Televisi lokal harusnya bisa lebih cerdas. Namun sepertinya mereka terpaksa menutup mata untuk kepentingan bisnis dan terus membodohi masyarakat dengan menjual mimpi yang tidak lebih nyata dari kotoran anjing yang berbau harum.
February 15, 2010 by igamassardi
Televisi lokal harusnya bisa lebih cerdas. Namun sepertinya mereka terpaksa menutup mata untuk kepentingan bisnis dan terus membodohi masyarakat dengan menjual mimpi yang tidak lebih nyata dari kotoran anjing yang berbau harum.
kata anjing harusnya dibold,, hehe,,
Ya betul,namanya juga mereka cari duit
Kita juga harus yang pintar2,biar gak kemakan yg ada di televisi
betul bgt tuh, apa lagi sinetron-sinetron dubbing yg memperlihatkan siluman-siluman aneh, tidak mendidik. hhi
“kotoran anjing yang berbau harum” perumpamaan yg paling pas, Ga!
wew bahasanya agak keras
tapi saya setuju! bener banget postingan anda.
terus nulis inspirasi2 lain ya
Iya, setuju sama mas Iga. Televisi sekarang lebih banyak membawa pengaruh buruk dibandingkan pengaruh baiknya.
Kita mungkin bisa memilah milah mana yang baik. Tapi apa kabar orang yang tinggal di desa? belum terjamah internet?
Sementara harapan informasi mereka hanyalah televisi dan koran lokal, yang disediakan adalah apa yang anda semua lihat sekarang.
Saya menitikberatkan kepada sinteron dan reality show. Nggak usah saya jelasin kenapa. Anda semua pasti ngerti ya toh?
mungkin karna bagi sebagian orang buku masih sebagai barang mewah jadi lebih milih nonton tv.
kalau banyak yang ngerasa tayangan tv ngga mendidik, saran saya sih jangan di tonton lama2 juga stop sendiri itu si sinetron ngga guna dan si reality show berlebihan. program itu akan diproduksi terus selagi ratting tinggi dan peminatnya banyak.
in other words, semua balik lagi ke penonton. berarti yang ada saat ini adalah yang diminati. sama halnya dengan fenomena menjamurnya band melayu dan lagu-lagu cinta melulu *kok jadi ERK* hehe
tahun lalu saya magang di salah satu stasiun TV, memang di divisi news. Tapi bahkan news & magazine pun tetap memikirkan “berita” apa yang membuat rating & share mereka lebih baik. Karena rating & share tinggi sama dengan bonus bagi tim. Ironis.
baru baca, pikiran yang sama! saran gw, tonton tuh TVRI ato elshinta tivi, udah kaya NHK nya jepang, lebih banyak hal bergunanya dibanding sampah2 infotainment dan sinetron
Salah persepsi antara mengibur dengan memberikan hiburan atau pun informasi, ga bisa disalahkan juga, itulah program dalam roda kehidupan komunikasi. Rating tinggi adalah awal permasalahannya.
rating tinggi harusnya nggak jadi masalah. tapi pencapaian ke rating tinggi itu yg harus disikapi. masyarakat bukan orang bodoh kok. nggak harus dibiasain dikasih tayangan2 ndablek terus supaya tetep nonton. ini karena kebiasaan media2 mainstream keparat itu yg bikin orang bukan makin pinter tapi makin dangkal. jaman dulu kita masih di kasih sesame street supaya bisa belajar bahasa inggris. film luar negeri juga masih pake teks. kita dibiasakan utk mikir. sekarang? boro2.. ini sih contoh kecil aja.
sekarang gue pribadi nggak pernah nonton TV.karena menurut gue emang tv indonesia mayoritas acaranya udah nggak patut di tonton. paling kalo ada berita2 penting aja gue baru nyalain.sisanya gue lebih memilih internet atau koran.karena gue bisa lebih bebas memilih info sesuai kemauan gue.
sorry Ndo,gue emang rada emosian kalo ngebahas televisi lokal.hahahah thanks for the response bro
salah satu contoh kecilnya..mengadopsi film luar yg nyatanya MENJIPLAK PLAK PLAK film luar.. sadis bgt! puluha bahkan ratusan film luar gw rasa dijiplak habis kyk kekurangan ide,bikin gw ga habis pikir! ckckck
btw,gw juga salah satu org yg skrg ga lagi2 ntn tv dan jd lebih bergantung sm koran,majalah atau internet..hehe
saya sependapat dgn Iga bahwa yg dikhawatirkan disini adalah org desa dgn sinetron & reality show yg seakan-akan mempunyai zat adiktif bagi mereka. saya percaya kok masyarakat Indonesia cerdas2 dan banyak yg menolak tayangan murahan tsb.
memang sih sinetron itu berdasarkan real life, tp kok semuanya serba nangis2an ya? emg hidup itu susah terus? gmn org ga tambah stress! sekalian aja tayangin video dokumenter org bunuh diri yg wkt itu di Sency!! siapa tau jd inspirasi.
itu yg namanya hiburan? hiburan itu kan identik dgn tertawa, humor. reality show? namanya saja sudah tdk sinkron! it’s all FAKE.
saya pun sedih melihat fenomena anak kecil zaman sekarang yg kesukaan musiknya band2 Nidji, Peterpan, Ungu, dsb. kayanya zaman kita kecil dulu musiknya riang gembira gt deh, macam Chikita Meidy, Joshua, Trio Kwek-Kwek, Maissy, dll. ga ada yg ngelarang sih memang, musik kan urusan selera. tapi kok…seperti tdk ada perbedaan antara anak kecil dgn anak muda yaa, ga ada khas. nanti pas udah besar jd ga ada yg bisa di norak2in atau diketawain kan.
saran saya serahkan saja ke hukum pasar. ada permintaan ada penawaran, permintaan berkurang penawaran berkurang. kita tdk bisa sepenuhnya menyalahkan para pebisnis dunia hiburan yg notabene nya profit oriented. balikkan saja ke diri masing2. kita sbg makhluk sosial yg cerdas akan lebih baik utk berusaha mencerdaskan makhluk sosial lainnya
check this out > http://www.facebook.com/video/video.php?v=1387006078452
Sebuah catatan pendek,tapi NGENA BANGET.Semoga produksi “kotoran anjing yang berbau harum” itu segera berhenti.
You wrote:
“sekarang gue pribadi nggak pernah nonton TV.karena menurut gue emang tv indonesia mayoritas acaranya udah nggak patut di tonton. paling kalo ada berita2 penting aja gue baru nyalain.sisanya gue lebih memilih internet atau koran.karena gue bisa lebih bebas memilih info sesuai kemauan gue.”
Same here. Gw merasa tidak rugi untuk ga nonton tv karena bagi gw, tv beserta tayangan2nya (terutama berita yang terlalu berlebihan) skr malah jadi ‘anger trigger’ buat orang-orang yang nonton. kenapa gw bilang gitu? karena sering bgt gw ngamatin timeline twitter gw yang isinya marah dan maki-maki sebagai respon mereka thd tayangan yg baru ditonton.
Hehehee.. sori ye, nyamber ngomen. The point is I agree with the idea of your writing.
Cheers!
televisi nasional kebanyakan berisi berita2 kacangan seputar kriminalitas kelas teri. bahkan kemaren ketika Alm. Gesang masih hidup, malah dibilang sudah meninggal. GILA. Gila dan bodoh. I share your view Kania. thanks!
Saya adalah mantan interviewer agb nielsen perusahaan data yang bergerak pada rating segala media, terutama televisi. Dan disini saya tegaskan bahwa rating adalah PEMBODOHAN!!