sepertinya California adalah tempat yang tepat untuk menggali kreatifitas. Naif banget tapi gak pernah salah untuk berharap.

Mata mulai mengantuk, tapi rasanya tak ingin terpejam dan melewatkan pandangan dari wajah pulas anak istri yang sudah terlelap. Indah dan menenangkan.

Berangkat yuk.

ULASAN ALASAN Vol.1 : COCO

COCO film yang bagus. Saya lumayan nahan air mata di beberapa adegan terakhir. Banyak pesan soal keluarga yang sederhana namun sangat dalam dan bermakna. Bagaimana mengenang orang tua dan bagaimana mereka ingin dikenang.

Dulu guru saya pernah cerita bahwa orang yang sudah meninggal akan diliputi kegelapan ketika Ia tidak lagi didoakan oleh keluarganya. Doa anak, doa orang tua, doa kerabat dan sanak saudara adalah pelita untuk mereka yang sedang berjalan di alam sana.

COCO membungkus ranah spiritual ini dengan cara yang dramatis tanpa menabur kalimat-kalimat klise yang mudah ditebak seperti yang disajikan film pendek pembukanya. Sudah lama, membosankan, corny pula.

Konflik umum yang kerap terjadi antara anak yang mendobrak tradisi keluarga, orang tua kolot yang memaksakan kehendaknya hingga kekecewaan serta pergelutan batin sarat dalam film ini. Yang saya salut, penyampaiannya begitu sederhana dan mengena. Dialog-dialognya tepat guna.

Mengenai gambar, tak perlu komentar panjang soal Pixar. Detail, warna, movement dan ekspresi tokoh semua top notch 5 bintang dari 3.

Overall film ini akan sangat berdampak untuk pribadi yang menempatkan keluarga sebagai tonggak utama. Sangat layak untuk ditonton.

Selamat menyaksikan.

SESUAI TAKDIR

Semalem saya ketemuan sama temen-temen nongkrong saya di Bekasi. Ada Jaki, Yai, Jamtong dan Bu Le (istrinya Jamtong) kami sudah berteman sejak SMP. Jadi memang temen dari bocah semua. Dari jaman nongkrong dan mabuk di warung sampai hari ini udah pada jadi bapak-bapak.

Kami emang suka ketemuan di sekitar Bekasi, selain karena hometown juga karena deket dari rumah. Semalam kami makan di Soto Betawi Haji Mamat. Obrolan yang terjadi seputar membahas kelucuan sesama spesies Bekasi yaitu teman kami yang lain, politik tiang listrik sampai rumah tempat hunian. Proses ngobrolnya, ada aja yang diobrolin. Faktor kenal sejak dini merupakan penentuan penting tentang basi atau tidaknya sebuah pertemuan. Dan untungnya seperti biasa, acara kumpul kami selalu penuh gelak tawa dan caci maki. Yah, sekarang pilihan katanya udah agak alusan sih dibanding jaman dulu.

Satu hal yang seru dibahas semalem adalah tentang proses gimana kami sebagai laki-laki mengeksekusi hal-hal macho seperti : maku tembok, masang ambalan, ngebor dinding sampe benerin kunci dan masang selang mesin cuci. Saya dan Jaki kebetulan membeli bor elektrik. Kayaknya udah macho banget sampe di situ. OK, selanjutnya kami bercerita tentang proses pasang memasang. Dari ngegantung cermin sampe maku tembok tetangga.

Ga ada yang salah sih sebenernya, tapi ada yang gak tepat aja. Saya pada awalnya seneng banget ngebor tembok untuk masang ambalan, Jaki juga. Tapi kemudian kami menyadari satu hal penting. Gini, ketika kami masang apapun itu paling enggak makan waktu 20-30 menit plus marah-marah dan kesel entah karena hasilnya gagal atau berhasil namun berantakan.

Kalo saya kebetulan ada asisten rumah tangga yang pulang pergi yang kebetulan suaminya adalah seorang tukang bangunan. Nah, ketika saya udah marah-marah karena gagal masang sesuatu biasanya saya kontak Mas Siam to the rescue. Hasilnya? Kalo saya masang selang mesin cuci makan waktu 30 menit plus mencak-mencak, Mas Siam dengan tenang dan penuh dengan aura Zen menyelesaikan itu semua dalam 20 menit sekali jalan tanpa banyak cingcong.

GOKIL.

Yah akhirnya saya menyadari satu hal lagi di dalam kehidupan ini. Memang sebagai kepala rumah tangga kita dituntut untuk bisa mengerjakan banyak hal menyangkut apa yang terjadi di rumah. Tapi ternyata gak semua orang diberkahi bakat dan kesabaran untuk melakukan itu semua. Kalo saya menyadari point pertama ini dan sisanya sih sebenernya bisa2 aja harusnya yaaaaaa cumaaaaaannnnnn maaaaagerrrrrrr.

Contoh ; saya punya temen namanya Dono, dia bisa benerin bemper mobil, MCB listrik sampe bikin pager rumah. Daan kalian tau pekerjaan utamanya apa? Pemain saxophone. Brengsek kan? Ada aja manusia titisan McGyver begini. Kebetulan saya diberi berkah bisa main gitar sambil nyanyi, kayaknya mau fokus di situ aja.

ALAAAASAAAAAANNNNNNNNNNNN.

Ya intinya sih gitu ya, kalo saya prefer untuk yaudah nih saya manggil orang yang emang sesuai dengan keahliannya untuk mengerjakan sesuatu. Memang kita akan ngeluarin biaya tapi hasilnya akan bagus dan sesuai ekspektasi. Dibanding saya mengeluarkan tenaga dan emosi namun hasilnya berantakan. Tapi ini kan saya yah, kalo anda tipikal yang bisa kayak si Dono wah mantep banget sih. Syukuri apa yang ada hidup adalah anugrah banget broh.

BTW saya nulis begini bukan berarti 100% anti perkakas ya. Karena selain hobi mengoleksi gitar saya juga hobi ngumpulin obeng dan bor. Yah, untuk sekedar ngerakit lemari dan meja sih bisa. Baru kemaren dipalak istri beli meja kerja sama rak, masang berdua si Kafka (adik saya) 3 jam jadi. MEMBANGGAKAN BUKAN?

Harapannya sih ya, semoga saya dikaruniai banyak kesabaran untuk belajar AH PANGGIL MAS SIAM AJA KALI YE.

BYE!

Eagles of Death Metal – Nos Amis

Nonton Eagles of Death Metal – Nos Amis. Dokumenter tentang penembakan di konser mereka di Bataclan, Paris tahun 2015 dimana 89 orang meninggal akibat serbuan teroris.
 
Cerita tentang perjuangan mental Jesse Hughes sang frontman melawan trauma pasca kejadian tersebut dan keputusan mereka berani kembali ke Paris dalam waktu 3 minggu setelahnya untuk bermain di konser U2 lalu melanjutkan menggelar konser tunggal di Paris setelahnya.
 
Jesse cerita gimana melihat penggemarnya ditembak di kepala tepat di depan matanya. Dan deskripsi pandangan mata personel band yang lain yang tak kalah mengerikan. Ini adalah pembantaian massal di gedung konser.
 
Gw gak akan bisa membayangkan betapa menyeramkannya kejadian itu. Dan apa yang sebenarnya berkecamuk di kepala mereka masing-masing setelah Bataclan. Namun Eagles of Death metal kembali dengan berani. Pembuktian yang luar biasa. Sangat luar biasa.
 
Film ini juga menceritakan tentang hangatnya persahabatan antara Jesse Hughes dan Josh Homme, sang co-creator Eagles of Death Metal yang juga teman kecil Jesse. Besarnya arti persahabatan mereka di kala terpuruk, kemudian kembali berdiri bersama.
 
Para penggemar yang selamat dari tragedi ini juga turut menuturkan kronologi di Bataclan dari sudut pandang yang beragam. Bagaimana itu mempengaruhi hidup mereka pasca trauma dan betapa besar cinta mereka terhadap Eagles of Death Metal dan begitu berartinya dukungan mereka untuk Jesse dkk yang juga sangat mencintai penggemarnya.
 
Dokumenter sarat pesan kemanusiaan ini sangat berarti untuk ditonton semua orang. Sosok-sosok yang bercerita di dalamnya tidak diposisikan sebagai musisi, rockstar atau selebriti. Tapi sebagai manusia yang ketakutan, trauma, kemudian bangkit melanjutkan hidupnya.